Background Ambience
Cerita dari Musuh Setia
Cerita Simpul

Cerita dari Musuh Setia

MyMaiyah.id
MyMaiyah.id

‎Udara dingin menyelimuti OTES (Omah Tengah Sawah) di Dusun Bumbungan, Desa Sumbersuko, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Di tempat yang sederhana itu, Sinau Bareng Maiyah Sulthon Penanggungan kembali digelar. Kali ini mengusung tema yang mengundang banyak perenungan: “Musuh Setia”, menemukan medan perjuangan di dalam diri.

‎‎Sekitar dua belas jamaah hadir malam itu. Meski jumlahnya tidak banyak, suasana yang tercipta tetap hangat dan penuh keakraban. Seperti biasanya, para jamaah datang dengan membawa cerita, kegelisahan, dan harapan masing-masing. Mereka duduk lesehan, saling menyapa, bertukar kabar, dan menikmati kebersamaan yang telah menjadi ruh dari setiap pertemuan Sulthon Penanggungan.

‎‎Sebelum acara dimulai, ada pemandangan yang menarik perhatian. Para pegiat yang bertugas mengiringi sholawat malam itu tampak kompak mengenakan baju putih dan kopyah Maiyah. Kesederhanaan penampilan mereka justru menghadirkan kesan khidmat sekaligus akrab, seolah menjadi simbol bahwa malam itu semua hadir untuk belajar dan mengingat Allah bersama-sama.

‎‎Acara dibuka dengan pembacaan tawashshul yang dipimpin oleh Cak Taufiq. Setelah itu, Cak Rochim membacakan Surat Ar-Rahman yang mengalun tenang di tengah malam yang dingin. Lantunan ayat demi ayat membawa jamaah memasuki suasana perenungan. Sholawat Banjari dari para pegiat Sulthon Penanggungan kemudian menambah kehangatan forum dan menghidupkan semangat kebersamaan.

‎Dalam pengantar acara disampaikan bahwa tema Musuh Setia dipilih untuk mengajak setiap orang menemukan siapa sebenarnya musuh yang paling dekat dengan dirinya. Sebab tidak semua musuh datang dari luar. Ada musuh yang justru berjalan bersama kita setiap hari, hidup di dalam diri, dan sering kali tidak disadari keberadaannya.‎

‎Pada sesi pemaparan materi, Mas Azhar mengajak jamaah menelusuri kisah permusuhan antara manusia dan iblis yang bermula dari kesombongan. Namun beliau menegaskan bahwa iblis tidak memiliki kemampuan untuk memaksa manusia melakukan keburukan. Yang dilakukan iblis hanyalah membisikkan godaan dan memanfaatkan celah-celah kelemahan yang ada pada diri manusia.

‎Dari sinilah pembahasan berkembang menuju pemahaman bahwa medan perjuangan yang sesungguhnya bukan berada di luar diri, melainkan di dalam hati manusia sendiri. Nafsu, ego, kesombongan, kemalasan, dan berbagai keinginan yang tidak terkendali sering kali menjadi jalan masuk bagi godaan.

‎Mas Azhar menjelaskan bahwa Allah menghadirkan ujian bukan semata-mata untuk menyulitkan manusia. Justru melalui ujian itulah manusia ditempa agar mengenal dirinya sendiri. Dalam setiap kesulitan, kegagalan, maupun keberhasilan, manusia diberi kesempatan untuk melihat kualitas iman dan akhlaknya.

‎Pembahasan malam itu kemudian mengalir pada korelasi antara ujian, kesuksesan dunia, iman, dan akhlak. Jamaah diajak melihat bahwa kesuksesan bukan selalu tanda kemuliaan, sebagaimana kesulitan juga bukan selalu tanda keburukan. Semua bergantung pada bagaimana seseorang memaknai dan merespons keadaan yang sedang dihadapinya.

‎Salah satu pertanyaan yang menarik muncul dalam sesi diskusi:

‎“Bukankah ujian sendiri adalah untuk menggoyahkan iman, lantas kenapa dalam ujian kita tetap butuh iman?”

