Seperti yang sudah banyak kita ketahui seperti diskriminasi masih menjadi hal yang lumrah, hukum negara yang mulai dipertanyakan, tingkah para petinggi yang tidak sesuai dengan apa yang semestinya, banyak aspirasi yang tidak didengar dan lebih mengutamakan ketamakan dan egoisme kelompok maupun diri sendiri.
Contoh dari berita yang sekarang sedang hangat terkait, data masyarakat yang dijadikan alat transaksi dengan negara lain, entah itu benar fakta yang terjadi atau kita yang masih gampang terbawa hoaks yang selalu membodohi kita. Dan memang jika benar adanya masihkah kita punya alasan untuk gembira menjadi warga indonesia? Jika kita tidak merasa aman kepada negara kita sendiri.
Namun anehnya, atau justru hebatnya, rakyat Indonesia ini luar biasa. Di tengah tekanan, mereka tetap bisa santai. Tetap bisa tertawa. Dengan cara mereka mencari kebahagiaan dari dalam dirinya sendiri bukan dari negara.
Kepercayaan terhadap negara di masa sekarang mungkin menjadi semu dan mulai di pertanyakan. Jika negara tak lagi mampu menghadirkan kepercayaan, mungkin sudah saatnya kita menoleh ke arah lain pada diri sendiri, pada sesama warga. Atau lingkungan sekitar kita. Karena di tengah rapuhnya sistem, seringkali harapan justru lahir dari kebersamaan yang kecil, dari inisiatif warga yang tetap peduli dan bergerak, meski perlahan.
Mungkin kita bisa sedikit tirakat dan optimis karena meski negara memang masih belum bisa menggembirakan rakyatnya, tetapi seperti kata Mbah Nun, mampu menciptakan kegembiraannya sendiri. Dan dari situlah mungkin harapan bisa tumbuh.
Monggo, dari beberapa argumen tersebut bisa membuka banyak pintu pemikiran jamaah dari semua kalangan. Tema ini penting kita diskusikan dan telaah bersama dalam forum majelis ilmu BangBangWetan x Kartar manukan edisi Agustus 2025.
(Redaksi Bangbang Wetan)








