Senin malam, 8 Juni 2026, jarum jam belum genap menunjukkan pukul 19.23 WIB ketika saya tiba di kediaman Arizal Lazuardi Alif Wahyudi (Ardi/Isal), di Dusun Ngebret, Desa Morowudi, Kecamatan Cerme, Gresik.
Ruang tamu masih ramai, obrolan kecil saling bersahutan. Hajatan rupanya belum benar-benar usai. Sekitar satu jam saya duduk di ruang tamu. Menyimak obrolan para tamu dengan Mas Ardi maupun kedua orang tuanya. Tamu datang dan pergi. Obrolan berganti obrolan.
Bahkan, dua di antaranya tidak asing bagi saya. Salah seorang tamu ternyata masih ingat betul tentang saya. Sebaliknya, ada seorang bapak yang wajahnya masih saya ingat, tetapi beliau justru lupa kepada saya. Saya kemudian mengingatkan bahwa saya adalah putra dari ibu yang dahulu pernah bekerja di rumah beliau—industri camilan ringan rumahan. Seketika ingatannya kembali.

Namun, dari sekian banyak percakapan yang berlangsung selama kurang lebih satu jam saya duduk di ruang tamu, ada satu momen yang paling membekas di hati saya. Bu Umi, demikian saya memanggil ibunda Mas Ardi, sedang berbincang dengan salah seorang tamu undangannya. Dalam obrolan itu, beliau menceritakan beberapa hal tentang diri saya. Bahkan, di hadapan tamunya, beliau mengatakan bahwa saya ini juga “anak” beliau. Ya Allah….
Barangkali, ada beberapa kalimat yang cukup didengar hati tanpa perlu banyak ditambahi penjelasan. Sebab, ada roso yang memang tidak lahir dari hubungan darah, tetapi tumbuh dari perjumpaan, persambungan, dan kebersamaan batin yang melampaui ruang dan waktu.
Saya kemudian memilih menepi dari keramaian ruang tamu. Ada tugas yang perlu segera dituntaskan. Langkah kaki saya mengarah ke ruangan tengah. Di sana tampak bingkisan, kardus, makanan, dan berbagai perlengkapan hajatan masih tersusun di beberapa sudut ruangan. Rumah Mas Ardi malam itu tampak sebagaimana lazimnya rumah yang baru saja punya hajatan.
Saya menggelar sajadah, melipat separuhnya sebagai alas duduk, membuka Al-Qur’an juz 23, lalu mulai mendaras sambil menyandarkan punggung di dinding ruangan tengah rumah. Malam itu, Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Gresik edisi ke-114 digelar dengan mengusung tema Dawamus Sakinah. Daur rutin Maiyahan di Gresik malam itu sekaligus dirangkai dengan Sakinahan atas pernikahan Arizal Lazuardi Alif Wahyudi dan Atini El Kifaf (Atin).

Di tengah nderes Al-Qur’an, beberapa kali Mas Ardi sempat memberi isyarat kepada saya. Saya menangkapnya, lalu menghentikan bacaan Al-Qur’an sejenak. “Separuh’e nderes bojoku ae,” katanya.
Akhirnya diputuskan, juz 23 dibagi dua. Saya menuntaskan Surat Yasin mulai ayat 28 hingga tuntas Surat As-Saffat. Sementara itu, Mbak Atin—di tempat yang berbeda—memulai dari Surat Shad serta bagian awal Surat Az-Zumar hingga ayat 31.
Lalu lalang tamu yang berdatangan masih berlangsung. Sesekali saya tenggelam dalam bacaan, sesekali telinga menangkap potongan-potongan obrolan yang melintas. Tuntas nderes bagian saya, saya pun keluar rumah. Menikmati malam yang cerah sambil ngudud. Dari kejauhan terdengar suara sound system dari hajatan pernikahan lain yang juga sedang berlangsung.
Pukul 20.16 WIB, Kamituwa Damar Kedhaton, Wak Syuaib, tiba. Sambil menunggu dulur-dulur Damar Kedhaton yang lain datang, kami sempat berbincang cukup lama di ruang tamu. Saya, Wak Syuaib, Mas Ardi, serta kedua orang tua Mas Ardi. Obrolan bergerak dari satu topik ke topik lain—tentang keluarga, kerabat dekat, pernikahan, hingga hal-hal ringan menjelang Majelis Ilmu Telulikuran dimulai.
Menariknya, kisah pertemuan Mas Ardi dan Mbak Atin sendiri berangkat dari persambungan yang sederhana. Mas Ardi bercerita bahwa yang mengenalkannya dengan sang istri adalah Kaji Azza, salah satu dulur Damar Kedhaton. Sebelum menjadi istrinya, Mbak Atin merupakan teman dari istrinya Kaji Azza.
Obrolan awal keduanya bahkan tidak dimulai dari perjumpaan secara langsung. Mas Ardi ketika itu sudah bertahun-tahun mengabdi sebagai ASN guru olahraga di Kalimantan. Kurang lebih lima tahun ia menjalani kehidupan di tanah rantau. Sementara Mbak Atin membantu kedua orang tuanya berdagang di pasar yang tidak jauh dari rumahnya di Desa Pangkah Wetan, Kecamatan Ujungpangkah, Gresik.

