Ketika Kegembiraan Perlu Diperiksa Kembali (Prakata dari Mukadimah)
Ada kegembiraan yang membuat manusia tumbuh. Tetapi ada pula kegembiraan yang hanya membuat manusia lupa bahwa dirinya sedang kosong.Di antara dua kemungkinan itulah sedulur-sedulur Lingkar Daulat Malaya berkumpul pada Jum’at malam, 31 Juli 2026. Bertempat di lantai 2 Gedung Dakwah Islamiyyah Kota Tasikmalaya, Sinau Bareng Maiyah Lingkar Daulat Malaya Edisi 115 menggelar sebuah majelisan dengan tema yang sederhana dalam bunyi, tetapi panjang dalam kemungkinan perenungannya: “Girang Ku Garing”. “Girang” adalah riang, senang, bahagia, gembira. Sedangkan “garing” adalah keadaan yang kering, hambar, kosong, tidak memberi tambahan kesadaran. Maka “Girang Ku Garing” bukan sedang hendak memusuhi kegembiraan. Justru sebaliknya, ia mengajak kita memeriksa: kegembiraan macam apa yang sedang kita rayakan? Apakah ia membuat jiwa semakin berisi, atau malah semakin kosong?Sebab boleh jadi seseorang tertawa lebar, tetapi di dalam dirinya sedang berlangsung kesepian yang panjang. Boleh jadi seseorang tampak berhasil, tetapi batinnya tidak pernah selesai dengan dirinya sendiri.
Tawashshulan: Mengawali dengan Mengembalikan Diri
Pukul 20.00 WIB, acara diawali dengan Tawashshulan bersama. Sebelum akal dibawa berjalan ke banyak kemungkinan pemikiran, hati terlebih dahulu diajak menunduk. Sebelum berbagai pendapat ditumpahkan, terlebih dahulu disadari bahwa manusia hanyalah makhluk yang sedang mencari jalan pulang.Tawashshulan menjadi semacam pintu awal: bahwa Sinau Bareng bukan forum untuk memenangkan pendapat, melainkan ruang untuk mengoreksi diri. Tidak ada guru yang merasa paling selesai dan tidak ada murid yang boleh merasa paling kurang. Semua duduk sebagai sedulur yang sama-sama sedang belajar membaca kehidupan.Setelah sesi pertama selesai, majelisan berlanjut ke sesi kedua: Sinau Bareng sedulur-sedulur yang hadir.

Girang Sebagai Alas Tikar Majelisan (Ihsan Farhanuddin)
Ihsan Farhanuddin membuka perenungan dengan menempatkan “Girang Ku Garing” sebagai alas tikar untuk membaca perilaku kita sehari-hari. Menurut Ihsan, girang adalah kondisi hati ketika sedang merasa senang, bahagia, riang dan gembira. Sedangkan garing menunjuk pada keadaan hampa, tidak bermakna, tidak menambah kesadaran dan kedewasaan. Di sinilah persoalannya menjadi lebih dalam. Kebahagiaan kadang-kadang berubah menjadi ilusi ketika ego keinginan manusia merasa mempunyai kehendak mutlak. Manusia menginginkan sesuatu, lalu menganggap bahwa segala sesuatu harus berjalan sesuai dengan skenario keinginannya. Padahal ada kehendak Allah yang jauh lebih luas daripada kemampuan manusia menjangkau akibat-akibat dari keinginannya. Dengan kata lain, yang membuat manusia garing bukan karena ia sedang tidak mendapatkan kesenangan, tetapi karena kesenangan itu tidak berhasil mengantarkannya kepada kesadaran.
Gagasan ini bertemu dengan cara Mbah Nun memandang kebahagiaan: kebahagiaan tidak semestinya digantungkan kepada kepemilikan dunia, sebab manusia dapat menemukan kegembiraan melalui penerimaan terhadap keadaan dan kesadaran bahwa segala sesuatu datang dari Allah. Dalam tradisi Maiyah, kegembiraan justru tidak dipisahkan dari penerimaan, rasa syukur dan kebersamaan. Sementara dalam cara berpikir Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh, kebahagiaan dapat dibaca sebagai kemampuan manusia berproses dalam kondisi apa pun. Penderitaan dan tekanan tidak otomatis menjadi lawan kebahagiaan; ia dapat menjadi stressor yang justru membuat manusia tumbuh, sebagaimana pohon jati yang menjadi kuat karena menghadapi tanah yang keras. Maka tema ini seperti sedang mengajak kita mengubah pertanyaan, bukan lagi “Apa yang harus saya dapatkan supaya bahagia?”, melainkan “Bagaimana saya mengelola apa yang Allah hadirkan agar menjadi jalan bertumbuh?”
