Keluwesan Maiyah selalu melahirkan butiran-butiran ilmu yang tidak pernah berhenti mengantarkan kita memasuki pintu-pintu kemungkinan yang teramat luas. Setiap apa yang hadir dalam lingkaran perjumpaan itu, disadari atau tidak, kerap mengendap menjadi hikmah yang mengiringi langkah kita. Ia muncul seperti gelombang energi yang diam-diam bekerja di dalam diri.
Ada getaran yang mengalir, dan darinya tumbuh kesadaran yang pelan-pelan menuntun arah. Di dalam ruang paseduluran Al-Mutahabbina Fillah, energi itu seperti air—menemukan jalannya sendiri, menelusuri celah-celah sempit yang bahkan kadang tak terjangkau mata. Pada titik itu, pondasi cinta melambari spirit sebagai forum produksi, reproduksi, dan dekonstruksi pengetahuan—yang membuat diri tetap tersambung, tetap nyambung, dan tetap menemukan porosnya.
Sembilan tahun perjalanan Damar Kedhaton telah melalui lintasan-lintasan yang tidak selalu rata. Lika-likunya tidak dapat disebut sederhana. Jalan setapak itu penuh batu, tikungan tajam, titik terjal, dan turunan curam yang tak jarang menguji ikatan paseduluran di antara kita semua. Namun, jalan itu terus diikhtiarkan dan diijtihadi demi merawat warisan samudera-cakrawala ilmu yang dibekali Mbah Nun kepada kita semua. “Istiqamah, ya!” Dhawuh Mbah Nun Desember 2016 lalu. Sejak awal, dinamika pasang-surut adalah kawan perjalanan yang tidak pernah benar-benar dapat ditebak.
Energi cinta itu selalu menemukan takdirnya ketika situasi tak terduga muncul di depan mata. Pandemi Covid-19, misalnya, memaksa perubahan langkah yang taktis-adaptif. Dari sana lahir inisiatif-inisiatif kreatif, salah satunya Bakulan Day: sebuah wahana untuk saling mempromosikan produk dan fadhilah antar sesama jamaah hingga terbangun sinergi ekonomi.
Di masa yang sama, juga terbit inisiasi Lumbung Al Mutahabbina Fillah (LAM-F) ; sebuah ikhtiar beruwujud support system bagi jamaah yang dandange ngguling akibat kelesuan ekonomi di tengah pandemi. Sebagian dulur yang aman ekonominya rela hati mengisi “lumbung” yang bisa diakses dulur yang membutuhkan sekadar untuk memastikan asap dapur masih bisa mengepul dalam rentang waktu setidaknya seminggu. Belakang hari seusai pandemi, gerak LAM-F memfokuskan diri menggarap aspek charity ; menyapa anak yatim di lokasi Telulikuran dan menyangga jamaah yang sedang mengalami sakit atau kedukaan.
“Padatan” lain lagi ialah Merchandise DK (Merch-DK). Sebagian dulur mengkhidmahkan diri mengelola proses produksi hingga penjualan segala pernak-pernik merchandise Damar Kedhaton. Aneka barang seperti kaos, topi, korek api, kalender dan macam-macam lainnya telah dilahirkan dengan memanggul “identitas” Damar Kedhaton.
Gelombang energi yang sama terus bergerak hingga kemudian lahirlah DAMPRO—dengan spirit napas yang serupa meski gerak taktisnya berbeda. Sebuah ijtihad sekaligus ikhtiar untuk berdaya dan saling memberdayakan dulur-dulur secara produktif. Sarana belajar yang mengkolaborasikan kreativitas serta keterampilan, dengan harapan lahir kemandirian yang pantul-memantul manfaatnya. Saling aman-mengamankan tujuannya.
Tidak sedikit dulur-dulur, secara individu maupun kolektif, merasakan momen-momen “aha” yang datang min haitsu la yahtasib—ruang tak terbatas yang mengantarkan kesadaran untuk mengetuk “pintu langit”, bahwa perjalanan ini dituntun oleh sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar pertemuan rutin dua kali setiap bulan. Tak lebih dari dua puluhan kepala yang menjaga nyala api damar paseduluran dalam setangkup asa bernama Al-Mutahabbina Fillah. Usaha kecil-kecilan para Jannatul Maiyah untuk nandur cinta yang murni, tanpa tendensi duniawi—belajar mengakrabi dan mengakherati dunia.
