Seperti biasa, Nujuhlikuran diawali dengan Tawashshulan terlebih dahulu. Dalam suasana yang hening dan khidmat, para jamaah menundukkan diri, menghadirkan kesadaran batin sebelum memasuki ruang diskusi. Diskusi pun dimulai. Malam itu, udara terasa begitu dingin, seolah menyusup sampai ke sela-sela percakapan. Di langit, bulan purnama menggantung terang, menyinari halaman dan sudut-sudut ruangan dengan cahaya yang tenang namun tajam, seperti ikut mengawasi jalannya diskusi.
Sebagai perancang pamflet, Boi membuka forum dengan menjelaskan simbol-simbol yang ia hadirkan. Ukiran Cirebon-Pajajaran yang mendominasi latar menggambarkan situasi bangsa yang terasa panas dan gersang. Sementara motif Mega Mendung ia maknai sebagai simbol dari kebodohan, keserakahan, serta kegagalan manusia dalam menggunakan ajian yang dimilikinya. Padahal, menurutnya, Indonesia dianugerahi kekayaan alam yang melimpah. Persoalannya bukan terletak pada kurangnya potensi, melainkan pada cara manusia mengelola dan mempertanggungjawabkan potensi tersebut. Keserakahan segelintir orang telah menutupi jalan menuju kesejahteraan bersama.
Dari pembacaan visual itu, diskusi kemudian bergerak menuju persoalan kepemimpinan. Rizky mengaitkan tema ajian dengan realitas para pemimpin bangsa. Menurutnya, persoalan Indonesia bukan karena para pemimpinnya tidak memiliki ilmu atau kecakapan. Justru sebaliknya, mereka adalah orang-orang terdidik yang memiliki “ajian” dalam arti pengetahuan dan kemampuan. Namun, ajian tersebut sering kali berhenti sebagai pengetahuan, terhalang oleh ego, kepentingan pribadi, maupun kepentingan golongan.
Selanjutnya, Rizky mengulas tulisan Mbah Nun berjudul “Pemimpin yang Tuhan.” Ia mengutip kalimat pembuka yang menurutnya sangat penting dan bermakna. Kalimat tersebut berbunyi “orang yang paling sengsara di dunia adalah ketika tidak ada satu pun orang yang berani menegurnya.” Menurutnya, penggalan itu merupakan ungkapan yang pas, dan mampu merepresentasikan kondisi kepemimpinan di Negara Indonesia. Dimana posisi para pemimpin saat ini bertindak seolah-olah selalu benar. Kalaupun salah, tidak boleh dan tidak akan ada yang berani menegur. Seolah-olah kebenaran tidak bertumpu pada suatu nilai, tetapi pada apa yang mereka ungkapkan—ungkapan yang tidak pernah konsisten. Maka dampaknya, kebenaran pun tidak konsisten. Intinya, sodaqohum al-`adzim (maha benar mereka, dengan segala dalihnya).
Selain itu, ia juga mengulas tulisan Mbah Nun lainnya yang berjudul “Pemimpin yang Takabur.” Melalui tulisan tersebut, ia menjelaskan bahwa seorang pemimpin ternyata harus menampilkan citra cinta-kasih sayang bagi yang dipimpinnya. Karena citra maskulinitas dan kekuasaan hanya baru bisa ditampilkan setelahnya. Sehingga, jika formulasinya demikian, maka ketika seorang pemimpin harus terpaksa menampilkan maskulinitas, dan kekuasaannya, ia tetap berada dalam basis cinta dan kasih sayang.
Aang—siswa reguler Motékar— kemudian memahami ajian sebagai sebuah pelajaran atau ilmu. Menurutnya, manusia haruslah memiliki ajian yang seimbang, antara dunia dan akhirat. Sebab jika tidak seimbang, manusia tidak akan tumbuh menjadi manusia yang sempurna.
Pandangan tersebut disambut Athif (pegiat) melalui pendekatan filsafat modern. Ia mengutip René Descartes yang membedakan manusia ke dalam dua substansi, yaitu res cogitans sebagai dimensi berpikir dan res extensa sebagai dimensi fisik. Keduanya, menurut Athif, tidak dapat dipisahkan. Ketika salah satunya diabaikan, keseimbangan manusia ikut terganggu. Ia juga mengingatkan bahwa dalam khazanah budaya Nusantara, ajian memiliki kedekatan makna dengan jampé, rajah, maupun ageman, yang semuanya tidak sekadar menunjuk pada hal-hal mistik, melainkan juga pada laku hidup yang nyata.
Pembicaraan kemudian bergeser ketika Derry (seorang dosen dan aktivis) memberikan sudut pandang yang berbeda. Ia mengawali dengan kalimat sederhana, tetapi cukup menggugah: “Doa bukanlah lampu ajaib.” Demikian pula ajian. Ia bukan mantra yang secara otomatis mendatangkan keajaiban. Ajian menuntut kesungguhan, proses, dan tanggung jawab dari manusia yang mengamalkannya.
