Siapa yang tidak ingin hidupnya menjadi lebih baik? Kita bekerja agar ekonomi lebih baik demi ketercukupan penghidupan sehari-hari. Kita belajar agar ilmu bertambah, pengetahuan berkembang, pemahaman makin mendalam, wawasan makin luas, serta keterampilan semakin terasah. Kita beribadah agar fondasi iman tak mudah goyah di tengah gonjang-ganjing zaman. Kita berjuang mewujudkan keluarga yang sakinah agar kehidupan senantiasa tuma’ninah.
Hampir seluruh ikhtiar manusia, dalam berbagai skala kehidupan, berangkat dari keinginan yang sama: menuju sesuatu yang dianggap lebih baik daripada hari kemarin.
Namun, ada satu pertanyaan yang layak kita ajukan bersama sebagai bahan permenungan diri. Menuju lebih baik menurut siapa? Apakah yang kita sebut sebagai “keadaan terbaik” benar-benar ukuran yang ditetapkan oleh kehendak Gusti Allah, atau hanya sebatas ukuran yang dibentuk oleh ego, lingkungan, bahkan algoritma zaman hari ini?
Barangkali kita perlu mengambil jeda sejenak, memberi ruang untuk menimbang kembali apa yang sesungguhnya dimaksud dengan “keadaan terbaik”. Jangan-jangan, selama ini kita terlalu mudah mengidentikkannya dengan kelapangan rezeki, kesehatan, kedudukan, jabatan, atau pengakuan manusia.
Padahal sejarah para nabi justru mengajarkan sesuatu yang berbeda, dan semestinya kita jadikan sebagai bahan pembelajaran yang utuh. Nabi Yusuf ‘alaihissalam, misalnya, lebih memilih penjara daripada menggadaikan kehormatan dirinya sebagaimana termaktub dalam QS. Yusuf ayat 33. Nabi Ayyub ‘alaihissalam yang bertahun-tahun diuji dengan penyakit, namun tidak kehilangan kesabaran dan pengharapannya kepada Allah sebagaimana diabadikan dalam QS. Al-Anbiya’ ayat 83. Bahkan, Baginda Kanjeng Nabi Muhammad Saw. telah merasakan kehilangan orang-orang tercinta sejak usia belia; ditinggal wafat ayahanda sebelum beliau lahir, kemudian ibunda saat beliau berusia enam tahun.
Secara kasatmata, seluruh kisah itu tampak sebagai keadaan yang amat berat. Akan tetapi, justru pada titik-titik yang terlihat paling rapuh Gusti Allah sedang mendidik, memurnikan, dan mengangkat derajat mereka. Yang tampak sebagai kesempitan dalam pandangan manusia, bisa jadi merupakan keluasan dalam pandangan Gusti Allah.
Namun, cara pandang demikian tidaklah kemudian menjebak kita untuk meromantisasi penderitaan, apalagi membiarkan kesulitan sesama dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan diterima begitu saja. Penindasan dan ketidakadilan tetaplah kenyataan yang harus ditandangi dengan ikhtiar, kepedulian, serta keberanian untuk berinisiatif ambil peran ndandani kahanan.
Maka, boleh jadi, apa yang selama ini kita anggap sebagai kegagalan, penderitaan, atau ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan, sesungguhnya adalah jalan yang sedang Gusti Allah bentangkan untuk mematangkan jiwa kita. Sebaliknya, sesuatu yang kita sebut sebagai keberhasilan belum tentu menjadi keadaan terbaik bagi batin dan kehidupan kita.
Karena itu, kata Ilaa dalam Majelis Ilmu Telulikuran edisi Juli 2026 ini terasa begitu penting untuk kita teguhkan maknanya. Ilaa berarti menuju. Sebuah proses perjalanan yang tidak pernah selesai. Sebuah ikhtiar yang terus bergerak dan terus berjalan. Menjadi lebih baik bukanlah gelar yang dapat disematkan kepada diri sendiri, melainkan sebentuk ikhtiar yang senantiasa perlu diperbarui melalui tajdidun niyyah sepanjang hayat. Tidak ada manusia yang selesai belajar. Tidak ada manusia yang selesai memperbaiki diri.
Barangkali itu sebabnya kita wajib bersyukur dipertemukan dalam lingkaran frekuensi Maiyah. Bukan untuk menjadi orang paling benar, melainkan agar tidak berhenti memperbaiki cara memandang hidup-kehidupan. Yang kita rawat adalah ruang belajar bersama; ruang untuk saling mengoreksi cara berpikir yang keliru, saling mengingatkan agar arah niat tidak melenceng, serta menimbang kembali setiap keyakinan yang mungkin selama ini kita pegang tanpa pernah kita periksa ulang.
Mari kita menanggalkan sejenak keinginan untuk menjadi pihak paling benar. Kita hadir sebagai sesama pejalan yang bergandengan hati dan pikiran, ngemis paring-paring petunjuk kepada Gusti Allah. Kita melingkar kembali dalam Majelis Ilmu Telulikuran bukan untuk membawa kesimpulan, melainkan untuk membuka diri terhadap kemungkinan-kemungkinan yang selama ini luput dari perhatian kita.
Sebab, boleh jadi, yang sedang kita cari selama ini bukanlah kehidupan yang lebih mudah, melainkan hati yang lebih siap menerima ketentuan Allah. Boleh jadi pula, yang sedang Allah ubah bukan keadaan di sekitar kita, melainkan cara kita memandang setiap keadaan. Jika demikian, maka perjalanan Ilaa Ahsanil Ahwaal bukanlah perjalanan mencari dunia yang sempurna, melainkan perjalanan memantaskan diri agar tetap menjadi kawula Gusti dalam keadaan apa pun.
Mari kita kembali melingkar dalam Daur Maiyahan Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton. Endapkan segenap rasa sudah memiliki bekal ilmu yang cukup, sebab sejatinya kita semua perlu menyadari betapa sedikitnya ilmu yang dimiliki oleh diri. Buang jauh-jauh rasa paling benar sendiri, karena kita masih perlu belajar meluruskan niat, menjernihkan cara pandang, dan setia pada garis orbit pejuangan memantaskan diri sebagai kawula Gusti.
Kita ikhtiarkan bersama merajut paring-paring dari-Nya: kesempatan untuk terus bertumbuh, dijernihkan hati dan pikiran, diteguhkan niat, serta dipertemukan dengan sebaik-baik keadaan menurut kehendak-Nya dalam Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi ke-115 dengan payung tema Ilaa Ahsanil Ahwaal, pada:
Hari/Tanggal : Selasa, 7 Juli 2026
Pukul : 19.23 WIB
Lokasi : Teras Mushola Permata Serenity PPS 2, Desa Banjarsari Kecamatan Manyar, Gresik








