Dalam kakawihan Sunda yang akrab sejak masa kanak-kanak, terdapat lirik sederhana: manuk cingkleung cindeten. Para karuhun tidak sedang berbicara tentang burung semata. Manuk adalah perlambang hati dan pikiran manusia: mudah berpindah, mudah tertarik, mudah terbang ke mana-mana mengikuti apa yang dianggap menarik. Karena itulah muncul satu wejangan: cindeten.
Dalam pengertian para leluhur, cindeten bukan sekadar diam. Ia adalah kematangan jiwa. Ketika hati tidak lagi mudah dikuasai oleh gejolak nafsu dan hasrat keduniawian. Ketika manusia mampu mengerem dirinya sendiri. Ketika manuk cingkleung itu perlahan menemukan tempat hinggap. Dari sanalah lahir eling. Kesadaran. Kejernihan. Kemampuan melihat kehidupan dengan lebih utuh. Cindeten adalah ketenangan yang lahir dari kedalaman, bukan dari pelarian.
Namun mungkin ada sesuatu yang perlu ditanyakan kembali pada zaman hari ini. Jangan-jangan cindeten telah mengalami pergeseran makna.
Sebab tidak sedikit ketenangan yang sesungguhnya bukan lahir dari kejernihan hati, melainkan dari keacuhan. Tidak sedikit diam yang bukan lahir dari kebijaksanaan, melainkan dari kelelahan untuk peduli. Tidak sedikit sikap “yang penting urusan sendiri beres” yang perlahan dianggap sebagai kedewasaan, padahal bisa jadi hanyalah cara halus untuk menghindari tanggung jawab terhadap kehidupan bersama.
Hari-hari ini, begitu banyak persoalan hadir di hadapan mata. Ketimpangan terasa semakin dekat. Keadilan sering dipertanyakan. Kesulitan hidup dirasakan banyak orang. Namun semua itu perlahan dianggap biasa. Bukan karena persoalannya selesai, melainkan karena terlalu lama dibiarkan. Yang tumbuh bukan kesadaran, melainkan pembiasaan. Yang menguat bukan kepedulian, melainkan kemampuan untuk tidak terganggu. Di titik inilah cindeten perlu dibaca ulang.
Karena cindeten yang sejati tidak membuat manusia kehilangan kepekaan. Ia justru membuat manusia semakin awas. Semakin mampu mendengar yang lirih. Semakin mampu melihat yang tersembunyi. Semakin mampu merasakan penderitaan sesama tanpa kehilangan kejernihan berpikir. Cindeten bukan memejamkan mata terhadap kenyataan, melainkan menata hati agar mampu menghadapi kenyataan dengan lebih jernih.
Mbah Nun berkali-kali mengingatkan bahwa manusia tidak hidup sendirian. Kehidupan selalu mengandung dimensi kebersamaan, tanggung jawab, dan kasih sayang terhadap sesama. Dalam berbagai tulisan dan forum sinau bareng yang terdokumentasikan di CakNun.com, beliau mengajak untuk tetap eling lan waspada: tidak hanyut oleh arus, tidak mabuk oleh kepentingan, dan tidak kehilangan kepekaan membaca keadaan zaman. Sebab kejernihan bukanlah menjauh dari kenyataan, melainkan kemampuan membaca kenyataan dengan lebih benar.
Maka mungkin persoalan hari ini bukan karena terlalu banyak kegaduhan. Jangan-jangan justru karena terlalu banyak ketenangan yang keliru dimaknai. Terlalu banyak diam yang kehilangan daya hidup. Terlalu banyak kenyamanan yang membuat hati berhenti bertanya. Terlalu banyak cindeten yang ternyata hanyalah nama lain dari ketidakpedulian.
Padahal burung yang telah cindeten bukanlah burung yang kehilangan sayapnya. Ia tetap terbang, tetapi tahu arah. Ia tetap bergerak, tetapi tidak kehilangan kesadaran. Ia tetap hidup di tengah dunia, tetapi tidak diperbudak oleh dunia.
Maka yang perlu direnungkan barangkali bukan bagaimana menjadi tenang. Melainkan bagaimana tetap peduli di tengah ketenangan. Bagaimana tetap eling tanpa tenggelam dalam kegaduhan. Bagaimana tetap jernih tanpa kehilangan keberpihakan kepada kemanusiaan. Dan bagaimana menjaga agar cindeten tidak berubah menjadi alasan untuk membiarkan kehidupan berjalan tanpa arah.
Mari duduk bersama. Melingkar. Menimbang kembali makna cindeten yang diwariskan para karuhun. Apakah ia sekadar ketenangan yang membuat manusia nyaman dengan dirinya sendiri? Ataukah ia ketenangan yang melahirkan kesadaran, kepedulian, dan keberanian untuk tetap menjadi manusia di tengah zaman yang terus bergerak? Sebab mungkin, yang paling dibutuhkan hari ini bukan sekadar manusia yang tenang, melainkan manusia yang tenang sekaligus tetap eling juga peduli.








