Ada kalanya kita baru sadar seseorang sedang jauh setelah ia benar-benar sulit dijangkau. Anak masih tinggal serumah, masih makan di meja yang sama, masih tersenyum ketika ditanya, tetapi ada bagian dari dirinya yang perlahan tidak lagi kita kenal. Kita sering menyebutnya kenakalan, salah pergaulan, kecanduan gawai, judol, narkoba, atau kehilangan arah. Tapi benarkah sesederhana itu?
Mungkin yang terlihat bukanlah seluruh persoalan. Di balik anak yang terus menatap layar, bisa ada kebutuhan untuk didengar. Di balik seseorang yang mencari pelarian, mungkin ada kegelisahan yang tidak tahu harus dibawa ke mana. Di balik perubahan perilaku, mungkin ada sesuatu yang sedang diperjuangkan sendirian. Pertanyaannya: kapan sebenarnya seseorang mulai “hilang”, sementara secara fisik ia masih ada di hadapan kita?
Kita sebagai orang tua, pasangan, guru, atau bagian dari masyarakat sering merasa tugas kita adalah menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah. Tetapi jangan-jangan sebelum bertanya “Mengapa kamu melakukan itu?”, kita perlu belajar bertanya, “Apa yang sedang kamu hadapi?” Sebab tidak semua orang yang membutuhkan pertolongan datang dengan membawa tulisan: “Saya sedang bermasalah.”
Lalu, apa sebenarnya arti pulang? Apakah sekadar kembali ke rumah? Atau kembali menemukan keluarga, kepercayaan, arah hidup, kesadaran, dan hubungan dengan Allah? Bisa jadi seseorang tidak membutuhkan ceramah yang panjang untuk pulang. Bisa jadi ia hanya membutuhkan satu ruang yang membuatnya merasa aman untuk berkata jujur, “Aku sedang tidak baik-baik saja.”
Kita tidak datang untuk mencari siapa yang paling salah. Kita juga tidak sedang mengadili generasi muda. Kita ingin duduk bersama, melihat persoalan dari dekat, dan bertanya kepada diri sendiri: Apakah rumah kita sudah menjadi tempat untuk pulang? Apakah kita cukup hadir sebelum mereka mencari tempat lain? Dan kalau seseorang sudah mulai jauh, apakah kita masih tahu jalan untuk mendekatinya?
Sabtu, 24 Oktober 2026, pukul 20.00 WIB di Gazebo SP, mari duduk bersama dalam Maiyah Sulthon Penanggungan Pasuruan. Bukan untuk merasa paling tahu, tetapi untuk sinau bareng. Karena mungkin malam itu kita tidak sedang mencari jawaban untuk “orang lain”. Bisa jadi, kita sedang menemukan sesuatu yang perlu kita pulangkan dalam diri kita sendiri. Pulang sebelum hilang. #Redaksi_SP








