Bulan Agustus bagi kita bangsa Indonesia selalu mengajak kita berbicara tentang kemerdekaan. Tentang tanah air, bangsa, sejarah, perjuangan, dan tentang mereka yang dahulu mengangkat senjata, mempertaruhkan nyawa, agar hari ini kita dapat menyebut negeri ini sebagai tanah air merdeka.
Tetapi barangkali, setiap kali kita memperingati kemerdekaan, ada satu pertanyaan yang perlu kita bawa sedikit lebih dalam. Setelah manusia merdeka dari penjajahan, apakah ia sungguh telah merdeka? Tentu saja kita merdeka sebagai hasil perjuangan para pahlawan. Tapi akankah seseorang cukup hidup di negeri yang merdeka, tetapi masih diperbudak oleh banyak aspek. Bisa jadi kita hanya menjadi peserta hingar-bingar tapi tidak melanjutkan aspek penting dalam meraih kemerdekaan yakni: perjuangan. Tidak selalu dengan angkat senjata tapi tak memihak pada sikap yang tidak mulia, bahkan terus berupaya melahirkan sikap lebih terpuji.
Sinau Bareng di bulan Agustus dan juga bulan Rabiul Awwal ini, kita tidak hendak sekadar membicarakan kemerdekaan sebagai sebuah peristiwa sejarah. Namun mencoba meraih kemerdekaan itu. Kita akan membawa bekal teladan dari satu sosok, Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Yang seluruh hidupnya mengajarkan kepada kita cara meneguhkan Pusat, menempatkan manusia, bangsa dan dunia. Beliau hadir membawa rahmat bagi seluruh alam.
Beliau membaca masyarakatnya, menyaksikan jahiliyyah, melihat penindasan, monopoli, kesombongan, ketimpangan, dan perbudakan manusia atas manusia. Lalu ia tidak berhenti pada membaca. Ia mengishlah kehidupan.
Di sini kita akan mencoba melihat kembali makna nasionalisme Muhammad dalam tulisan Mbah Nun, yakni kecintaan kepada tanah air yang tidak berhenti pada kebanggaan terhadap identitas, tetapi bergerak menuju keselamatan manusia.
Bangsa harus kita cintai, kemerdekaan harus disyukuri, tetapi tidak boleh jadi pembatas bagi rahmat Allah. Sehingga kemerdekaan boleh dirayakan, tetapi jangan sampai kemerdekaan itu justru melahirkan bentuk-bentuk kelaliman yang baru. Maka dari sana kita akan masuk ke sebuah kalimat yang sederhana, tetapi sangat dalam:
Ilaahii anta maqṣuudii, wa ridhoka matluubii, a’tini mahabbataka wa ma’rifataka.
Ya Allah, Engkaulah tujuanku, dan ridha-Mu lah yang kucari. Karuniakan kepada hamba Cinta-Mu dan mengenal-Mu.
Maka di bulan kemerdekaan dan bulan Maulud ini, mari kita duduk bersama, sinau bareng. Membuka kembali ruang di dalam diri, membaca kehidupan, membaca perjalanan manusia, membaca perjuangan Kanjeng Nabi, lalu bertanya dengan jujur kepada diri masing-masing. Jangan-jangan kemerdekaan yang selama ini kita rayakan di luar, belum rampung kita perjuangkan kemerdekaannya di dalam? Mari mencari kembali jalan menuju kemerdekaan yang paling hakiki yakni merdeka menjadi Abdillah.








