Malam itu tidak ramai. Hanya dua belas orang yang masih setia hadir, menjaga istiqamah dalam lingkaran kecil Sinau Bareng. Di tengah kesederhanaan itulah suasana justru terasa hangat dan intim—cukup untuk menyalakan percakapan yang pelan, tapi dalam.
Mas Feri membuka forum seperti biasa. Ia memulai dengan mukaddimah sebagai pengantar, sekaligus pemantik diskusi. Kalimat-kalimat awal itu tidak hanya menjadi pembuka, tetapi juga arah—mengajak siapa pun yang hadir untuk tidak sekadar mendengar, melainkan ikut mengalami proses berpikir bersama.
Bang Zali menjadi yang pertama merespons. Ia mengajukan sudut pandang yang sederhana namun menggugah: bagaimana jika manusia justru membutuhkan pengalaman melalui “lawan”? Baginya, pertemanan tidak melulu soal kesepahaman, tetapi tentang keberanian untuk berdialog. Lawan diskusi diperlukan agar pikiran tetap terasah dan jernih. Di situlah, menurutnya, makna pertemanan bisa dirasakan—yakni saat seseorang mampu merespons tanpa emosi berlebih, tidak reaktif, tetapi mampu menangkap makna di balik setiap perjumpaan.
Mas Humam kemudian menyambung dengan membawa forum pada refleksi sejarah. Ia mengingatkan kembali peristiwa setelah Perang Badar yang terjadi di bulan Ramadlan. Saat itu, umat Islam menghadapi dua ujian sekaligus: menahan lapar dan dahaga, serta bertarung di medan perang. Namun justru setelah itu, Rasulullah menyampaikan kepada para sahabat bahwa mereka akan menghadapi jihad yang lebih besar—yakni jihad melawan hawa nafsu. Dari sini, Mas Humam menekankan bahwa perjuangan paling berat bukanlah menghadapi musuh di luar, melainkan menghadapi diri sendiri.

Pembahasan pun mengalir pada makna “lawan” dalam kehidupan. Dalam semangat fastabiqul khairat, lawan tidak dimaknai sebagai musuh yang harus dikalahkan, melainkan sebagai acuan untuk menjadi lebih baik. Pertemanan sejati justru hadir ketika seseorang berani menjadikan yang lain sebagai “sparing partner” untuk tumbuh bersama. Sementara itu, musuh yang paling layak dihadapi adalah diri sendiri—bagian dalam diri yang sering kali sulit dikendalikan.
Diskusi kemudian memasuki wilayah yang lebih mendalam: relasi antara akal dan nafsu. Dalam salah satu rujukan yang disampaikan, akal digambarkan sebagai sesuatu yang cenderung merendah dan menenangkan, sedangkan nafsu bersifat keras kepala dan emosional. Akal meredam, sementara nafsu mudah meledak. Dari sinilah muncul kesadaran bahwa orang lain bisa menjadi “lawan” untuk melatih kejernihan akal, sedangkan nafsu adalah sesuatu yang harus dihadapi agar hati tetap tertata.
Mas Agus turut berbagi pengalaman pribadi. Ia mengakui bahwa manusia pada dasarnya tidak menyukai kegagalan. Namun, ia mencoba mengubah cara pandangnya. Dalam pengalamannya, ketika menghadapi masalah dalam pekerjaan, keluhan justru membuatnya semakin terpuruk. Sebaliknya, ketika ia memilih untuk terus melangkah, bahkan dengan kesalahan-kesalahan yang sama, di situlah ia menemukan pelajaran. Baginya, melawan diri sendiri adalah cara agar terus belajar dari kegagalan.
Mas Feri kemudian menambahkan bahwa sering kali sumber persoalan bukan berasal dari orang lain, melainkan dari ego diri sendiri. Ketika ego tidak dikelola, ia mudah berubah menjadi kebencian. Namun jika ego dikenali dan dikendalikan, konflik pun tidak perlu terjadi.
Mas Fahmi menawarkan sudut pandang lain. Ia menegaskan bahwa nafsu tidak harus dikalahkan, karena pada dasarnya nafsu tidak akan pernah hilang. Yang bisa dilakukan adalah mengontrolnya—menyadari keberadaannya, lalu mengarahkannya. Ia juga menambahkan bahwa ilmu justru berkembang karena adanya lawan diskusi. Dari perbedaan pandangan itulah ide-ide baru muncul.

Dari berbagai pendapat yang mengalir, perlahan terbentuk satu pemahaman bersama: membedakan antara lawan dan musuh. Lawan hadir untuk kebaikan—untuk mendorong, menantang, dan membantu seseorang berkembang. Setiap “pertandingan” selalu menghadirkan strategi dan pelajaran. Sementara musuh, jika terus dipelihara, hanya akan bermuara pada kehancuran.
Mas Fahmi kembali menekankan bahwa berteman dengan “lawan” adalah upaya untuk menjadi lebih bijaksana dalam merespons kehidupan. Sebaliknya, ketika segala sesuatu dipandang sebagai musuh, yang muncul hanyalah konflik yang tidak berkesudahan. Cara pandang ini bahkan meluas dalam kehidupan sosial: ketika segala sesuatu dianggap ancaman, maka yang lahir adalah ketegangan, bukan pertumbuhan.
Mas Humam menambahkan bahwa nafsu tidak bisa dimatikan, karena justru darinya peradaban bergerak. Dorongan untuk berkembang, berambisi, dan mencapai sesuatu berasal dari nafsu itu sendiri. Namun, tanpa kendali, ia bisa menjadi destruktif. Ia juga mengingatkan bahwa permusuhan sering kali justru lahir dari persamaan kepentingan, bukan dari perbedaan. Sebaliknya, ketika perbedaan bisa diterima, di situlah ruang damai terbuka.
Menjelang akhir forum, Mas Humam memungkasi dengan refleksi yang tajam. Ia menegaskan bahwa berlomba adalah sebuah keniscayaan, tetapi arahnya harus menuju kebaikan—khair. Ia mengkritik kecenderungan zaman hari ini yang lebih mengejar angka daripada nilai. Padahal, nilai berbicara tentang etika, akhlak, tanggung jawab, dan kemampuan merawat. Ketika semuanya direduksi menjadi skor dan capaian, manusia mudah terjebak dalam ambisi duniawi yang justru menjadi musuh (boomerang) bagi dirinya sendiri.
Malam itu berakhir tanpa kesimpulan yang kaku. Hanya percakapan yang mengendap perlahan. Dari dua belas orang yang tetap istiqamah itu, tersisa satu pesan sederhana namun kuat: bahwa hidup bukan tentang membangun permusuhan, melainkan menumbuhkan kebaikan. Bahwa “lawan” bukan untuk dijatuhkan, tetapi untuk diajak bertumbuh bersama. Dan pada akhirnya, pertarungan paling panjang tetaplah yang terjadi di dalam diri sendiri. (Red. Semesta)