Pada titik-titik itu, makna resiliensi hadir secara alamiah—sering kali tanpa kita sadari. Gelombang energi yang terkandung dalam resiliensi mengendap dalam aliran batin, dan hanya dapat ditangkap ketika kita memperteguh makna perjalanan sembilan tahun ini. Resiliensi adalah kelenturan menghadapi keadaan yang menyulitkan; kapasitas meminimalisir dampak yang merusak; daya untuk kembali tegak setelah mengalami tekanan.
Semua definisi menyentuh sisi berbeda, tetapi merujuk pada satu simpul utama: kemampuan paseduluran Al-Mutahabbina Fillah atas nama Damar Kedhaton untuk tetap hidup- menghidupi, aman-mengamankan, selamat-menyelamatkan, tumbuh-menumbuhkan, dan terus berjalan meski harus melewati situasi yang tampak mustahil dilewati.
Resiliensi tidak tumbuh tanpa lingkungan yang saling mendukung. Ia muncul dari hubungan yang saling rawat-merawat, dari dorongan kreatif-aktif untuk menjadi lebih baik, serta dari terbukanya pintu bagi siapa saja yang tergerak untuk merawat tanduran Maiyah. Semua itu tumbuh tanpa grusa-grusu dalam tubuh Damar Kedhaton yang ditakdirkan ada, di-adakan, dan meng-ada di Gresik.
Persentuhan hati dalam paseduluran Al-Mutahabbina Fillah, harapan-harapan dan rencana yang ditakar berimbang, tantangan-tantangan yang dihadapi setiap dulur, serta upaya merawat iklim spirit ber-Maiyah secara kolektif—semua itu perlahan membentuk keteguhan karakter Damar Kedhaton. Tidak rapuh, namun juga tidak mengeraskan diri. Lentur, tetapi tidak kehilangan arah.
Dalam pribadi-pribadi yang menempuh jalan ini, terdapat elemen-elemen yang menopang resiliensi: kemampuan memahami diri, menegakkan sikap, memelihara hubungan, mengambil inisiatif, membuka ruang kreativitas, menjaga humor kemesraan-keakraban, serta saling ingat- mengingatkan langkah pada spirit nilai-nilai Maiyah.
Jejak itu terlihat dalam cara dulur-dulur menghadapi situasi yang serba tak menentu. Kebajikan dan kekuatan lahir-batin inilah yang menjadi pondasi sehingga perjalanan sembilan tahun ini tidak hanya bertahan, tetapi juga berjuang mengistiqomahi untuk berdaya dan saling memberdayakan.
Angka 9 sendiri menyimpan wasita sinandhi: puncak sebelum kelahiran kembali. Setelah sembilan, hitungan kembali ke angka 0. Dalam matematika, 0 adalah penanda ketiadaan nilai— titik netral antara positif dan negatif. Dalam kacamata filosofi, 0 adalah kekosongan yang memungkinkan segala hal muncul; awal sekaligus akhir. Dalam spiritualitas, ia adalah fana’: pengosongan diri sebelum naik ke maqam berikutnya. Dalam psikologi, 0 adalah kesediaan memulai tanpa beban, melihat sesuatu apa adanya. Dalam perspektif narasi, 0 adalah ruang jeda—pra-bait—yang mempersiapkan pembaca sebelum memasuki cerita.
Jika diteruskan ke angka 10, ia menjadi (1+0): titik nyawiji, perjumpaan antara kesadaran dan ketidakberhingaan. Karena itu, Milad ke-9 bukan hanya perayaan usia. Ia adalah titik jeda untuk menengok ulang bagaimana daya resiliensi tumbuh di tubuh Damar Kedhaton: bagaimana setiap kesulitan dikreatifi menjadi jalan, setiap persimpangan menjadi pembelajaran, serta bagaimana paseduluran Al-Mutahabbina Fillah menjadi kekuatan yang menjaga perjalanan ini tetap berwarna, bernilai, bermanfaat, dan bermakna.
Sembilan tahun bukan hanya perayaan. Ia adalah pintu menuju fase berikutnya—fase “kelahiran ulang”, fase di mana energi yang dirawat selama ini tumbuh menemukan tapak barunya. Mari bergembira, mensyukuri, dan menikmati kemesraan sembilan tahun ini seraya menata ulang tajdîdun niyyah kita bersama.
(Redaksi Damar Kedhaton)








