“Jangan-jangan, apa yang kita anggap sebagai kenikmatan justru sedang menuntun kita ke jalan kesesatan hingga membuat kita lupa kepada Tuhan.”
Ada sebuah pendapat, bahwa Istidraj merupakan bentuk tipu daya atau ujian dari Allah Swt. berupa limpahan kenikmatan duniawi, seperti harta, kekuasaan, kesehatan, dan kesuksesan, yang diberikan kepada seseorang yang terus-menerus melakukan maksiat, melalaikan kewajiban agama, dan jarang beribadah.
Di dalam Al-Qur’an, Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-An‘am ayat 44:
فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ اَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ ۗ حَتّٰٓى اِذَا فَرِحُوْا بِمَآ اُوْتُوْٓا اَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَاِذَا هُمْ مُّبْلِسُوْنَ
Maka, ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan pintu-pintu segala sesuatu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga, ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.
Lalu, marilah kita bertanya kepada diri sendiri.
Pertama, (Apa) itu Istidraj?
Apakah setiap kelancaran rezeki, kemudahan hidup, jabatan, kesehatan, dan keberhasilan merupakan tanda bahwa Allah sedang meridai kita? Ataukah semua itu justru menjadi ujian untuk melihat bagaimana kita memperlakukan nikmat yang telah diberikan?
Jangan-jangan, kita terlalu sibuk menghitung apa yang telah kita dapatkan hingga lupa menghitung berapa banyak amanah yang belum kita tunaikan.
Kedua, (Mengapa) Istidraj bisa terjadi?
Mengapa manusia terkadang baru ingat kepada Allah ketika sedang mengalami kesulitan, tetapi mulai melupakan-Nya ketika kehidupannya lapang? Mengapa ketika doa belum terkabul, kita merasa dekat dengan Tuhan, tetapi ketika keinginan terpenuhi, kita justru merasa mampu menjalani kehidupan tanpa pertolongan-Nya?
Jangan-jangan, masalahnya bukan terletak pada banyak atau sedikitnya nikmat yang kita terima, melainkan pada bagaimana nikmat itu memengaruhi hati dan perilaku kita.
Kekayaan tidak serta-merta menjadikan seseorang jauh dari Allah, sebagaimana kemiskinan tidak serta-merta menjadikannya dekat dengan-Nya. Hal yang perlu kita waspadai ialah ketika kenikmatan membuat kita kehilangan kesadaran, menumbuhkan kesombongan, dan menjadikan rasa syukur sekadar ucapan di lisan.
Ketiga, (Bagaimana) Kita menyikapi dan menghindari Istidraj?
Apakah kita harus menolak kenikmatan dunia? Apakah kita harus takut menjadi kaya, sukses, atau hidup berkecukupan?
Tentu tidak demikian. Kita tidak diperintahkan untuk membenci nikmat, tetapi untuk belajar menempatkan nikmat sesuai dengan kehendak Allah. Rezeki seharusnya menguatkan kepedulian, ilmu seharusnya menumbuhkan kerendahan hati, dan keberhasilan seharusnya membuat kita semakin menyadari bahwa semua itu tidak terlepas dari pertolongan Allah dan peran banyak orang.
Oleh karena itu, kita perlu membangun sikap mawas diri.
Mawas diri berarti berani melakukan introspeksi: bagaimana hubungan kita dengan Allah, bagaimana sikap kita terhadap sesama, dan bagaimana kita memperlakukan diri sendiri. Kita tidak cukup hanya bertanya, “Apa yang sudah saya dapatkan hari ini?”, tetapi juga, “Apa yang sudah saya lakukan dengan apa yang saya dapatkan?”
Sebab, terkadang kita begitu teliti mengoreksi kesalahan orang lain, tetapi begitu longgar ketika berhadapan dengan kesalahan diri sendiri.
Setiap pilihan memiliki konsekuensi. Ketika kita memilih untuk bersyukur, semestinya ada tanggung jawab yang menyertai rasa syukur tersebut. Ketika memperoleh rezeki, ada amanah yang perlu ditunaikan. Ketika memperoleh ilmu, ada tanggung jawab untuk mengamalkannya. Dan ketika diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, ada keputusan yang harus kita ambil: apakah kesempatan itu akan kita gunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah atau justru kita sia-siakan?
Kita juga perlu berhati-hati agar tidak mudah menyebut orang lain mengalami istidraj hanya karena kehidupannya tampak menyenangkan, sementara perilakunya tidak kita sukai. Kita tidak mengetahui perkara gaib maupun bagaimana akhir kehidupan seseorang. Pembicaraan tentang istidraj seharusnya terlebih dahulu menjadi cermin bagi diri sendiri, bukan palu untuk menghakimi orang lain.
Barangkali, pertanyaan terpenting malam ini bukanlah, “Siapa di antara kita yang sedang mengalami istidraj?”, melainkan, “Jika hari ini Allah masih memberikan kita waktu, rezeki, kesehatan, dan kesempatan, sudahkah semua itu menjadikan kita manusia yang lebih baik?”
Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar tanda-tanda keberhasilan, tetapi lupa memeriksa arah perjalanan. Jangan sampai kita merasa aman hanya karena kehidupan sedang nyaman. Sebab, ukuran keberhasilan bukan semata-mata seberapa tinggi kita berdiri, melainkan apakah semakin tinggi kita berdiri, semakin rendah hati pula kita di hadapan Allah.
Wallahu a‘lam bish-shawab.