Kendala Ada, Kendali Tetap Milik Allah (Riki Muhammad Hamzah)
Riki menyampaikan sesuatu yang sangat dekat dengan pengalaman setiap manusia; Dalam hidup selalu menjumpai masalah, ujian atau disebut kendala. Tidak ada perjalanan manusia yang benar-benar steril dari masalah. Tetapi di balik seluruh kendala itu ada satu kesadaran yang perlu dijaga: Allah-lah yang mempunyai kendali. Kita sering mengalami girang ku garing ketika keinginan pribadi kita berbenturan dengan kenyataan. Kita merasa bahagia jika dunia mengikuti kemauan kita dan merasa kecewa ketika dunia tidak menurut. Padahal, dalam perspektif Mbah Nun, manusia perlu belajar menerima keadaan sebagai bagian dari cara Allah menyapa dirinya. Ridha bukan berarti pasif atau menyerah kepada keadaan, tetapi mengolah penerimaan menjadi energi untuk tetap hidup dan bertumbuh. Sedangkan dari perspektif Mas Sabrang, kendala dapat dipandang sebagai stressor: sesuatu dari luar diri yang memberi tekanan. Ia bisa membuat seseorang jatuh, tetapi juga bisa menjadi medium pertumbuhan. Yang menentukan bukan hanya seberapa berat tekanannya, melainkan bagaimana manusia memahami dan merespons tekanan tersebut. Maka kendala bukan selalu tanda bahwa Allah sedang menjauh. Bisa jadi justru melalui kendala itu Allah sedang mengajari manusia tentang batas dirinya sehingga tumbuh kembali kesadaran rindu kepadaNya.

Jangan Berhenti di Girang, Lanjutkan ke Giring (Wildan Zaki Rabbani)
Zaki melontarkan permainan kata yang menarik: “Girang ulah berhenti ka garing, tapi kudu lanjut ka giring.” Jangan berhenti dari girang yang kemudian garing. Tetapi teruskan belajar menemukan giring, yaitu kembali kepada hakikat tujuan hidup.Kalimat itu seperti membalik arah perjalanan. Kegembiraan jangan berhenti sebagai sensasi. Jangan sampai tertawa hanya menghasilkan lelah di pipi, apalagi motifnya gimmik pencitraan, tetapi tidak menghasilkan apa-apa di dalam jiwa. Mbah Nun berkali-kali menanamkan pentingnya menjadi manusia seutuhnya. Dalam kehidupan orang Maiyah, manusia tidak sedang didorong untuk mengejar identitas tertentu, melainkan menata dirinya agar pulang kepada kemanusiaannya. “Menjadi manusia yang seharusnya”. Mas Sabrang pernah bilang, manusia dengan cara berpikir yang lebih eksperimental, juga sering membawa manusia untuk melihat hidup sebagai proses pertumbuhan. Seperti tanaman yang tidak cukup hanya diberi kondisi nyaman, manusia membutuhkan proses, tekanan, pengalaman dan pengolahan untuk menjadi lebih kuat. Maka giring bisa kita baca sebagai gerak pulang: dari kegembiraan menuju kesadaran, dari kesenangan menuju makna, dari keinginan menuju tujuan hidup.
