Rutinan pada edisi ini seperti biasa diadakan di rumah Bapak Ilyas dan alhamdulillah dihadiri oleh 6 jamaah. Kami di Kidung Syafa’at sedari awal sudah bersepakat siapapun yang datang dan berapapun yang datang itulah jama’ah dan itulah narasumber.
Pada sesi rutinan sinau bareng Kidung Syafa’at di bulan Juni kali ini mengangkat dan membahas bersama tema “Membersamai Kesulitan”. Tema kali ini sebenarnya bukan tema yang diangkat karena kondisi kita sekarang yang memang sedang berada pada masa sulit tetapi tema ini masih dalam rangkaian dari pembahasan di Kitab Al-Hikam yang tak dinyana ternyata sangat tepat dengan apa yang kita alami sekarang yakni kesulitan.
Kami semua yang hadir pada saat itu bersepakat bersama pada saat ini yang paling besar kesulitan yang dihadapi oleh banyak orang adalah permasalahan ekonomi. Bagaimana beberapa harga barang-barang kebutuhan mulai naik, bagaimana sulitnya mencari kerja dan sebagainya. Dari pembahasan tentang ekonomi tadi ada salah satu jama’ah yang mengingatkan bagaimana Simbah berpesan di beberapa tahun lalu dalam sebuah sinau bareng yaitu kita semua harus melakukan 3 hal; Sabar yang diartikan menabung, investasi atau menahan pengeluaran yang tidak perlu. Kedua adalah swasembada sekecil apapun itu. Ketiga dan yang terakhir adalah memperbanyak doa dan memohon pertolongan pada Allah.
Pembahasan ternyata tidak berhenti pada seputar ekonomi saja. Ekonomi sepertinya terlalu remeh jika dijadikan kesulitan terbesar. Akhirnya pembahasan mulai mengalir. Satu persatu jama’ah mulai bercerita tentang kesulitan yang telah dan sedang dihadapi. Ternyata sangat beragam. Jika dilihat-lihat pada akhirnya sinau bareng kali ini sudah seperti ruang dengar dan ruang nasehat. Banyaknya persoalan dan hal-hal yang dihadapi satu jama’ah lalu diberikan sudut pandang, jarak pandang dan cara pandang yang lain oleh jama’ah yang lain. Hingga pada titik akhir kami semua bersepakat. Apakah disebut kesulitan jika kami sudah tidak menganggap hal tersebuat sebuah hal yang sulit? dan jika memang yang sekarang kita semua hadapi dan jalani memang kesulitan apakah kita masih mau untuk membersamai kesulitan ini sebagai jalan kita untuk beribadah dan mengabdi pada-Nya?








