Malam itu jamaah bergantian berdatangan disambut tuan rumah, Gus Ishom. Maiyahan diawali dengan tawasshulan dan sholawat, menyambungkan pikiran dan hati, larut kedalam frekuensi maiyah. Mas Rizal membuka diskusi dengan membaca ulang mukaddimah Utang Peradaban dan mencoba menggali dari pertanyaan mendasar. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan peradaban? Selama ini, ukuran kemajuan sering berhenti pada hal-hal yang kasat mata, gedung yang menjulang, jalan yang membentang, teknologi yang semakin canggih, atau ekonomi yang terus bertumbuh. Padahal semua itu lebih tepat disebut kemajuan, bukan peradaban itu sendiri.
Mas rizal mengusulkan untuk mengubah jargon Indonesia Emas menjadi Manusia Emas Indonesia, supaya muncul kesadaran bahwa yang pertama dibangun dalam satu bangsa adalah manusianya. Mas ari membahas khazanah Islam yang mengenal dua istilah yang saling berkaitan, yaitu tsaqafah dan hadharah. Tsaqafah adalah cara berpikir, sistem nilai, dan pandangan hidup yang membentuk karakter sebuah masyarakat. Adapun hadharah merupakan buahnya, berupa ilmu pengetahuan, teknologi, tata kota, maupun berbagai peninggalan fisik lainnya. Selama ini perhatian lebih banyak tertuju pada hadharah, sementara tsaqafah sebagai akarnya justru sering terlupakan. Padahal akar itulah yang menentukan ke mana sebuah bangsa akan melangkah.
Indonesia kemudian menjadi contoh pembahasan. Para pendiri bangsa menyadari bahwa Indonesia tidak mungkin dibangun dengan menyalin bangsa lain. Keragaman suku, agama, budaya, dan bahasa menuntut adanya titik temu yang mampu mempersatukan semuanya. Pancasila lahir dari kesadaran itu. Namun diskusi mengingatkan, Pancasila tidak cukup berhenti sebagai simbol yang dibaca dalam upacara atau dipasang di dinding. Nilai hanya akan hidup apabila menjadi laku sehari-hari. Sebagaimana agama, ia kehilangan makna ketika berhenti pada ucapan. Setiap generasi menerima warisan, mengolahnya, lalu menyerahkannya kembali kepada generasi berikutnya. Manusia tidak sedang membangun peradaban dari awal, melainkan meneruskan perjalanan panjang yang telah dimulai oleh para pendahulunya.
Pembicaraan berlanjut pada asal-usul peradaban. Manusia mula-mula hidup dalam kelompok-kelompok kecil, kemudian menetap, membangun kebudayaan, menyusun tata nilai, hingga akhirnya melahirkan peradaban. Artinya, peradaban lahir dari adab. Gedung, teknologi, dan berbagai pencapaian lainnya hanyalah akibat dari nilai yang telah tumbuh lebih dahulu.
Di tengah kehidupan modern, diskusi melihat adanya kekeliruan yang semakin sering terjadi, yaitu tertukarnya antara wasilah dan ghayah. Ekonomi, pembangunan, industri, bahkan teknologi merupakan wasilah atau sarana. Tujuan akhirnya adalah menghadirkan manusia yang lebih baik dan kehidupan yang lebih bermartabat. Ketika sarana berubah menjadi tujuan, pembangunan kehilangan arah. Yang tumbuh hanya angka-angka, sementara manusianya tertinggal.
Dari sinilah tema Utang Peradaban menemukan maknanya. Setiap manusia lahir dalam keadaan menerima begitu banyak warisan. Bahasa yang digunakan, tanah yang dipijak, hingga kemerdekaan yang dinikmati hari ini bukan hasil kerja generasi sekarang. Semuanya adalah titipan dari mereka yang datang lebih dahulu. Karena itu, utang peradaban bukan utang yang bisa dilunasi, melainkan tanggung jawab yang terus dicicil dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Mencicil utang peradaban tidak selalu dimulai dari ruang-ruang besar. Tidak semua orang memiliki kekuasaan untuk mengubah negara, tetapi setiap orang memiliki ruang untuk memperbaiki dirinya, keluarganya, tetangganya, dan lingkungan di sekitarnya. Kesadaran semacam inilah yang dipandang menjadi tugas simpul-simpul Maiyah, bukan menjadi pusat kekuasaan, melainkan menjaga agar nilai-nilai tetap hidup di tengah masyarakat. Quu anfusakum wa ahlikum naaro.Perintah itu terutama untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka.
Mas Baha, dosen dari Bangil, kemudian mengutip pemikiran Malik Bennabi dalam Syuruth an-Nahdhah tentang tiga unsur pembentuk peradaban, yaitu manusia, tanah, dan waktu. Ketiganya hanya akan melahirkan kebangkitan apabila manusia memiliki kesadaran terhadap dirinya sendiri. Banyak bangsa memiliki potensi besar, tetapi gagal membangun peradaban karena kehilangan arah dan identitasnya. Mbah Nun sering mengutip QS Al-Qashash ayat 5: “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas (mustadh’afin) di bumi, menjadikan mereka pemimpin-pemimpin dan menjadikan mereka pewaris”. Berkaca dengan situasi geopolitik saat ini di Iran, penderitaan sering menjadi candradimuka matangnya peradaban. Barangkali kita perlu mengembargo diri kita sendiri.
Indonesia saat ini berada di tengah kepungan berbagai peradaban besar dunia. Kapitalisme, digitalisasi, dan berbagai arus pemikiran global datang silih berganti. Tantangannya bukan menolak semuanya, melainkan menemukan kembali tsaqafah bangsa sendiri. Indonesia perlu mampu menyerap ilmu dari mana pun tanpa kehilangan nilai yang menjadi jati dirinya.
Menjelang akhir diskusi, pembahasan kembali diarahkan kepada manusia. Akal diperlukan untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Namun akal tidak cukup. Hati menjadi tempat tumbuhnya kesadaran, keikhlasan, dan amanah. Ketika akal dan hati berjalan bersama, lahirlah manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beradab. Jaman berganti dan manusia berganti shift amanah dengan manusia lain. Kita tidak tau bagaimana akhir dari peradaban, menuju kebaikan atau kerusakan. Yang kami bisa pegangi adalah Maiyah sebagai adalah jalan pemberadaban.
Malam itu tidak ditutup dengan kesimpulan bahwa bangsa harus membangun lebih banyak gedung atau mengejar lebih banyak teknologi. Yang justru ditekankan adalah pentingnya membangun manusia. Sebab peradaban tidak diwariskan melalui bangunan, melainkan melalui nilai. Dan utang peradaban hanya dapat dicicil ketika setiap generasi mampu mewariskan manusia yang lebih beradab daripada generasi sebelumnya.
Bismillah, terus berjalan.