Bahagia Bisa Bersembunyi dalam Hal-Hal Remeh (Acep Ahmad Muhadjir)
Acep membawa pembicaraan turun ke bumi. Menurutnya, kebahagiaan sering kali justru hadir dari tindakan atau hal-hal yang sederhana dan remeh-temeh. Karena itu manusia perlu bersyukur atas apa pun kondisi dirinya dan kehidupannya. Tidak perlu banyak gaya untuk terlihat bahagia sehingga menciptakan keadaan yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Ada ironi besar dalam kehidupan modern: manusia sering menghabiskan energi untuk terlihat bahagia, sementara kebahagiaan yang sebenarnya sudah tersedia dalam kehidupan sehari-hari. Pandangan ini dekat dengan napas Mbah Nun yang tidak menempatkan kebahagiaan sebagai hasil dari sebanyak-banyaknya kepemilikan. Kebahagiaan dapat tumbuh dari penerimaan dan rasa syukur terhadap keadaan. Bahkan kebersamaan sederhana dalam Maiyah dapat menjadi ruang kegembiraan yang tidak membutuhkan kemewahan. Mas Sabrang memberi kemungkinan pembacaan lain: kondisi tidak ideal tidak otomatis membuat manusia tidak bahagia. Pohon jati yang tumbuh di tanah keras memang menghadapi kesulitan, tetapi justru kondisi tersebut dapat membuatnya lebih kuat. Kebahagiaan, dalam pengertian ini, bukan sekadar kenyamanan, melainkan kemampuan menemukan keasyikan dalam proses kehidupan. Jadi kebahagiaan itu tidak terletak pada adanya rumah besar, kendaraan baru, atau pengakuan orang lain. Bisa jadi ia adalah secangkir kopi yang diminum dengan tenang, percakapan yang jujur, badan yang masih diberi kesempatan bekerja, atau hati yang masih sanggup mengatakan: Alhamdulillah.

Mengelola Hati, Mengelola Pikiran (Berry)
Berry mengungkapkan bahwa kebahagiaan hakiki berada pada pengelolaan hati dan pikiran yang sesuai dengan apa yang Allah maksudkan.Bukan berarti manusia tidak boleh mempunyai keinginan. Justru keinginan adalah bagian dari dinamika manusia. Yang perlu diperiksa adalah: siapa yang menjadi pusat dari keinginan itu? Jika seluruh hidup hanya berputar pada “saya ingin”, maka manusia mudah kecewa ketika realitas menjawab “tidak”. Tetapi jika manusia mampu menempatkan kehendaknya di bawah kehendak Allah, maka kegagalan sekalipun dapat menjadi bahan pembelajaran. Mbah Nun mengajak manusia untuk tidak menjadikan kebahagiaan sebagai barang yang harus diperoleh setelah semua target dunia tercapai. Kebahagiaan bisa hadir melalui penerimaan dan kedekatan kepada Allah.Apa yang terjadi di luar diri tidak seluruhnya dapat kita kendalikan. Yang dapat dikerjakan manusia adalah mengolah responsnya terhadap keadaan. Tekanan bisa menjadi sumber stres, tetapi bisa pula menjadi bahan pertumbuhan menurut Mas Sabrang. Dengan demikian, kebahagiaan bukan hanya persoalan apa yang terjadi, tetapi juga bagaimana hati dan pikiran membaca apa yang terjadi.
Menempatkan Sesuatu pada Tempatnya (Ihsan Gobras)
Manusia perlu menempatkan sesuatu pada tempatnya, walaupun hanya dengan apa yang tersedia, seadanya, dan sesuai kemampuan optimal yang dimiliki. Di sini muncul semacam etika kesanggupan. Tidak semua orang harus melakukan sesuatu dalam ukuran yang sama. Allah tidak meminta manusia menjadi orang lain. Yang penting adalah kesungguhan mengoptimalkan apa yang memang dititipkan. Dalam spirit Maiyah, Mbah Nun menanamkan kesadaran untuk menjadi manusia seutuhnya dan menumbuhkan spirit memberi sesuai kemampuan. Bukan besar-kecilnya pemberian yang menjadi pusat perhatian, tetapi ketulusan dan manfaat yang lahir darinya. Sabrang pun mengajarkan cara melihat pertumbuhan secara bertahap: tanaman tidak langsung menjadi pohon. Ada bibit, media, air, cahaya, pupuk, waktu dan berbagai kondisi yang berada di luar kendali penanam. Manusia memiliki bagian untuk mengusahakan, sementara hasil akhirnya tidak sepenuhnya berada di tangannya. Maka kebahagiaan sejati mungkin hadir ketika manusia tidak sibuk menjadi “seharusnya siapa”, tetapi bersungguh-sungguh menjadi dirinya yang paling baik di hadapan Allah.

