“Hanyakal” adalah sebuah kata yang menggambarkan keadaan ketika segala sesuatu terasa tidak lagi berada pada tempatnya. Nilai bertukar dengan kepentingan, amanah berganti ambisi, dan kejujuran sering kali dikalahkan oleh keuntungan. Hanyakal bukan hanya tentang negara yang gaduh, tetapi juga tentang manusia yang mulai kehilangan arah dalam memaknai hidup.
Hari ini kita menyaksikan banyak ironi. Korupsi menjadi tontonan yang berulang, kepercayaan kepada pemimpin terus tergerus, hukum kerap dipertanyakan, sementara masyarakat dipaksa hidup di tengah ketidakpastian. Di sisi lain, teknologi berkembang begitu cepat, tetapi tidak selalu diiringi dengan pertumbuhan akhlak dan kebijaksanaan. Kita semakin mudah terhubung, tetapi semakin sulit memahami satu sama lain.
Lalu pertanyaannya, benarkah yang sedang hanyakal hanya negara? Ataukah sebenarnya cara berpikir, cara merasa, dan cara kita menjalani kehidupan juga sedang mengalami kekacauan?
Dalam perspektif Maiyah, persoalan bangsa tidak bisa diselesaikan hanya dengan menunjuk siapa yang salah. Karena setiap sistem dibangun oleh manusia, dan kualitas sistem akan selalu mengikuti kualitas manusianya. Jika manusia kehilangan kejujuran, maka lembaga akan kehilangan integritas. Jika manusia kehilangan rasa malu, maka kekuasaan akan kehilangan amanah.
Maka HANYAKAL bukan forum untuk menghakimi siapa pun, melainkan ruang untuk bercermin. Jangan-jangan kita mengecam korupsi besar, tetapi masih membiarkan ketidakjujuran kecil dalam kehidupan sehari-hari. Jangan-jangan kita menuntut perubahan dari atas, tetapi belum berani memperbaiki diri sendiri.
Diskusi ini mengajak kita melihat bahwa bangsa yang besar tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan akal, hati, dan nurani. Sebab peradaban tidak runtuh karena kurangnya gedung megah, melainkan karena hilangnya keadilan, kejujuran, dan kasih sayang di antara manusianya.
Di tengah keadaan yang terasa hanyakal, Maiyah mengajak kita untuk tetap menjaga kewarasan. Tidak mudah terprovokasi, tidak mudah membenci, tidak kehilangan harapan, dan tidak berhenti belajar. Karena perubahan sejati selalu dimulai dari manusia yang mampu menata dirinya sebelum ingin menata dunia.
Malam ini, mari kita duduk dalam lingkaran Panglawungan Rasa. Bukan untuk mencari siapa yang paling benar, tetapi mencari hikmah yang paling mendekatkan kita kepada kebenaran. Bukan untuk memperbesar perbedaan, tetapi memperluas pemahaman.
Sebab “HANYAKAL” bukan akhir dari perjalanan bangsa. Ia adalah peringatan agar kita kembali menata rasa, meluruskan akal, menguatkan iman, dan menghidupkan kembali kemanusiaan. Dari sanalah peradaban yang lebih baik dapat dimulai.








