Sakinah sering dipahami sebagai tujuan. Sesuatu yang dicari, diupayakan, dan diharapkan hadir dalam hidup: ketenangan, ketenteraman, dan kedamaian. Padahal, ketika menelusuri Al-Qur’an, ada hal menarik yang mungkin luput dari perhatian kita. Gusti Allah tidak sekadar menyebut sakinah sebagai keadaan yang diinginkan manusia. Ada petunjuk tentang dari mana sakinah berasal dan bagaimana ia hadir dalam kehidupan.
Ketika menyebut sakinah, Al-Qur’an berulang kali menggunakan kata kerja anzala (أَنْزَلَ): menurunkan. Jejak itu dapat ditemukan dalam beberapa ayat:
“Tsumma anzalallaahu sakiinatahuu ‘ala rosuulihi wa’ alal mu’minin”
Lalu Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang beriman. (QS At-Taubah: 26).
“Fa anzalallahu sakinatahu ‘alaihi.”
Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepadanya. (QS At-Taubah: 40).
“Huwalladzi anzalas-sakinata fī qulubil mu’minin.”
Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang beriman. (QS Al-Fath: 4).
“Fa anzalas-sakīnata ‘alaihim.”
Lalu Dia menurunkan ketenangan kepada mereka. (QS Al-Fath: 18).
“Fa anzalallahu sakinatahu ‘ala rasulihi wa ‘alal mu’minīn.”
Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang beriman. (QS Al-Fath: 26).
Bahkan ketika kata sakinah muncul dalam QS Al-Baqarah ayat 248, ia tetap disebut sebagai sesuatu yang berasal dari Allah:
“Fihi sakinatun min rabbikum.”
Di dalamnya terdapat sakinah dari Tuhanmu.
Menariknya, dari beberapa ayat tersebut Al-Qur’an tidak menggunakan kata nazzala, padahal sama-sama bermakna menurunkan. Dalam ilmu sharaf, keduanya memang berasal dari akar kata yang sama, yaitu nun-zay-lam (ن ز ل).
Namun para ulama bahasa memberi nuansa yang berbeda. Nazzala sering dipahami sebagai sesuatu yang berlangsung bertahap, berulang, atau sedikit demi sedikit. Sedangkan anzala lebih dekat kepada makna pemberian atau penurunan sebagai satu kesatuan karunia.
Ketika berbicara tentang sakinah, Al-Qur’an justru memilih kata anzala. Barangkali di situ terdapat isyarat yang layak direnungi dan ditadabburi bersama. Bahwa sakinah bukan pertama-tama sesuatu yang diproduksi oleh manusia. Bukan pula semata hasil kemampuan mengelola keadaan. Bukan pula hadiah karena berhasil menyelesaikan semua persoalan.
Sebab ayat-ayat tentang sakinah selalu hadir dalam keadaan yang belum baik-baik saja: saat Perang Hunain diliputi kegentingan, saat Rasulullah berada di Gua Tsur dalam situasi yang mencekam, saat kaum muslimin menghadapi ketegangan gencatan senjata dalam Perjanjian Hudaibiyah, atau ketika hati manusia sedang diguncang oleh rasa takut dan ketidakpastian.
Pada momen-momen seperti itu, yang diturunkan Allah terlebih dahulu bukan kemenangan, bukan pula jalan keluar. Tetapi ketenangan. Gusti Allah sendiri yang memastikan sakinah itu diberikan-Nya setelah manusia melewati masa-masa yang dipenuhi kegentingan dan kecemasan.
Namun Al-Qur’an juga menghadirkan sisi yang lain. Ketika berbicara tentang pasangan hidup, Allah berfirman:
“Wa min ayatihi an khalaqa lakum min anfusikum azwajan litaskunu ilaiha wa ja’ala bainakum mawaddatan wa rahmah.” (QS Ar-Rum: 21).
