Background Ambience
Ajian
Mukaddimah

Ajian

Mukaddimah Nujuhlikuran Gerbang Ciamis Juli 2026

MyMaiyah.id
MyMaiyah.id

Kata ajian sering dipahami sebagai ilmu kesaktian. Padahal akar katanya adalah aji: nilai, kehormatan, keluhuran, dan wibawa yang membuat seseorang layak dihormati. Dalam khazanah Nusantara, aji bukan pertama-tama soal kekuatan, melainkan tentang kualitas manusia yang memegang kekuatan itu.

Karena itu, pemimpin yang memiliki aji tidak perlu banyak ancaman agar ditaati. Kehadirannya menghadirkan rasa hormat. Ucapannya dipercaya karena selaras dengan tindakannya. Dalam falsafah Jawa dikenal ungkapan ajining diri saka lathi; harga diri seseorang tampak dari lisannya, dari kesesuaian antara kata dan laku.

Lalu bagaimana membaca keadaan bangsa hari ini?

Barangkali persoalannya bukan semata kekurangan aturan, kekurangan lembaga, atau kekurangan orang pintar. Jangan-jangan yang sedang langka justru aji dalam kepemimpinan nasional.

Jabatan masih ada. Kekuasaan masih berjalan. Pidato masih terdengar. Namun wibawa moral perlahan memudar. Banyak keputusan lahir dari hitungan untung-rugi, bukan dari kejernihan nurani. Banyak kekuasaan dijalankan dengan kewenangan formal, tetapi miskin keteladanan. Yang tersisa sering kali hanya ajian sebagai instrumen kekuasaan, sementara aji sebagai ruh kepemimpinan perlahan menghilang.

Para leluhur bahkan mengajarkan tingkatan kepemimpinan yang lebih tinggi: sekti tanpa aji-aji. Kuat tanpa bergantung pada simbol-simbol kekuasaan. Dihormati bukan karena jabatan, pengawal, ataupun rasa takut, melainkan karena keadilan, kebijaksanaan, dan ketulusan hatinya. Pemimpin seperti itu tetap memiliki tempat di hati rakyat, bahkan setelah ia tidak lagi menduduki kursi kekuasaan.

Sebaliknya, ketika kekuasaan berubah menjadi aji mumpung, jabatan diperlakukan sebagai kesempatan, bukan amanah. Mumpung berkuasa. Mumpung memiliki akses. Mumpung dapat menentukan arah. Pada saat itulah kekuasaan kehilangan kemuliaannya, karena tidak lagi ditopang oleh nilai.

Mbah Nun dalam tulisan Leader Governance: Kepemimpinan Menurut Cak Nun mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan pertama-tama soal posisi, melainkan kemampuan menghadirkan rasa percaya, rasa aman, kearifan, solusi, dan harmoni. Kepemimpinan adalah kualitas, bukan sekadar struktur. Ketika kehadiran seorang pemimpin tidak lagi melahirkan kepercayaan, barangkali yang hilang bukan kekuasaannya, melainkan aji yang seharusnya menjadi sumber kewibawaannya.

Dalam tulisan lain, Pemimpin-3, Mbah Nun menulis, “Di dalam ruang cinta Pemimpin Indonesia hanya ada dua penghuni: Rakyat dan Tuhan.” Barangkali di situlah letak aji yang sesungguhnya. Ketika kepemimpinan tidak lagi dipenuhi oleh ambisi pribadi, kepentingan golongan, atau hasrat mempertahankan kuasa, melainkan oleh keberpihakan kepada rakyat dan pertanggungjawaban kepada Allah.

Maka ajian malam ini bukan untuk mencari kesaktian baru. Ajian adalah ikhtiar menemukan kembali aji yang mulai memudar: dalam kepemimpinan, dalam kehidupan bermasyarakat, dan dalam diri masing-masing. Sebab kepemimpinan yang besar selalu berakar dari kemampuan memimpin diri sendiri—menjaga kejujuran, mengendalikan hawa nafsu, serta berani berpihak kepada kebenaran meskipun tidak selalu menguntungkan.

Mari duduk bersama. Melingkar. Menimbang kembali, apakah bangsa ini sedang kekurangan kekuasaan, atau justru kekurangan aji dalam kekuasaannya? Bagaimana membedakan antara pemimpin yang hanya memiliki ajian untuk mempertahankan kuasa, dengan pemimpin yang memiliki aji sehingga kehadirannya menghadirkan keadilan, kepercayaan, dan kemaslahatan? Sebab mungkin, yang paling dibutuhkan Indonesia hari ini bukan sekadar pemimpin yang kuat, melainkan pemimpin yang memiliki aji.

Bagikan:
MyMaiyah.id

MyMaiyah.id

Tulisan Terbaru dari MyMaiyah.id

HOME