Hari ini, hampir seluruh pertandingan kehidupan hanya dimainkan di lapangan dunia. Pejabat sibuk mengejar kekuasaan, pemerintah sibuk mengejar angka dan pencitraan, pebisnis sibuk mengejar keuntungan, akademisi sibuk mengejar gelar, dan masyarakat sibuk mengejar pengakuan. Bahkan tidak sedikit aktivitas keagamaan yang akhirnya berhenti pada simbol dan keduniawian semata.
Padahal kita tidak diperintahkan memilih antara dunia atau akhirat. Yang diperintahkan adalah menjadikan dunia sebagai jalan menuju akhirat, dan menjadikan kesadaran akhirat sebagai cara mengelola dunia.
Sejalan dengan dawuh-dawuh Mbah Nun, kita diajak bukan untuk meninggalkan dunia. Melainkan mengakhiratkan dunia, menjalani seluruh urusan dunia dengan orientasi kepada Allah dan pertanggungjawaban di akhirat. Sebaliknya, menduniakan akhirat berarti menghadirkan nilai-nilai akhirat dalam setiap keputusan, pekerjaan, jabatan, keluarga, ekonomi, maupun kehidupan bermasyarakat.
Keduniawian terkonstruksi rapih di telinga kita dalam wujud “menang“: menang pertandingan; menang pemilihan; menang jumlah keuntungan; hingga menang debat. Pola ini mengingatkan kita pada konsep hegemoni Gramsci yang melihat adanya bagian yang lebih dominan dari bagian lain di masyarakat.
Entah sejak kapan, hidup terasa seperti arena yang terus menuntut kita menjadi juara. Kontruksi ini menempatkan “kalah” seolah menjadi hal buruk yang wajib dihindari. Padahal ada kalanya kita perlu kalah dan mengalah.
Sayangnya, kita jarang merenung untuk bertanya: juara dalam permainan yang mana? Sebab, menjadi juara catur tentu berbeda dengan menjadi juara lari. Aturannya berbeda; cara latihannya berbeda; pialanya pun berbeda.
Lalu, bagaimana dengan hidup? Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mengejar kemenangan, sampai lupa memeriksa siapa penyelenggara perlombaannya, apa aturan mainnya, dan piala apa yang sebenarnya sedang diperebutkan.
Ada orang yang pulang membawa harta, tetapi kehilangan keluarganya. Ada yang berhasil meraih jabatan, tetapi kehilangan ketenangan. Ada pula yang memilih hidup sederhana, namun wajahnya justru lebih lapang daripada mereka yang memiliki segalanya.
Lalu, siapa sebenarnya yang menang? Jangan-jangan, selama ini kita tidak sedang salah mengejar kemenangan. Kita hanya keliru mengenali pialanya.
Bagaimana jika dunia bukanlah piala yang harus dimenangkan, melainkan lapangan tempat kita memainkan pertandingan menuju kemenangan yang lain?
Mari duduk bersama. Bukan untuk memilih antara dunia atau akhirat. Tapi, untuk belajar membaca kembali, dunia ini sebenarnya sedang kita anggap sebagai apa? Sebagai tujuan, atau sebagai jalan?
Tuwuh Tresna Edisi 6
Hari, tanggal : Jumat, 10 Juli 2026
Waktu : 19.00 s.d selesai
Tempat : Ndalem Jagaswargan, Adikarto, Adimulyo, Kebumen.








