Bulan Agustus selalu mengajak kita mengenang kemerdekaan. Kita bersyukur bangsa ini telah merdeka dari penjajahan, sehingga kita bebas menentukan arah hidup. Namun, di balik kemerdekaan itu, ada satu pertanyaan yang barangkali lebih sunyi: apakah badan kita saja yang merdeka, atau hati kita juga telah merdeka? Sebab tidak sedikit orang yang tubuhnya bebas, tetapi hatinya masih terjajah, oleh ambisi yang tak pernah selesai, oleh keinginan untuk selalu memiliki, oleh hasrat untuk diakui, atau oleh kegelisahan karena hidup tidak berjalan sesuai dengan skenario yang ia susun sendiri.
Mbah Nun memperkenalkan satu ungkapan yang sederhana: hati yang selesai. Hati yang selesai bukan berarti hidupnya tanpa persoalan, bukan pula hati yang berhenti bercita-cita. Ia adalah hati yang tidak lagi heboh oleh macam-macam obsesi dan nafsu, tidak sibuk ribut dengan skenario-skenario individual yang memaksa dunia mengikuti kehendaknya. Ia tetap bekerja, tetap berkarya, tetap berikhtiar, tetapi batinnya tidak mudah diombang-ambingkan oleh apa yang datang dan pergi.
Mbah Nun mengibaratkan hati yang selesai sebagai hati orang tua menjelang maut. Bukan karena usia tua otomatis melahirkan kebijaksanaan, melainkan karena di hadapan kematian segala sesuatu kembali pada ukurannya. Yang dahulu diperebutkan ternyata tidak ikut dibawa. Yang selama ini membuat gelisah perlahan kehilangan arti. Yang tampak besar menjadi kecil, dan yang selama ini luput justru tampak paling berharga. Lalu muncul pertanyaan yang sederhana sekaligus menggugah: mengapa harus menunggu tua untuk memiliki hati seperti itu?
Di hadapan hati yang selesai, kelihatan mana yang sejati dan mana yang palsu, yang abadi dan mana yang sementara, mana yang memang layak dikejar dengan sungguh-sungguh, dan mana yang cukup kita tenang-tenang saja. Mungkin kedewasaan bukan terutama soal bertambahnya umur, melainkan kemampuan menempatkan segala sesuatu sesuai ukurannya.
Perlu sesekali kita bertanya dan meminta fatwa hati sebelum tiba waktu pulang.
Selama ini kita memandang diri sebagai apa? Makhluk jasad yang kebetulan diberi ruh, lalu sepanjang hidup sibuk memenuhi kebutuhan tubuh?
Ataukah kita adalah ruh yang sedang dititipi jasad dan diberikan sedikit waktu untuk beribadah, berkarya, dan menunaikan amanah di dunia?
Mari sinau bareng hati yang selesai. Berlatih menempatkan dunia sesuai ukurannya, bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai bekal untuk pulang.
Mari Melingkar.








