Egosentrisme adalah salah satu gejala nyata dari kemunduran moral dan kesehatan mental manusia modern. Skalanya tidak lagi kecil — kondisi ini sudah masuk kategori kritis. Setiap orang kini hidup di tengah arus teknologi yang terus melesat. Masing-masing memiliki akun: akun media sosial, akun bank, akun politik, akun game, dan seterusnya. Masing-masing bisa memantau, dan masing-masing bisa diakses.
Sedang terjadi migrasi identitas menuju dunia digital. Topeng mudah dibuat, pengakuan diri mudah dimanipulasi. Zaman pun menyepakati cara baru ini — interaksi berlangsung atas dasar saling membutuhkan dan saling menguntungkan, meski sering tanpa kejujuran.
Muncullah fenomena nge-KUN sesuka hati: mengejar yang instan, mengejar viral, meminta pengakuan, ingin jadi pusat perhatian. Bermodalkan sebuah akun, seseorang bisa bertindak seolah berhak menentukan segalanya — fayakun seenaknya. Jati diri bukan lagi soal substansi; yang tampak hanyalah pencitraan sembrono dan perilaku sok berkuasa.
Tema Akun Fayakun sama sekali tidak dimaksudkan untuk menistakan Asma Allah atas sifat Kun Fayakun-Nya. Dalam lingkar belajar bersama ini, tadabbur dan muhasabah hadir sebagai sarana saling mengingatkan — kadang dengan pendekatan yang bercita rasa satir — untuk menghasilkan guyuran kesadaran dalam majelis ilmu Muhammad Ainun Nadjib. Tujuannya agar kita memahami batas sifat yang bukan hak manusia, sehingga perjalanan ber-akun kita menjadi lebih presisi: mengais realitas di balik kegelisahan yang lahir ketika manusia bertindak sebagai tuhan kecil — dengan mudah men-fayakun-kan urusan orang lain.
Lafadz Kun Fayakun tetaplah kita muliakan sebagai hak mutlak Allah. Pertanyaannya: apakah akun ilahiah kita — fitrah, nurani, dan rasa taqwa — telah sengaja kita nonaktifkan? Atau justru kita memiliki begitu banyak akun, namun lalai meng-akun-kan hidup kita yang sesungguhnya?
Hal ini pun baru-baru ini hangat dibahas dalam berbagai forum besar: soal digitalisasi, algoritma, dan media sosial — termasuk persoalan hukum penghapusan rekam jejak digital dan hak seseorang untuk dilupakan.
Akun begitu mudah di-fayakun-kan: jempol men-tweet, jari-jari mengunggah, hati menghakimi seenaknya. Sekejap viral — sekejap aib orang lain tersebar ke seluruh penjuru dunia. Yang sedang naik daun pun bisa dijatuhkan ketika masa lalunya digali dan dijadikan amunisi: untuk serangan politik, persaingan bisnis, atau upaya membatalkan fatwa.
Satrul Aib menjadi prinsip dalam Islam. “Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)
Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak terlihat?
Pesan WhatsApp menumpuk, notifikasi “99+” terus berbunyi. FYP di-scroll tanpa batas. Jempol lelah, hati kosong — lupa akan hakikat batin sejati karena terseret riuhnya akun media sosial.
Di era ketika identitas bisa dibuat dalam hitungan detik, siapakah kita sebenarnya — dan kepada siapa kita sesungguhnya bertanggung jawab?
Mukaddimah ini bukan sekadar bahan diskusi. Dalam tradisi bermaiyah — melingkar, belajar bersama — kita memohon dimampukan menemukan solusi yang bisa diamalkan, bukan sekadar tumpukan teori.
Wallahu a’lam bishawab.








