Teknologi komunikasi membuat jarak semakin tak berarti, tapi tak lantas tanpa menimbulkan resiko. Benar pula tak ada pilihan tanpa konsekuensi. Untuk jarak yang sudah tidak lagi berarti ada kepercayaan yang tergerus.
Ada pada hal sederhana sehari-hari. Janji temu pukul 20.30 di tempat sudah disepakati. 20.20 yang sudah di lokasi bertanya “posisi” serentak jawaban “otw” silih berganti datang, padahal kenyataan masih siap-siap. Kabar lebih dulu sampai ketimbang kenyataan. Ironi perkembangan teknologi.
Seolah sederhana padahal ini bentuk korupsi waktu, lebih berbahaya lagi jika sudah terjadi penormalan terhadap perilaku ini. Bulan lalu kita belajar bab syukur. Kita dapati menyepelekan dan menggampangkan sesuatu adalah bentuk tidak syukur.
Ini baru soal waktu, belum lagi penyederhanaan pencapaian. Teknologi membuat gampang menemukan kenyamanan. Dari gawai di genggaman dengan puluhan aplikasi terinstall, plus Artificial Itelligence (AI) membuat gampang sekali mencapai keinginan. Akhirnya otak merekam kebiasaan untuk malas bekerja keras. Seperti sihir yang membuat kita diam di tempat sementara dunia di sekitar terus bergerak dan usia kehidupan di bumi semakin berkurang.
Edisi belajar bersama bab syukur belum selesai. Ada konsekuensi jika perilaku tidak syukur dipertahankan lantas dinormalkan. Harus ada momentum untuk mengingatkan. Syukur ke implementasi dalam kehidupan apakah sudah menjelma nila gizi ruhani menjadi perilaku.
Anugerah Allah, selama Maiyahan banyak hal sudah didapat. Lantas syukur masih jadi tema dikaji? Terkadang hal-hal yang menjadi rutinitas malah lepas dari pemaknaan syukur. Ini letak berbahayanya, jatuhnya bisa sombong. Tidak menjalankan komitmen sudah termasuk tidak syukur, apalagi tidak sadar keterlibatan Tuhan dalam setiap perilaku kehidupan.
Susah-gampang dan gampang-susah, begitu kiranya bersyukur ini. Perilaku ini tak kasat mata. Sesama manusia tidak bisa menilai tingkat syukur manusia lain. Yang bisa hanya diri sendiri dan tentunya Allah. “Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?” Ar-Rahman.
Agustus tahun ini kemarau datang lebih awal ketimbang tahun lalu. Informasi tentang apa persiapan untuk menghadapinya sudah bisa diterima, lantas apa perilaku untuk persiapannya? Pembahasan kita di Majelis Ilmu Muhammad Ainun Nadjib bulan ini tentang langkah kongkrit implementasi syukur. Kita boleh punya gagasan besar, cita-cita tinggi, ilmu ‘langitan’ tapi lantas bagaimana membumikan setiap kata yang kita kuasai atas ilmu-ilmu itu?
Misalnya begini, ada saran untuk mempersiapkan ketahanan pangan setidaknya untuk lingkungan keluarga sendiri, bagaimana langkah-langkah mengkongkritkannya? Kalau soal alasan-alasan, keilmuan, ditambah menguasai teori konspirasi secara global sudah matang, tinggal gerak untuk pengupayaan pembumiannya. Mari membumi dalam majelis ilmu Muhammad Ainun Nadjib Ma’syar Maiyah Mahamanikam edisi 83 Agustus 2026.








