Kita hidup pada masa yang penuh paradoks.Peradaban bergerak begitu cepat, tetapi manusia semakin kehilangan arah.Teknologi berkembang melampaui imajinasi, tetapi kegelisahan tumbuh lebih cepat daripada kemajuan itu sendiri.Informasi tersedia tanpa batas, tetapi kejernihan menjadi barang langka. Manusia mampu menjangkau bulan, menembus ruang angkasa, menciptakan
kecerdasan buatan, namun sering gagal memahami dirinya sendiri.
Di negeri ini, pembangunan terus berlangsung. Statistik dipamerkan. Angka-angka dipoles. Berbagai program diluncurkan. Berbagai slogan dikumandangkan.Tetapi di balik seluruh gemerlap itu, rakyat menyimpan pertanyaan yang tidak pernah benar-benar terjawab. Mengapa hidup terasa semakin berat? Mengapa bekerja semakin keras tidak selalu membuat hidup lebih layak? Mengapa pendidikan tidak
menjamin masa depan? Mengapa hukum sering tampak kehilangan keberpihakannya kepada keadilan? Mengapa begitu banyak janji diproduksi, sementara kepercayaan terus mengalami erosi? Mengapa semakin banyak orang merasa asing di tanah yang mereka cintai sendiri?
Hari ini kita menyaksikan sebuah kenyataan yang lebih mengkhawatirkan daripada krisis ekonomi. Lebih mengkhawatirkan daripada kenaikan harga.Lebih mengkhawatirkan daripada gejolak politik. Yaitu krisis harapan. Sebab ketika manusia kehilangan uang, ia masih bisa bekerja. Ketika manusia kehilangan jabatan, ia masih bisa berjuang. Ketika manusia kehilangan kekuasaan, ia masih bisa memulai kembali.Tetapi ketika manusia kehilangan harapan, ia kehilangan alasan untuk melangkah. Dan hari ini, yang sedang mengintai banyak manusia bukanlah kemarahan. Melainkan kelelahan. Kelelahan yang perlahan mengikis keyakinan.Kelelahan yang membuat manusia berhenti berharap. Kelelahan yang membuat manusia merasa tidak lagi memiliki daya untuk mengubah keadaan. Inilah titik paling berbahaya dalam sejarah sebuah bangsa. Bukan ketika rakyat melawan. Melainkan ketika rakyat menyerah.
Dalam situasi seperti itulah, manusia kembali menengadah ke langit. Banyak hati mulai berbisik: Apakah akan datang pemimpin yang adil?Apakah akan hadir seseorang yang mampu memulihkan keadaan? Apakah Imam Mahdi sudah dekat? Pertanyaan-pertanyaan itu bukan lahir dari rasa ingin tahu semata. Ia lahir dari kerinduan yang sangat dalam terhadap keadilan. Ia lahir dari dahaga manusia akan kepemimpinan yang jujur. Ia lahir dari keletihan kolektif yang telah terlalu lama memikul beban zaman.
Namun Maiyah mengajarkan sesuatu yang berbeda. Sebagaimana sering diingatkan oleh Mbah Nun: “Masalah manusia bukan kurang pintar, tetapi kurang jernih. “Dan mungkin memang itulah persoalan terbesar kita hari ini.Kita tidak kekurangan informasi. Kita dibanjiri informasi. Kita tidak kekurangan pendapat. Kita dikepung oleh pendapat. Kita tidak kekurangan suara. Kita justru tenggelam dalam kebisingan. Yang hilang adalah kejernihan. Yang hilang adalah kemampuan membedakan hakikat dan ilusi. Yang hilang adalah keberanian untuk melihat kenyataan apa adanya.
Rasulullah SAW mengingatkan umatnya tentang fitnah Dajjal. Bukan semata tentang sosok yang akan muncul di akhir zaman. Melainkan tentang kemampuan kebatilan untuk menyamar sebagai kebenaran. Tentang kepalsuan yang tampil lebih meyakinkan daripada kenyataan. Tentang ilusi yang dipasarkan sebagai harapan. Tentang sistem yang membuat manusia rela menyerahkan akalnya sendiri. Hari ini fitnah itu bisa hadir dalam banyak rupa. Dalam propaganda yang dikonsumsi setiap hari. Dalam algoritma yang menentukan apa yang boleh kita lihat dan pikirkan. Dalam kekuasaan yang meminta kepatuhan tanpa keteladanan. Dalam pasar yang mengukur nilai manusia hanya dari
angka dan produktivitas. Dalam budaya yang membuat manusia sibuk mengejar citra sambil kehilangan dirinya.
Karena itu, malam ini pertanyaan terpenting bukanlah: “Kapan Imam Mahdi datang?” Melainkan: Apakah kita masih memiliki mata batin yang mampu mengenali kebenaran ketika ia hadir? Apakah akal kita masih merdeka dari propaganda? Apakah hati kita masih hidup di
tengah industri ketakutan yang setiap hari diproduksi? Apakah kita masih mampu berdiri tegak sebagai manusia yang tidak menjual nuraninya kepada kekuasaan, pasar, maupun popularitas? Sebab boleh jadi yang sedang ditunggu bukan hanya Imam Mahdi. Tetapi kebangkitan kesadaran dalam diri manusia itu sendiri. Mbah Nun pernah mengingatkan: “Jangan menjadi korban zaman. Jadilah pembaca zaman. “Karena itu, malam ini kita membaca. Membaca diri sendiri. Membaca masyarakat. Membaca kekuasaan. Membaca ekonomi. Membaca kapitalisme. Membaca teknologi. Membaca harapan. Dan yang paling penting, membaca kehendak Allah yang bekerja di balik seluruh peristiwa kehidupan. Bukan untuk mengutuk dunia. Bukan untuk membenci siapa pun. Bukan untuk mencari musuh. Tetapi agar kita tidak mudah ditipu oleh siapa pun. Agar kita tidak kehilangan kemerdekaan berpikir. Agar kita tetap mampu berdiri tegak sebagai
hamba Allah di tengah zaman yang terus berubah.
Barangkali zaman ini tidak sedang kekurangan pemimpin. Barangkali zaman ini sedang kekurangan manusia yang jernih. Barangkali persoalannya bukan Imam Mahdi belum datang. Melainkan karena manusia terlalu sibuk mengejar suara dunia hingga kehilangan kemampuan mendengar petunjuk Allah. Terlalu sibuk menunggu penyelamat hingga lupa menyiapkan diri untuk diselamatkan. Terlalu sibuk menyalahkan keadaan hingga lupa membangun kekuatan batinnya sendiri. Padahal Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Yang sering hilang adalah kemampuan kita untuk mengenali pertolongan-Nya.
Assalamualaikum Imam Mahdi. Assalamualaikum harapan yang menolak mati. Assalamualaikum kejernihan di tengah kebisingan. Assalamualaikum akal yang merdeka. Assalamualaikum hati yang tetap hidup di tengah fitnah zaman. Dan assalamualaikum kepada setiap manusia yang masih percaya bahwa di tengah gelapnya peradaban, cahaya Allah tidak pernah padam.[]








