Kegiatan Maiyah Simpul Sulthon Penanggungan Pasuruan berlangsung dalam suasana khidmat dan reflektif, diawali dengan tawasul yang dipimpin Cak Taufiq. Rangkaian pembukaan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Sdr. Hamzah serta lantunan sholawat dari Tim Banjari yang dipimpin Ustadz Luqman. Atmosfer spiritual yang terbangun sejak awal menjadi fondasi penting bagi jamaah dalam memasuki ruang perenungan yang lebih dalam sepanjang acara.
Sambutan pembuka disampaikan oleh Mas Luthfi selaku koordinator simpul setelah dipersilakan oleh moderator Cak Hasan. Dalam konteks suasana Idul Fitri yang masih terasa, ia mengajak jamaah untuk memaknai Syawalan tidak sekadar sebagai tradisi saling memaafkan secara lahiriah. Ia menekankan pentingnya menjadikan momen tersebut sebagai upaya sadar untuk merawat kejernihan batin dan memperkuat kualitas diri pasca Ramadan.
Menurut Mas Luthfi, Syawalan bukanlah titik akhir dari perjalanan spiritual, melainkan gerbang awal untuk melanjutkan nilai-nilai yang telah ditempa selama Ramadan. Nilai seperti keikhlasan, kesabaran, dan kepekaan sosial, menurutnya, harus terus dihidupkan dalam praktik kehidupan sehari-hari, bukan berhenti sebagai ritual musiman yang bersifat seremonial.
Paparan berikutnya disampaikan oleh Mas Umar yang mengulas poster tema “Manusia Generasi Baru” dengan pendekatan kritis. Ia mengangkat kegelisahan terkait posisi masyarakat dalam sistem pendidikan yang dinilai semakin jauh dari esensi pembentukan manusia. Dalam pandangannya, sekolah kerap kali tidak lagi menjadi ruang pembebasan berpikir, melainkan terjebak dalam kepentingan administratif dan struktural.

Mas Umar menegaskan bahwa konsep “generasi baru” tidak berkaitan dengan usia, melainkan tingkat kesadaran. Kesadaran yang dimaksud adalah upaya mengembalikan fungsi pendidikan sebagai ruang memanusiakan manusia, tempat tumbuhnya akal sehat, nurani, dan kebijaksanaan. Ia juga menyoroti pergeseran posisi masyarakat dari sekadar objek kebijakan menjadi subjek yang mulai menyadari dan memperjuangkan kedaulatan pendidikan.
Dalam penyampaian visualnya, tergambar sosok manusia yang berdiri menatap ke depan dengan latar lanskap luas. Simbol ini dimaknai sebagai representasi perjalanan kesadaran manusia, dari keterbatasan menuju keluasan makna hidup. Narasi tersebut mempertegas bahwa perubahan yang diharapkan tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga menyentuh dimensi batiniah individu.
Memasuki sesi materi, Mas Luthfi menghadirkan pendekatan reflektif melalui perbandingan antara MBG (Makanan Bergizi Gratis) dan MGB (Manusia Generasi Baru). MBG diposisikan sebagai bentuk intervensi eksternal yang menjawab kebutuhan fisik, namun dalam implementasinya tidak lepas dari berbagai polemik. Sementara itu, MGB ditawarkan sebagai konsep pembangunan manusia dari dalam, yang bertumpu pada kesadaran, bukan sekadar pemberian.
Ia mengajukan pertanyaan kritis terkait efektivitas program dalam memenuhi kebutuhan manusia secara utuh. Dalam analisisnya, berbagai persoalan dalam pelaksanaan MBG, mulai dari kesiapan sistem hingga pengelolaan sumber daya, menunjukkan bahwa solusi berbasis program tidak selalu mampu menjawab persoalan mendasar. Hal ini mengarah pada pentingnya membangun kemandirian individu sebagai fondasi utama.

Ramadan kemudian diposisikan sebagai proses pembentukan karakter yang komprehensif. Puasa tidak hanya dimaknai sebagai praktik menahan lapar dan dahaga, tetapi sebagai latihan pengendalian diri, penguatan mental, serta pengembangan empati sosial. Dalam perspektif ini, Ramadan menjadi ruang transformasi yang mendorong individu untuk naik ke tingkat kesadaran yang lebih tinggi.
Pada sesi diskusi, sejumlah pertanyaan kritis muncul dari peserta, di antaranya terkait posisi manusia generasi baru dalam menghadapi kompleksitas sistem sosial dan politik. Mas Umar menegaskan bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam mengendalikan situasi eksternal, sehingga yang menjadi kunci adalah bagaimana meningkatkan kesadaran dan menyikapi keadaan secara bijaksana. Sementara itu, Mas Luthfi menekankan pentingnya kemandirian, kekuatan mental, serta keberanian untuk mengevaluasi diri sebagai langkah konkret menghadapi realitas yang kompleks.
Kegiatan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ustadz Luqman. Secara keseluruhan, forum Maiyah malam itu tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga ruang refleksi yang menekankan pentingnya transformasi diri. Tema Manusia Generasi Baru ditegaskan sebagai ajakan untuk membangun individu yang mandiri, sadar, dan berdaya, sebagai respons atas tantangan zaman yang semakin dinamis.
#Redaksi_SP








