Saat ini sepertinya kita sering menganggap hidup terasa tak masuk akal. Kita menyaksikan bagaimana orang yang curang, tidak jujur, bahkan gemar menyengsarakan manusia lain justru hidup dengan sangat berjaya. Namun, berbanding terbalik dengan orang yang jujur, adil, dan bijaksana dalam menjalani kehidupan, yang justru selalu dipertemukan dengan berbagai kesempitan hidup.
Di hadapan kenyataan seperti itu, yang paling mudah tumbuh sering kali adalah prasangka kepada keadaan, kepada manusia, dan perlahan-lahan kepada Allah. Di sinilah makna husnuzon menemukan tempatnya. Husnuzon hadir ketika segala sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan, sementara hati tetap tegak di jalannya meskipun kenyataan menggoyahkan keyakinan kita.
Husnuzon bukan sebuah trik untuk menolak realitas dengan sikap pasrah. Husnuzon juga tidak mengharuskan kita menganggap bahwa semua baik-baik saja. Salah satu unsur terpenting dari husnuzon adalah keberanian mengakui bahwa dunia memang penuh ketimpangan, seraya tetap memelihara keyakinan bahwa Allah bekerja dengan ukuran yang jauh melampaui jangkauan akal manusia.
Dalam esainya *Puji Tuhan atas Keterombang-ambingan*, Mbah Nun menulis, *”Tetapi kondisi itu tidak mengubah keyakinan Jamaah Maiyah terhadap Allah, tidak mengubah muatan harapan-harapan masa depannya dan bunyi doa-doanya.”* Kalimat ini mengingatkan bahwa iman bukanlah keyakinan yang bergantung pada situasi. Justru ketika kehidupan terasa terombang-ambing, ketika doa belum menemukan bentuk pengabulannya, dan ketika jalan masih dipenuhi tanda tanya, manusia diajak untuk tetap menjaga arah hatinya kepada Allah. Husnuzon tidak menuntut kita berhenti bertanya. Husnuzon mengajak setiap pertanyaan tetap berangkat dari kepercayaan dan tidak tumbuh dari keputusasaan.
Masihkah kita sanggup berhusnuzon ketika yang kita cintai bernama Indonesia? Ketika setiap hari mata kita disuguhi berita yang mengikis kepercayaan, apakah yang sedang hilang dari negeri ini: harapan, atau justru kemampuan kita untuk tetap percaya?
Mari kita temukan jalan husnuzon itu bersama-sama di forum kita tercinta, Bangbang Wetan. Bersama-sama kita menata arah husnuzon agar tergolong *khairul umūri awsathuha*—sebaik-baik urusan adalah yang berada di tengah atau seimbang. Bagaimana menjalankan husnuzon yang tidak menjelma kepasrahan, namun tetap terhindar dari sikap serampangan dalam memaknai setiap kenyataan yang Allah bentangkan di hadapan kita.