Setiap Pertemuan Adalah Awal (Yusep Samsul Rajab)
Yusep memandang setiap pertemuan sebagai awal. Awal dari datangnya kenikmatan dan kebahagiaan, atau sebaliknya. Semua itu bergantung kepada sikap pikiran dan keadaan hati: rela atau tidak, ikhlas atau tidak. Pertemuan dengan orang lain, peristiwa baru, bahkan masalah sekalipun, tidak pernah sepenuhnya selesai pada saat ia datang. Maknanya baru terbentuk melalui cara kita menyikapinya. Dalam napas Mbah Nun, penerimaan terhadap keadaan menjadi pintu penting menuju kegembiraan. Apa yang hadir dalam hidup dapat dibaca sebagai cara Allah menyapa hamba-Nya. Sementara Sabrang mengajak kita melihat setiap kondisi sebagai bagian dari proses. Bahkan stressor dapat menjadi jalan tumbuh apabila manusia mampu mengubah cara pandangnya terhadap tekanan tersebut.Maka setiap pertemuan adalah awal. Pertanyaannya bukan hanya “apa yang saya dapat dari pertemuan ini?”, tetapi “menjadi manusia seperti apa saya setelah pertemuan ini?”
Malas dan Lalai Bisa Menjadi Pembuka (Yurbi)
Yurbi mengangkat sisi yang lebih sederhana tetapi justru sering luput: malas dan lalai bisa menjadi pembuka.Pembuka bagi apa?Bisa menjadi pembuka bagi kegagalan, kehampaan, bahkan keterlambatan manusia dalam mengenali dirinya sendiri. Manusia kadang tidak kehilangan kebahagiaan karena hidup terlalu berat, tetapi karena dirinya terlalu lama membiarkan kesadaran tertidur.Dalam tradisi Maiyah, kesadaran manusia terus diajak untuk bangun dan mengenali dirinya. Mbah Nun menempatkan proses “menziarahi diri” sebagai usaha memahami siapa sebenarnya manusia, termasuk tujuan hidup, kelemahan dan kekuatannya.Sabrang, melalui gagasan pertumbuhan, mengingatkan bahwa manusia membutuhkan proses dan tantangan untuk berkembang. Kenyamanan yang berlebihan justru dapat melemahkan insting pertumbuhan.Dengan demikian, kemalasan bukan sekadar persoalan tidak bekerja. Ia bisa menjadi bentuk lain dari ketidakhadiran manusia terhadap dirinya sendiri.

Garing adalah Jiwa yang Belum Selesai (Aditya)
Aditya membawa tema “garing” masuk lebih dalam ke wilayah batin.Hampa, menurutnya, bisa menjadi pertanda bahwa diri kita belum selesai dengan hal-hal yang membuat kita kecewa, khawatir, gelisah dan takut.Ada luka yang belum selesai, tetapi kita memaksanya tertawa. Ada kekhawatiran yang belum kita serahkan kepada Allah, tetapi kita menutupinya dengan kesibukan. Ada kekecewaan yang belum kita berdamai dengannya, tetapi kita memaksa diri tampil seolah-olah baik-baik saja.Maka girang ku garing bisa terjadi ketika tawa hanya menjadi lapisan luar yang menutupi batin.Dalam pandangan Mbah Nun, kegembiraan bukan sekadar ekspresi wajah, tetapi berkaitan dengan penerimaan dan ketenteraman dalam menjalani keadaan.
Mas Sabrang memberi bahasa yang menarik untuk membaca persoalan ini: tekanan dari luar diri bisa menjadi stressor. Ia dapat membuat manusia tertekan, tetapi dapat pula menjadi bahan pertumbuhan. Yang diperlukan adalah kemampuan mengenali tekanan tersebut dan mengolahnya, bukan sekadar melarikan diri darinya.Jiwa tidak selalu membutuhkan hiburan. Justru harusnya ia membutuhkan kejujuran.