‎Pertanyaan tersebut melahirkan diskusi yang cukup mendalam. Salah satu penjelasan yang muncul adalah bahwa ujian memang menjadi sarana untuk menguji kualitas keimanan seseorang. Namun justru karena itulah iman dibutuhkan. Iman menjadi kompas yang membantu manusia memahami ujian secara benar.

‎Dua orang bisa menghadapi persoalan yang sama, tetapi menghasilkan respons yang berbeda. Ada yang menjadi putus asa, marah, dan menyalahkan keadaan. Ada pula yang menjadikannya sarana belajar, memperbaiki diri, dan semakin mendekat kepada Allah. Perbedaannya terletak pada cara memaknai ujian tersebut.

Di sela-sela diskusi, suasana semakin hidup ketika Cak Sule menghibur jamaah dengan membawakan lagu campursari Pamer Bojo karya almarhum Didi Kempot. Tawa dan senyum jamaah mengisi malam yang sebelumnya penuh perenungan. Seperti biasa, forum Maiyah selalu memberi ruang bagi keseimbangan antara berpikir, merasa, dan bergembira bersama.

‎Salah satu peristiwa tak terduga terjadi saat sesi sholawat berlangsung. Tiba-tiba vokalis sholawat, Cak Luqman, menerima telepon darurat yang membuat lantunan sholawat dihentikan sejenak ketika intiqal (peralihan ke jenis sholawat berikutnya). Ternyata telepon tersebut berasal dari istrinya yang mengabarkan bahwa ada tetangga mertuanya yang membutuhkan pertolongan medis. Sebagai seorang tenaga kesehatan, Cak Luqman tentu harus memastikan kondisi tersebut. Setelah menerima informasi yang diperlukan, beliau kembali melanjutkan sholawat hingga selesai.

‎Peristiwa sederhana itu seolah menjadi contoh nyata bahwa ibadah tidak hanya hadir dalam bentuk lantunan dzikir dan sholawat, tetapi juga dalam kepedulian terhadap sesama yang sedang membutuhkan pertolongan.

‎Tepat pukul 00.15 WIB, forum ditutup dengan wirid Maulan Siwallah yang dilantunkan oleh Cak Sule, kemudian doa dipimpin oleh Cak Luthfi. Setelah sesi foto bersama, sebagian jamaah beranjak pulang, sementara sebagian lainnya masih melanjutkan obrolan ringan yang penuh keakraban.

‎Malam itu, tema Musuh Setia meninggalkan pelajaran penting bahwa perjuangan terbesar manusia sering kali bukan melawan orang lain, melainkan melawan dirinya sendiri. Musuh yang paling dekat bukan selalu yang tampak di depan mata, tetapi bisa berupa ego, nafsu, dan kecenderungan yang menjauhkan diri dari Allah.

‎Karena itu, istiqomah bukanlah tentang menjadi manusia yang sempurna. Istiqomah adalah kesetiaan untuk terus berjalan, terus belajar, dan terus bangkit setiap kali terjatuh. Menikmati setiap proses kehidupan, termasuk menerima ujian sebagai bagian dari kasih sayang Allah yang sedang membimbing hamba-Nya menuju kedewasaan iman.

‎Malam itu para jamaah pulang dengan hati yang hangat, pikiran yang lebih jernih, dan semangat baru untuk menjaga iman, memperbaiki akhlak, serta setia menempuh perjalanan menuju ridha Allah SWT.

‎Pesan yang dapat dibawa pulang adalah sederhana: jangan menunggu menjadi baik untuk memulai perjalanan, tetapi mulailah perjalanan itu agar Allah menuntun kita menjadi lebih baik. Sebab waktu terus berjalan, dan setiap hari adalah kesempatan baru untuk memperbaiki diri sebelum akhirnya kita kembali kepada-Nya. #Redaksi_SP

Bagikan:
MyMaiyah.id

MyMaiyah.id

Tulisan Terbaru dari MyMaiyah.id

HOME