Akhir-akhir ini, hutan Indonesia kembali dilalap api. Asap mengepul di antara pepohonan, sementara hamparan hijau yang selama ini menjadi ruang hidup bagi beragam makhluk perlahan berubah menjadi abu. Kementerian Kehutanan (2026) mencatat, luas areal kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang Januari–Juli 2026 mencapai 202.004,30 hektare. Angka ini meningkat 69 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Di balik angka tersebut, tersimpan pertanyaan tentang hubungan manusia dengan alam yang selama ini menjadi tempatnya bernaung. Negara bergerak memadamkan api dan menangani dampak kebakaran. Kita pun perlu melihat persoalan ini lebih jauh. Mengapa kebakaran terus berulang setiap tahunnya?Apakah kita selalu sibuk mengobati “akibatnya” hingga lupa mencegah “penyebabnya”?
Kebakaran hutan merupakan hilir dari persoalan yang lebih panjang. Hutan sering kali berada di tengah tarik-menarik antara kepentingan manusia dan keberlangsungan ekosistem di dalamnya. Karena gelar khalifah diberikan kepada manusia, manusialah yang memiliki tanggung jawab untuk “mengkhalifahi” hutan atau alam secara bijaksana. Kebakaran yang terjadi menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang keliru dalam misi kita mengkhalifahi alam.
Kekeliruan tersebut menunjukkan bahwa kepentingan manusia justru dapat mengalahkan tanggung jawabnya untuk merawat kehidupan. Barangkali, ada api dalam diri manusia yang perlu dipadamkan sebelum menjelma menjadi kerusakan di luar dirinya. Inilah wujud dari prinsip bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati.
Gagasan ini mengingatkan kita pada Patigeni, sebuah laku yang oleh Mbah Nun dimaknai sebagai upaya memadamkan api di dalam diri, menumpas dan mengubur nafsu. Patigeni dapat kita renungkan sebagai ikhtiar mencegah kerusakan sejak awal. Bukan menunggu akibat muncul untuk kemudian sibuk memperbaikinya, melainkan berani menahan hasrat sebelum menguasai pikiran dan tindakan. Sebab, tidak semua yang mampu kita lakukan patut kita lakukan, dan tidak semua yang bisa kita kuasai harus kita miliki.
Mari kita jadikan PATIGENI sebagai ruang untuk kembali memeriksa diri. Belajar menahan nafsu, meredam ego, dan menimbang setiap tindakan sebelum mengambil keputusan. Merawat kehidupan tidak cukup hanya dengan memperbaiki apa yang telah rusak, tetapi juga membutuhkan keberanian untuk menghentikan keinginan yang berpotensi merusaknya. Mari memadamkan api dalam diri agar kita tidak menjadi bagian dari api yang membakar kehidupan.
Sampai jumpa rek!








