Di sebuah tanah batin yang kita tempati bersama, 19 tahun lalu tumbuh satu tanduran. Ia tidak berasal dari siapa-siapa, tapi tumbuh dari cinta yang dititipkan langit kepada manusia-manusia yang mau merunduk, saling belajar, dan saling menjaga. Tanduran itu bernama Bangbang Wetan.
Dalam jagat Maiyah, Mbah Nun mengajarkan bahwa hidup ini adalah ladang. Setiap kita adalah petani. Dan cinta itulah tanduran yang kita rawat bersama. Tidak dengan ambisi, tidak dengan pameran prestasi, tetapi dengan ketekunan, ketulusan, dan harapan agar Allah tidak murka kepada kita.
“Mengorbit Makna Menjaga Cinta” adalah tema milad Bangbang Wetan yang ke-19 tahun ini. Bangbang Wetan dan Maiyah hidup sebagai makna dan nilai. Bukan identitas simbolik atau sebuah identitas formal. Nilai dan maknanya mengorbit ke segala lapisan masyarakat dari mulai nelayan, petani, ojek online sampai pejabat publik. Karena Maiyah tidak punya pamrih untuk menandingi identitas apapun dan latar belakang apapun. Cukup Maiyah mengorbit sebagai makna dan nilai memahami kehidupan.
Bangbang Wetan dilahirkan untuk berjalan beriringan dengan makna dengan berlandaskan cinta segitiga (Allah, Rasulullah dan kita). Makna yang terus dijalani dan ditempuh ujungnya adalah menjadi manusia yang ahsani taqwim dan bisa berpegang pada jubah kebesaran Rasulullah. Gerak Maiyah terutama Bangbang Wetan tak muluk-muluk, asal Allah tidak marah kepada kita, apapun siap dilakukan.
Cara kita menempuh makna hidup dijelaskan oleh Mbah Nun: Di dalam lingkar dan jaringan silaturahmi atau profesionalitasnya, manusia punya konsumen atau produsen, rekanan, kolega, teman, teman biasa, teman dekat, sahabat karib, atau yang lebih dekat lagi sehingga bisa disebut Saudara. Jamaah Maiyah menyebut komunitasnya “Al-Mutahabbina Fillah”, karena sesama Jamaah Maiyah di seluruh dunia adalah manusia-manusia yang tidak harus punya hubungan darah atau kekerabatan, tetapi saling mencintai, saling menyayangi, saling mengamankan satu sama lain. Atau dalam narasi lagu TETA: saling memaafkan, saling menguatkan. (Sumber: https://www.caknun.com/2021/datanglah-kelahiran-yang-baru/?amp=1)
Kita diajak oleh Mbah Nun Sinau Bareng; belajar bersama dengan siapapun untuk menemukan makna dan menyusun ingatan kembali yang sudah kita ingat sebelum lahir. Maka milad ke-19 ini kami mengajak semua keluarga besar Maiyah khususnya Bangbang Wetan untuk menata kembali landasan orbit kehidupan kita sesuai makna dan nilai Maiyah dan belajar menelusuri kembali ingatan yang mungkin sudah kita lupakan sebelum dan sesudah kelahiran Bangbang Wetan sampai ke-19 tahun ini.
Dalam filsafat, anamnesis adalah teori Plato yang menyatakan bahwa belajar adalah bentuk pengingatan kembali pengetahuan bawaan yang dimiliki jiwa sebelum lahir ke dunia. Ide utamanya adalah bahwa kebenaran sejati bukanlah sesuatu yang diajarkan dari luar, melainkan sesuatu yang sudah ada di dalam diri seseorang dan dapat ditemukan kembali melalui proses mengingat.
Tujuan kami untuk merayakan dan memperingati milad 19 tahun Bangbang Wetan untuk melakukan semacam anamnesis Bangbang Wetan: Sinau Bareng mengingat-ingat apa saja hal yang kita ingat sebelum kelahiran Bangbang Wetan dan ketika Bangbang Wetan lahir sampai saat ini.
Menjaga tanduran yang telah tumbuh, Mengorbit makna yang telah kita putar bersama, Merawat cinta yang menjadi akar segala gerak kita.
Peringatan milad 19 tahun Bangbang Wetan rencananya diadakan Senin, 8 September 2025 di Pendopo Taman Budaya Cak Durasim, Genteng, Surabaya. Kami mengajak semua anggota keluarga Bangbang Wetan untuk hadir dengan membawa ingatan dan keluh kesah untuk kita Sinau Bareng-kan bersama. Kami tunggu, ya, dulur-dulur!
(Redaksi Bangbang Wetan)








