Ada istilah yang sering kita dengar sehingga terasa biasa. Ada pula istilah yang jarang terdengar, tetapi dibalik itu tersirat makna yang dalam untuk kita renungi. Salah satunya adalah Gunungan Jalĕr.
Sebagian orang mungkin langsung membayangkan gunungan dalam tradisi Jawa. Sebagian lagi mungkin membayangkan sosok laki-laki yang memikul beban kehidupan. Keduanya tidak sepenuhnya keliru.
Gunungan adalah sesuatu yang menjulang. Tinggi. Besar. Sarat isi. Dalam berbagai tradisi Nusantara, gunungan sering dimaknai sebagai simbol kehidupan itu sendiri: tentang perjalanan, harapan, perjuangan, sekaligus pengabdian. Sedangkan jaler berarti laki-laki. Maka Gunungan Jaler dapat dibaca sebagai lambang tentang amanah kehidupan yang dipikul oleh seorang laki-laki sepanjang usianya.
Sejak kecil seorang laki-laki tumbuh bersama tuntutan. Ia diajarkan untuk bangkit ketika jatuh, bertahan ketika keadaan sulit, dan terus berjalan ketika jalan terasa berat. Ketika dewasa, gunungan itu bertambah besar. Ia tidak lagi hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga orang tua, pasangan, anak-anak, keluarga, bahkan lingkungan di sekitarnya.
Mungkin karena itulah banyak orang mengatakan bahwa laki-laki hidup untuk menghidupi.
Ungkapan itu tentu tidak sepenuhnya benar, tetapi juga tidak sepenuhnya salah. Sebab dalam banyak kebudayaan, termasuk dalam khazanah Islam dan Jawa, laki-laki dilekati dengan tanggung jawab untuk melindungi, menjaga, dan memastikan kehidupan terus berjalan.
Allah SWT berfirman:
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan.” (QS. An-Nisa: 34)
Ayat ini sering dipahami sebagai keistimewaan. Padahal boleh jadi ia lebih dekat kepada amanah daripada keistimewaan. Karena bersama kepemimpinan selalu mengandung pertanggungjawaban.
Seorang anak laki-laki kelak akan diminta berbakti kepada kedua orang tuanya. Seorang suami akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya. Seorang ayah akan ditanya tentang anak-anaknya. Bahkan seorang pemimpin negara pun akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya.
Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula amanah yang dipikulnya.
Menariknya, gunungan dalam tradisi Keraton Jawa (seperti Yogyakarta dan Surakarta) terdapat pula pasangan simboliknya, yaitu Gunungan Estri. Jika Gunungan Jalĕr sering dimaknai sebagai lambang ikhtiar mencari dan mengumpulkan, maka Gunungan Estri melambangkan kemampuan mengelola, merawat, dan menghidupkan apa yang telah diperoleh. Keduanya tidak saling mengalahkan, tidak pula saling meninggikan. Keduanya hadir untuk saling melengkapi, sebagaimana kehidupan dibangun oleh kerja sama bukan suatu perlombaan kecuali dalam kebaikan.
Namun di situasi dan kondisi saat ini terdapat tantangan yang berbeda.
Banyak laki-laki berlomba menjadi sukses, tetapi lupa belajar bertanggung jawab. Banyak yang ingin dihormati sebagai pemimpin, tetapi tidak siap memikul amanah kepemimpinan. Banyak yang ingin berada di depan, tetapi enggan menjadi orang pertama yang disalahkan ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan.
Padahal hakikat pemimpin bukanlah yang paling berkuasa, melainkan yang paling siap mempertanggungjawabkan apa yang dititipkan Tuhan kepadanya.
Maka muncul pertanyaan yang layak kita renungkan bersama:
Apakah kita masih menganggap tanggung jawab sebagai beban, atau sudah memahaminya sebagai jalan pengabdian?
Sebab boleh jadi yang membuat seseorang lelah bukanlah beratnya amanah, melainkan karena ia belum menemukan makna dari amanah itu sendiri.
Maka malam ini kita tidak sedang membicarakan siapa yang paling kuat, siapa yang paling sukses, atau siapa yang paling berkuasa. Kita sedang belajar memahami amanah yang Allah titipkan kepada diri kita masing-masing.
Seorang laki-laki bukanlah seberapa tinggi ia berdiri, melainkan seberapa bertanggung jawab ia terhadap apa yang dipikulnya.
Mari kita sinau bareng, menyelami makna Gunungan Jalĕr dari berbagai sudut pandang. Bukan untuk mencari siapa yang benar karena kebenaran sejati hanyak milik Allah SWT, melainkan untuk menemukan kembali makna tanggung jawab, pengabdian, dan kepemimpinan dalam kehidupan kita masing-masing untuk bekal kita meniti jalan pulang, sambil membawa tanggung jawab yang sudah kita sepakati baik kita sadari ataupun tidak sejak kehidupan kita dimulai. (Redaksi Tong-il Qoryah)








