Dalam kehidupan, kita sering diajarkan untuk mengenali siapa kawan dan siapa lawan. Kita berusaha mendekat kepada yang membawa manfaat dan menjauh dari yang dapat menjerumuskan. Tidak sedikit pula kita tumbuh dengan pemahaman bahwa setan adalah musuh terbesar manusia. Karena itu, hampir setiap kali melakukan kesalahan, nama setan menjadi pihak yang pertama kali disebut.
Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya, mengapa Allah menciptakan setan? Bukankah Allah Maha Kuasa untuk menciptakan kehidupan tanpa adanya godaan? Jika setan memang musuh yang nyata, mengapa keberadaannya masih diberi kesempatan hingga hari kiamat? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sering kali muncul, tetapi tidak selalu kita beri ruang untuk direnungkan bersama.
Di sisi lain, kehidupan juga mengajarkan bahwa tidak semua hal yang kita anggap tidak menyenangkan selalu membawa keburukan. Rasa sakit membuat kita lebih berhati-hati. Kegagalan mengajarkan kerendahan hati. Ujian membuat seseorang mengenali batas kemampuannya. Bisa jadi, sesuatu yang kita anggap sebagai lawan justru menjadi jalan untuk mengenal diri sendiri dengan lebih baik.
Allah tidak menciptakan sesuatu tanpa tujuan. Setiap makhluk memiliki perannya masing-masing dalam kehidupan. Demikian pula dengan keberadaan setan. Bukan untuk diikuti, apalagi dibenarkan, tetapi untuk menjadi bagian dari ujian yang membedakan antara orang yang mengikuti petunjuk dengan orang yang memilih jalan sebaliknya. Tanpa adanya pilihan, manusia tidak akan pernah belajar tentang tanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil.
Meski demikian, tidak semua kesalahan dapat dibebankan kepada setan. Al-Qur’an menjelaskan bahwa setan hanya membisikkan dan mengajak, sedangkan keputusan tetap berada di tangan manusia. Artinya, setiap langkah yang kita ambil tetap menjadi tanggung jawab kita sendiri. Di sinilah pentingnya kejujuran kepada diri sendiri, agar kita tidak selalu mencari kambing hitam atas setiap kesalahan yang terjadi.
Bahkan bisa jadi, musuh yang paling sering mengalahkan kita bukanlah setan, melainkan hawa nafsu, ego, kesombongan, dan keinginan yang tidak mampu kita kendalikan. Ketika hati dipenuhi rasa iri, ketika lisan mudah menyakiti, atau ketika kita merasa paling benar, mungkin saat itu yang sedang bekerja bukan hanya godaan dari luar, tetapi juga kelemahan yang ada dalam diri kita sendiri.
Melalui Maiyahan, kita tidak sedang berkumpul untuk menghakimi siapa yang paling baik atau paling buruk. Kita hadir sebagai sesama manusia yang masih belajar memahami kehidupan, saling bertukar pengalaman, dan bersama-sama mencari hikmah dari setiap peristiwa yang Allah hadirkan. Sebab sering kali, jawaban terbaik lahir dari keberanian untuk mendengarkan, bukan hanya dari keinginan untuk berbicara.
Lalu, jika setan memang musuh yang nyata, mengapa tema malam ini justru diberi judul Musuh Setia? Apa makna “setia” dalam konteks seorang musuh? Apakah ada pelajaran yang Allah ingin tunjukkan melalui keberadaannya, atau jangan-jangan selama ini kita justru salah memahami siapa musuh terbesar dalam kehidupan kita? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan menjadi pintu masuk untuk memulai diskusi kita bersama di Maiyah Sulthon Penanggungan Pasuruan hari Sabtu, 25 Juli 2026 Jam 20:00 WIB. #Redaksi_SP









