Hidup ini sesungguhnya adalah semesta panggilan.
Langit mengumandangkan adzan melalui matahari, bulan, bintang, dst. Bumi mengumandangkan adzan melalui gunung, sungai, pepohonan, satwa, tanah, dst. Tubuh mengumandangkan adzan melalui sehat, sakit, dst. Hati mengumandangkan adzan melalui rindu, gelisah, syukur, sabar, penyesalan, dst.
Bahkan setiap kehidupan dan kematian adalah adzan yang menyeru manusia agar membaca ayat-ayat Allah di luar diri dan di dalam diri
Namun, tidak setiap adzan didengar. Banyak telinga menangkap suara, tetapi tidak menangkap makna. Banyak mata melihat tanda, tetapi tidak membaca hikmah. Sebab, diantara Adzan dan Udzun, terdapat satu poros yang sering luput dari perhatian, yaitu Idzin.
Idzin Allah (bi Idznillah) adalah gerbang perjalanan ilmu.
Tanpa izin-Nya, adzan hanya menjadi bunyi. Tanpa izin-Nya, ilmu hanya menjadi informasi. Tanpa izin-Nya, telinga hanya menjadi alat pendengar. Akan tetapi, ketika Allah berkehendak membuka pintu hati seorang hamba, maka setiap desir angin menjadi nasihat, setiap peristiwa menjadi pelajaran, setiap ayat menjadi cahaya, dan setiap langkah kehidupan menjadi madrasah.
Panggilan Allah dan kemampuan manusia untuk benar-benar mendengar, selalu ada rahasia Idzin-Nya.
Maka perjalanan ilmu bukanlah perjalanan mencari sebanyak-banyaknya pengetahuan. Perjalanan ilmu adalah perjalanan memantaskan diri agar Allah berkenan membuka pendengaran lahir dan batin. Ketika izin itu datang, telinga berubah menjadi udzunun wa’iyah—pendengaran yang menyimpan hikmah. Ilmu berubah menjadi amal. Amal berubah menjadi adab, akhlak, akal, dan Iman, yang akan mengantarkan manusia menuju kepada Rabb-nya.
Semoga majelis ini menjadi ikhtiar untuk semakin peka mendengar setiap adzan, memohon Idzin Allah agar hati dibukakan, dan dianugerahi udzun yang mampu menangkap hikmah di balik setiap ayat-Nya.
Karena pada akhirnya, ilmu bukanlah apa yang sekadar terdengar, melainkan apa yang Allah izinkan untuk hidup di dalam hati.
Wallahu a’lambishshawab.