Pada ayat tersebut terdapat akar kata yang tetap sama: sin-kaf-nun (س ك ن). Namun yang digunakan bukan lagi bentuk sakinah yang diturunkan, melainkan litaskunu ilaiha: agar kalian memperoleh ketenteraman kepadanya.
Jika ayat-ayat sebelumnya berbicara tentang dari mana sakinah berasal, maka ayat ini berbicara tentang di mana sakinah itu dihidupi. Sumbernya tetap Allah. Namun ruang pengalamannya hadir dalam kehidupan manusia: dalam pasangan suami istri, keluarga, persahabatan, persaudaraan, serta berbagai relasi yang mempertemukan manusia untuk saling menenteramkan dan ditenteramkan.
Jika sakinah berbicara tentang karunia yang diturunkan Allah, maka mungkin pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana sakinah itu tetap hidup?
Maka, kata dawam menemukan perjodohan konteksnya dan menjadi menarik untuk direnungi bersama. Dalam bahasa Arab terdapat kata dawam, yang berasal dari akar kata dama-yadumu. Maknanya berlangsung terus, berkesinambungan, tidak terputus. Seperti air yang terus mengalir. Tidak menggenang hingga keruh. Tidak pula mengering lalu hilang. Ia terus bergerak dan menemukan jalannya.
Barangkali sakinah juga demikian. Ia tidak cukup hanya diterima. Ia juga perlu dijaga agar tetap mengalir. Sebab yang sering hilang bukan roso sakinahnya, melainkan kesanggupan manusia—yang dibekali akal dan hati—untuk merawat jalan bagaimana roso sakinah itu dapat terus mengalir dalam kehidupannya.
Maka, jika sakinah adalah sesuatu yang diturunkan oleh-Nya, barangkali dawam adalah cara untuk menjaganya. Atau jangan-jangan, selama ini yang terlalu sering dicari adalah sakinah sebagai hasil, sementara yang luput diusahakan adalah kedawaman dalam merawatnya?
Dawamus Sakinah umpama air yang terus mengalir. Bukan sekadar tentang sampai pada tujuan, melainkan tentang menjaga aliran itu tetap hidup. Merawat kejernihannya, membersihkan sumbatan-sumbatannya, dan memastikan jalannya tidak buntu atau mampet. Sebab ketenteraman bukanlah keadaan yang selesai sekali jadi dalam sekejap mata, melainkan anugerah yang perlu terus dirawat agar tetap langgeng hadir dalam ruang kehidupan.
Barangkali kesadaran itu yang perlu diusahakan dalam tradisi Sakinahan yang diwariskan Mbah Nun. Bukan sekadar mendoakan hadirnya ketenteraman pada satu momentum tertentu, melainkan merawat jalan agar sakinah tetap hidup dan mengalir di sepanjang perjalanan rumah tangga, persaudaraan, serta kehidupan sehari-hari.
Dulur, daur rutin Maiyahan Damar Kedhaton Gresik kali ini bertepatan dengan momentum Ardi (Isal) yang melepas masa lajangnya. Maka, tradisi Sakinahan yang menjadi salah satu warisan ikhtiar-ijtihad Mbah Nun tidak cukup hanya dikenang, tetapi perlu dirawat dan dihidupi bersama sebagai wujud syukur agar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap mengalir dalam paseduluran al-mutahabbina fillah.
Monggo hadir menata hati, menjernihkan pikiran, dan berbareng sinau bareng dalam Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi ke-114 dengan payung tema “Dawamus Sakinah” serta Sakinahan atas pernikahan Arizal Lazuardi Alif Wahyudi (Ardi/Isal) dan Atini El Kifaf, yang diselenggarakan pada:
Hari/Tanggal : Senin, 8 Juni 2026
Pukul : 19.23 WIB
Lokasi : Kediaman Ardi (Isal), Dusun Ngebret, Desa Morowudi, Cerme, Gresik
Redaksi Damar Kedhaton








