Salah satu bahasan yang mengemuka malam itu justru berangkat dari kisah lama Qabil dan Habil. Sebuah cerita yang sering dianggap selesai, padahal mungkin justru terus berulang dalam bentuk yang berbeda.
Disampaikan mas Harianto tentang kisah Qabil-Habil, setelah peristiwa pembunuhan itu, Qabil yang ‘belajar’ dari burung gagak tentang bagaimana menguburkan. Tapi persoalannya tidak berhenti di sana. Sejarah manusia seperti melahirkan “Qabil-Qabil baru”, yang tidak lagi menggunakan cara kasar, tapi lebih halus: sistem, aturan, bahkan wacana.
Dari situ, pembicaraan bergeser pada imperialisme yang kemudian berevolusi menjadi kolonialisme. Bukan lagi penjajahan dengan bedil dan meriam, tapi melalui konsep, sistem, lewat regulasi yang sering kali tidak terasa sebagai penindasan.
“Penjajahannya lewat konstitusi,” ujar mas Harianto memantik jamaah.
Meski hal ini tidak ada tudingan langsung, tetapi ada pertanyaan yang menggantung: apakah mungkin, tanpa sadar, kita juga sedang berada di dalam pola yang sama?

Ketahanan Pangan dan Keserakahan yang Lebih Dalam
Isu ketahanan pangan menjadi salah satu pintu masuk pembahasan. Tapi malam itu, ketahanan pangan tidak dilihat semata sebagai soal produksi atau distribusi. Ada lapisan lain yang dibuka: ketahanan terhadap keserakahan. Lanjut perihal kritik mengkritik ini sebenarnya yang dikritik bukan sekadar sistemnya, tapi motif di baliknya.
Bahwa sering kali, atas nama regulasi, sesuatu yang lebih mendasar justru hilang. “Atas nama regulasi ini etika menjadi hilang, wong dadi ilang kamanungsane (orang jadi hilang martabatnya).” tandas salah satu punggawa Redma (Redaksi Maiyah).
Dari sini, jamaah diajak untuk tidak sekadar menerima aturan sebagai sesuatu yang final. Tapi mengkaji ulang: apakah kebijakan yang ada benar-benar berpihak pada kemanusiaan, atau justru sebaliknya?
Pembicaraan semakin menarik ketika mas Harianto bercerita dan masuk pada cara kerja “penjajahan baru”. Penjajahan jenis ini tidak lagi dengan senjata, tapi lewat dua tangan yang berbeda arah. Mengibaratkan tangan kanan melalui kebijakan, sementara tangan kiri melalui media.
Sistem dibuat sedemikian rupa agar tidak memicu perlawanan langsung. Ada figur publik, ada narasi, ada pembingkaian yang membuat semuanya tampak normal. Bahkan terasa seperti pilihan bebas, padahal mungkin tidak sepenuhnya demikian.
Pada malam itu, forum SabaMaiya tidak berubah menjadi penuh kecurigaan. Justru sebaliknya: menjadi ruang untuk lebih waspada tanpa harus kehilangan akal sehat. apabila memang ada yang perlu dilawan, malam itu memberi arah yang cukup jelas. Bukan dengan kemarahan, melainkan dengan membangun ketahanan dari bawah. Komunitas menjadi salah satu jawabannya.
Masih menurut mas Harianto, “kalau kita pingin urip (hidup) ya harus melawan, bertahan dari lingkar kecil, komunitas. Selaras ungkapan Mbah Tanto Mendut tentang perjumpaan panca indera ini kitab isa belajar pola kejamaahan-kebersamaan.
“Alat pertahanan kita hari ini ya gayeng atas kebersamaan itu.” Pungkasnya.

Dari MBG ke Kesadaran Gizi
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sempat disinggung sebagai contoh. Secara konsep, program ini dianggap baik. Tapi persoalannya bukan hanya pada programnya, melainkan pada cara menjalankannya.
Menurut Pak Farid, perbaikan tidak cukup berhenti pada pemberian, yang lebih penting adalah membangun kesadaran pengetahuan tentang gizi itu sendiri. Misal kalau sekadar menerima, masyarakat akan tetap bergantung, namun jika memahami, masyarakat bisa mandiri.
Sebagai jawaban yang lebih konkret, Pak Farid mencontohkan praktik koperasi di akar rumput. Bukan koperasi formal yang sekadar papan nama, tapi yang benar-benar hidup. Ia bercerita tentang sekitar 200 petani di Kalimantan yang membangun koperasi secara serius. Dari situ, mereka bisa melakukan diversifikasi(penganekaragaman) tidak hanya bertani, tapi juga merambah ke sektor lain seperti pendidikan dan layanan.
Sehingga nanti hasilnya bukan sekadar ekonomi yang bergerak, tapi stabilitas hidup yang lebih terjaga, tentu berkelanjutan. Lain lagi ia menyodorkan sebuah beberapa gagasan dan telah dilakukan melalui koperasinya dalam ekspedisi Indonesia Barunya. Misalnya, gagasan dengan membangun koperasi konsumen yang terhubung langsung dengan produsen.
“Dari komunitas, didata kebutuhannya. dari kebutuhan, dibangun jaringan suplai.” Jelas penulis buku Reset Indonesia.

Di sela pembahasan yang cukup dalam, suasana beberapa kali mencair lewat guyonan. Mbah Tanto, misalnya, merespons pertanyaan jamaah dengan gaya khasnya.
Ketika ada yang bertanya soal bekerja dalam sistem seperti MBG, jawabannya ringan tapi mengena, “teruske mawon mas, paling ora njur ganti iPhone.” Ujar Mbah Tanto Mendut mbombong ati pertanyaan jamaah. Sebelumnya mengulas kelas kita dari tahapan sudra hingga brahmana.
Jamaah tertawa. Tapi seperti biasa di Maiyah, tawa itu tidak pernah benar-benar kosong. Selalu ada yang bisa dipikirkan setelahnya. Namun jawaban agak seriusnya, seorang jamaah yang dilema bekerja di SPPG di kota kecil ini dengan memberikan saran, tidak masalah untuk dilanjut saja, kalau nanti sudah mampu dan bisa berdaya dengan bareng-bareng bersama teman merintis membagikan gizi yang lebih mumpuni untuk anak maupun warga di sekitarnya.

Menjelang akhir, pembahasan sempat menyentuh soal tasawuf. Disebutkan oleh Presiden Komunitas Lima Gunung ini bahwa orang Jawa punya kekayaan spiritual yang tinggi bahkan bisa disejajarkan dengan pemikiran besar seperti Jalaluddin Rumi.
Tapi menariknya, tasawuf di sini tidak dibawa sebagai sesuatu yang jauh dan eksklusif. Sikap ini justru hadir dalam keseharian, cara berpikir, bersikap, sampai pada tahapan ketika memandang hidup.
Milad SabaMaiya ke-10 berakhir tanpa kesimpulan besar. Tidak ada rumusan final ataupun sebuah ajakan yang menggelora. Jamaah pulang pelan-pelan. Sebagian masih berbincang. Sebagian memilih melingkar bernyanyi. Tapi hampir semuanya membawa sesuatu, mungkin sebuah jawaban atau sebuah kesadaran kecil, atau malah membawa keresahan lagi? Wallahu a’lam bissowab.[] (Redaksi SabaMaiya)









