Dalam perjalanan hidup yang tidak selalu terang, kita membutuhkan sesuatu yang menjadi pegangan untuk menentukan ke mana kaki hendak dilangkahkan. Beberapa ada yang menyebutnya prinsip, keyakinan, kepercayaan, ideologi, atau orientasi hidup. Apa pun namanya, manusia perlu memiliki sesuatu yang membuatnya tidak sekadar bergerak, tetapi juga mengerti ke mana dan untuk apa ia bergerak.
Namun, menemukan arah bukan perkara sekali duduk lalu selesai. Dalam pencarian itu, kita bisa salah membaca keadaan, keliru mengambil keputusan, terseok-seok, bahkan tersesat jauh sebelum menyadari bahwa kita sedang salah jalan. Kita berdoa, menaruh harapan, mengerahkan ikhtiar, lalu belajar bertawakal. Ada keyakinan yang menguatkan langkah, ada keraguan yang memaksa kita memeriksa kembali pijakan. Bukan dengan selalu benar, melainkan dengan terus mencari, bersedia mengoreksi diri, dan tidak buru-buru menganggap bahwa apa yang diyakininya hari ini pasti telah mencakup seluruh kebenaran.
Sebab sebuah penerang tidak cukup hanya dikagumi cahayanya; ia perlu dibawa ke dalam laku. Doa, harapan, dan keyakinan perlu bertemu dengan ikhtiar, ketahanan, serta rutinitas yang dijalani berulang-ulang. Apa yang kita sebut prinsip akan diuji dalam keputusan-keputusan kecil; apa yang kita sebut kepercayaan akan diuji ketika keadaan tidak sesuai harapan; dan apa yang kita sebut orientasi hidup akan tampak dari bagaimana kita memperlakukan diri sendiri maupun orang lain. Pada akhirnya, barangkali ukuran sebuah pegangan bukan hanya seberapa teguh kita mempertahankannya, tetapi juga kemanfaatan apa yang lahir darinya. Apakah ia membuat kita semakin mampu memahami kehidupan, semakin bertanggung jawab atas pilihan, dan semakin menghadirkan kebaikan bagi sesama?.
Dalam tradisi Islam, Ka’bah menjadi kiblat, arah yang dituju ketika kita menghadap dalam salat. Ia mengingatkan kita pada pentingnya orientasi, meskipun arah yang sama tidak serta-merta membuat setiap orang menempuh perjalanan batin yang sama.
Dalam perjumpaan kita nanti di Majelis Masyarakat Maiyah Suluk Surakartan, barangkali kita tidak sedang mencari satu pelita yang sama dan harus dimiliki semua orang. Kita ingin bersama-sama memeriksa cahaya yang kita bawa: dari mana ia berasal, ke mana ia menuntun kita, dan apakah cahayanya benar-benar membantu kita melihat atau justru membuat kita merasa terlena.