Tubuh Sehat, Jiwa Sehat, Kehidupan Sehat (Billy Muhammad Ramadhan)
Billy membawa pembahasan ke wilayah kesehatan manusia secara lebih menyeluruh.Ia menyampaikan bahwa sistematika kesehatan menurut ilmu kesehatan tidak hanya berhenti pada aspek biologis. Kesehatan manusia berkaitan pula dengan psikologis, sosial, tradisi dan religiusitas.Lalu muncul pertanyaan yang sederhana tetapi menusuk: secara nalurinya, manusia akan menghindari bara api karena tahu ia panas. Tetapi mengapa banyak manusia justru mengejar dan menganggap biasa saja terhadap yang namanya “uang panas”?Di situlah terdapat anomali perilaku manusia zaman ini. Banyak hal yang dianggap normal oleh masyarakat padahal sebenarnya berpotensi berseberangan dengan fitrah manusia, menimbulkan kedholiman dan keruksakan berkelanjutan.Pembicaraan kemudian bergerak kepada penderitaan. Penderitaan bukan semata-mata musuh yang harus disingkirkan. Ia dapat menjadi ongkos, modal atau pengorbanan untuk menuju tahapan kehidupan berikutnya.Manusia sering pusing bukan karena masalah yang benar-benar terjadi, melainkan karena terlalu detail memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Kita menghendaki masa depan sesuai skenario kita, padahal masa depan berada dalam wilayah kehendak Tuhan.Maka tugas manusia adalah memikirkan yang makro terlebih dahulu. Soal detail, biarkan waktu dan Allah yang mengaturnya.Di sini gagasan Sabrang tentang stressor terasa sangat relevan: tekanan dapat membunuh pertumbuhan atau justru menguatkan pertumbuhan, tergantung bagaimana ia diolah. Sebagaimana pohon jati yang justru menjadi kuat karena tanah keras, manusia dapat tumbuh melalui keadaan yang tidak selalu nyaman. Analogi bertani yang disampaikan dalam majelisan juga menarik: ketika hendak menanam, manusia menyediakan bibit, media tanam dan pupuk. Setelah itu masih ada matahari, hujan, suhu, hama, angin dan begitu banyak faktor yang berada di luar kendali manusia. Manusia bertugas menanam. Allah yang menumbuhkan. Dan mungkin di situlah salah satu sumber kegaringan manusia: kita terlalu ingin menjadi petani sekaligus Tuhan atas tanaman kehidupan kita sendiri.
Keinginan, Kekuasaan, dan Sensitivitas Kemanusiaan
Billy kemudian membawa pembahasan pada wilayah yang lebih luas: keinginan manusia adalah kekuasaan yang dititipkan Allah kepada manusia. Keinginan bukan sesuatu yang harus dimatikan. Tetapi kekuasaan yang tidak diimbangi sensitivitas—terutama empati—akan mudah berubah menjadi kedzaliman dan kemadharatan. Manusia diberi kemampuan untuk menghendaki. Tetapi ia tidak diberi hak untuk menganggap seluruh kehendaknya sebagai kebenaran mutlak. Dalam perspektif Mbah Nun, menjadi manusia seutuhnya berkaitan dengan kemampuan menjaga kelayakan dan kepantasan dalam perilaku, akhlak dan hubungan dengan sesama. Maiyah juga terus menempatkan kemanusiaan sebagai ruang penting untuk belajar memberi, bukan semata mengambil apalagi untuk menguasai. Perspektif mas Sabrang membantu kita melihat bahwa kemampuan manusia selalu memiliki batas. Kita bisa mengusahakan banyak hal, tetapi tidak mampu mengontrol seluruh variabel kehidupan. Karena itu, kesadaran atas batas adalah bagian penting dari kedewasaan. Lalu muncul contoh yang tajam sekaligus menggelikan: orang maling tetapi tidak merasa maling, bahkan menyebutnya sebagai karier. Inilah salah satu wajah Girang Ku Garing: ketika istilah diganti agar hati tidak lagi merasa bersalah. Ketika pencurian disebut strategi. Ketika keserakahan disebut prestasi. Ketika kedzaliman disebut keberhasilan. Ketika egoisme disebut profesionalisme. Yang berubah bukan hanya pada perbuatannya. Justru berawal dari berubahnya cara manusia menamai perbuatannya agar tetap nyaman dengan dirinya sendiri.