Derry kemudian mengutip pemikiran Hasan Nadir mengenai pencarian makna keberadaan manusia di dunia. Apa pun jawaban atas pertanyaan tersebut, menurutnya, manusia tidak sepatutnya menjalani hidup dengan penuh penyesalan. Sebagai penutup, ia mengangkat kisah Nabi Sulaiman ketika singgasana Ratu Bilqis dipindahkan. Menariknya, manusia dalam kisah itu mampu melampaui kemampuan jin ifrit. Dari sana Derry memungkas pembahasan dengan pertanyaan yang cukup reflektif, “kira-kira, ajian apa yang dimiliki manusia hingga mampu mencapai kedudukan demikian?”
Syamsul (aktivis) kemudian membawa forum pada ajian yang ia peroleh dari Mbah Nun tentang tiga cara manusia memandang kehidupan. Ada yang menjadikan segala sesuatu sebagai cangkul, sehingga seluruh orientasinya bertumpu pada materi. Ada pula yang memandangnya sebagai pedang, yang dapat digunakan untuk kebaikan maupun keburukan. Namun, tingkatan yang paling luhur adalah ketika seseorang memperlakukannya sebagai keris atau pusaka, sesuatu yang dirawat dengan penuh cinta, kehormatan, dan tanggung jawab. Menurutnya, zaman sekarang semakin sedikit orang yang memperlakukan ilmu, pekerjaan, ataupun amanah sebagai pusaka. Kebanyakan hanya menjadikannya sebagai alat untuk mencari keuntungan.
Akke (aktivis) kemudian mengajak peserta kembali meninjau kata ajian itu sendiri. Dengan gaya yang cair, ia sempat menyinggung istilah Ajinomoto sebagai pengantar sebelum mengajak forum memasuki pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana manusia membangun praktik bertafakur, bertapa, atau samadhi dalam kehidupan modern? Pertanyaan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap pengetahuan memerlukan ruang sunyi agar benar-benar menjelma menjadi kesadaran.
Sedangkan Restu (pegiat) melihat ajian sebagai kesaktian yang paling mendasar, yakni kemampuan mengenali diri sendiri. Ia mengaitkannya dengan sebuah hadits; man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu—barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.
Adapun dalam konteks pendidikan, Restu menilai bahwa salah satu persoalan terbesar hari ini adalah semakin lebarnya jarak antara pengetahuan dengan praktik, antara teori dengan kenyataan hidup. Lalu, sebagai penutup gagasannya, ia membacakan puisi Seonggok Jagung karya W.S. Rendra yang kembali mengingatkan pentingnya keberpihakan ilmu kepada realitas masyarakat.
Ajian juga menemukan wujudnya dalam pengalaman hidup Algi, seorang petani muda yang memilih menekuni pertanian organik. Baginya, bertani bukan sekadar soal pekerjaan, melainkan juga tentang mencintai kehidupan tanah dan lingkungan. Ia menyoroti ketergantungan petani terhadap benih, pupuk, dan pestisida sintetis yang membuat mereka kehilangan kemandirian. Dahulu, petani mampu memproduksi benihnya sendiri. Kini, mereka bergantung pada industri. Dalam pandangannya, selama ketergantungan itu terus berlangsung, kemerdekaan petani masih menjadi angan-angan.
Kegelisahan serupa disampaikan Fajar (aktivis). Berangkat dari muqaddimah Nujuhlikuran, ia melihat bahwa kerusakan bangsa berakar pada hilangnya ajian dalam diri para pemimpin. Hal tersebut membawanya pada pertanyaan yang lebih mendasar. Jika agama semestinya menjadi sumber utama segala ajian, mengapa semakin banyak orang beragama tidak selalu berbanding lurus dengan membaiknya kehidupan bersama? Barangkali, agama terlalu sering berhenti pada identitas formal, tanpa benar-benar menjelma menjadi laku hidup.
Menjelang penghujung forum, Athif selaku moderator merajut seluruh pembicaraan menjadi satu benang merah. Pengetahuan memang penting, tetapi pengetahuan saja tidak pernah cukup. Ia baru akan menjadi ajian ketika bertemu dengan pengamalan. Sebab hakikat ilmu bukan terletak pada banyaknya yang diketahui, melainkan pada sejauh mana ia mengubah cara manusia berpikir, bersikap, dan menjalani kehidupannya.
Malam pun semakin larut. Udara dingin masih terasa, sementara cahaya bulan purnama tetap setia menyinari perpisahan kecil di antara para jamaah yang mulai beranjak pulang. Tema tentang ajian tampaknya belum benar-benar selesai dibicarakan. Barangkali, memang begitulah seharusnya. Sebab ajian bukan sekadar sesuatu yang selesai dipahami dalam satu malam, melainkan sesuatu yang harus terus diuji dalam setiap langkah kehidupan. Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya diukur dari apa yang diketahuinya, tetapi dari sejauh mana pengetahuan itu menjelma menjadi laku yang menghadirkan manfaat bagi sesama.