Dari Girang Menuju Giring
Malam semakin larut. Tetapi tema “Girang Ku Garing” justru seperti belum menemukan ujungnya. Mungkin memang tidak perlu ada ujung.Sebab Sinau Bareng bukan tempat untuk menyelesaikan kehidupan dalam satu malam. Ia hanya menyediakan cermin. Setelah itu masing-masing sedulur pulang membawa wajahnya sendiri.Dari semua perbincangan malam itu, tampak bahwa girang tidak perlu dimusuhi. Kita justru perlu belajar menikmati kegembiraan dengan benar. Sebab gembira adalah karunia. Yang perlu diwaspadai adalah ketika kegembiraan kehilangan arah dan berubah menjadi kekeringan batin. Girang yang tidak menambah kesadaran berpotensi menjadi garing. Dan dari garing, kita diajak melanjutkan perjalanan menuju giring: menggiring diri kembali kepada hakikat tujuan hidup.Mbah Nun mengajarkan nilai Ridho – penerimaan: bahwa kebahagiaan tidak harus menunggu dunia menjadi sesuai dengan keinginan kita. Dalam tradisi Maiyah, kegembiraan justru dapat tumbuh ketika manusia menerima keadaan, bersyukur, berbagi dan menata kembali hubungan dirinya dengan Allah.
Sabrang mengajarkan napas pertumbuhan: bahwa hidup tidak selalu harus lunak agar manusia dapat berkembang. Tekanan, kesulitan, bahkan penderitaan dapat menjadi bagian dari proses pematangan, selama manusia tidak kehilangan cara membaca dan mengolahnya.

Maka barangkali pertanyaan terpenting dari Edisi 115 bukan: “Apakah saya sedang bahagia?” Melainkan: “Kebahagiaan saya sedang membawa saya ke mana?” Apakah menuju kesadaran atau kelalaian? Apakah menuju syukur atau keserakahan? Apakah menuju kedewasaan atau sekadar pemuasan ego? Apakah membuat kita semakin manusia, atau justru semakin jauh dari kemanusiaan?Karena manusia bisa saja girang ketika mendapatkan sesuatu, lalu garing setelah mendapatkannya. Bisa saja tertawa ketika keinginannya terpenuhi, tetapi kemudian kosong karena tidak tahu untuk apa ia menginginkan semua itu. Dan bisa pula manusia berada dalam keadaan sulit, tetapi hatinya tetap menemukan ketenteraman karena tahu kepada siapa ia bersandar. Di situlah Girang Ku Garing menjadi lebih dari sekadar tema majelisan. Ia menjadi alat ukur batin.Kita tidak dilarang untuk girang. Kita hanya diajak memastikan bahwa kegirangan itu tidak membuat jiwa menjadi garing. Kita boleh menikmati dunia, tetapi jangan sampai dunia menikmati kita.Kita boleh mempunyai keinginan, tetapi jangan sampai keinginan menjadi Tuhan kecil di dalam diri.Kita boleh merencanakan masa depan, tetapi jangan lupa bahwa manusia hanya menyiapkan bibit, media tanam dan ikhtiar; Allah yang menumbuhkan.Dan kita boleh tertawa sebanyak-banyaknya, selama setelah tawa itu selesai, kesadaran kita masih menyala.Sebab pada akhirnya, barangkali yang dicari bukan sekadar girang. Tetapi giring. Menggiring diri pulang. Pulang kepada fitrah. Pulang kepada kemanusiaan. Pulang kepada Allah. Lingkar Daulat Malaya Edisi 115 pun usai. Namun sinau sesungguhnya baru dimulai ketika setiap sedulur kembali kepada kehidupan masing-masing—membawa satu pertanyaan kecil di dalam hati: “Jangan-jangan selama ini aku terlalu girang, tetapi sebenarnya sedang garing?” Dan jika pertanyaan itu mulai mengganggu kenyamanan kita, mungkin justru di situlah kesadaran sedang tumbuh.
Tasikmalaya, 31 Juli 2026