Perkenalan mereka berdua lebih dulu dirawat melalui percakapan-percakapan di handphone. Jarak bukan menjadi penghalang, melainkan ruang untuk saling mengenal. Kurang lebih satu tahun proses itu berjalan hingga akhirnya keduanya dipertemukan dalam perjanjian agung ikatan pernikahan.
Bahkan, sebelum Mas Ardi dapat pulang—menunggu momen libur sekolah—dan bertemu langsung, Bu Umi, ibunda Mas Ardi, telah lebih dahulu bersilaturahmi ke rumah Mbak Atin. Mas Ardi sendiri masih berada di Kalimantan untuk menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai seorang guru.
Barangkali, dari cerita yang sederhana itu, pernikahan memang tidak selalu bermula dari kisah yang dramatis. Ia juga bisa tumbuh dari persambungan antar manusia yang dijaga dengan niat ketulusan yang baik, lalu perlahan dipelihara hingga menjadi jalan yang dipilih bersama.
Sesi tawashshulan baru dimulai pukul 22.30 WIB dipandu Wak Syuaib. Dulur-dulur Damar Kedhaton mengikuti rangkaian wirid dan lantunan sholawat yang sudah menjadi bagian dari tradisi Telulikuran. Urutannya dimulai dengan Tawashshulan singkat, lalu disambung prosesi Sakinahan sebagaimana yang disusun Mbah Nun.
Membaca doa Rasulullah SAW pada pernikahan Sayyidah Fatimah dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Sholawat “Pengantin Baru” karya H. Muhammad Zain yang dipopulerkan Nasida Ria, pembacaan Surat Ar-Rum ayat 20 sampai 25 beserta terjemahannya, dilanjut Surat Al-Fath, wirid Hasbunallah wa ni’mal wakil – ni’mal maula wa ni’man nashir, disusul wirid Ya Mannan atau wirid Padhang Mbulan, serta wirid Qothrota Luthfi hingga pergantian hari tiba.
Pukul 00.16 WIB, Wak Syuaib mengisi singkat sesi nasihat pernikahan. Ia menyampaikan betapa penting makna dari ijazah Sakinahan yang dibekalkan Mbah Nun kepada kita semua. Selepas itu, seluruh dulur Damar Kedhaton yang hadir bersama-sama melantunkan Sholawat Indal Qiyam yang dipandu Cak Huda, lalu dipungkasi dengan doa. Pukul 00.41 WIB, seluruh rangkaian tawashshulan dan Sakinahan tuntas dilaksanakan.

Majelis Ilmu Telulikuran kemudian memasuki jeda sejenak. Sebagian dulur menikmati kopi sambil ngudud. Sebagian lainnya melanjutkan obrolan-obrolan ringan penghangat suasana. Sesi sinau bareng pun dimulai. Saya mendapat kesempatan pertama menguraikan secara singkat mukaddimah Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi ke-114. Obrolan kemudian mengalir dari akar kata sakinah itu sendiri.
Seperti yang disampaikan Cak Fauzi. Ia mengingat betul bagaimana kesadaran dan pemahamannya naik satu tingkat lebih tinggi dari sebelumnya. Dari Mbah Nun, terbuka pemahaman bahwa sakinah diposisikan sebagai tujuan, sedangkan mawaddah dan rahmah merupakan bekal untuk sampai kepada tujuan itu.
“Yang disemogakan dan diperjuangkan itu sakinah. Mawaddah dan rahmah adalah sangu kita,” kata Cak Fauzi.
Dalam sinau bareng malam itu, sakinah tidak dibicarakan sebagai sesuatu yang otomatis hadir setelah akad nikah. Sakinah hadir sebagai sesuatu yang terus diupayakan. Obrolan kemudian mengalir pada pembahasan tentang tuma’ninah.
Cak Huda mengingatkan bahwa dalam perjalanan rumah tangga selalu ada badai. Ada anugerah anak yang lahir, kebutuhan yang bertambah, persoalan ekonomi, dan berbagai tantangan yang datang silih berganti. “Selalu ada badai,” ujarnya.
Karena itu, menurutnya, yang perlu dirawat bukan hanya ledakan roso seneng dan bungah’e ati di awal pernikahan, melainkan bagaimana menjaga roso itu ketika kehidupan sedang tidak mudah dijalani.
Perumpamaan yang sama muncul dari Cak Yayak. Rumah tangga, sambungnya, seperti kapal yang mengarungi samudera. Orang tidak pernah tahu kapan gelombang besar datang dan kapan badai muncul.
“Yang dibutuhkan ialah saling merangkul, saling mendukung, saling mengisi kekurangan serta kekosongan, dan senantiasa saling menguatkan,” jelasnya. Ia juga mengatakan bahwa pernikahan tidak hanya mempertemukan dua orang, tetapi juga dua keluarga. “Ada keluarga yang ikut menikah.”

Pandangan itu menemukan resonansinya ketika Cak Khusnul berbagi pengalaman menjalani Long Distance Marriage (LDM). Baginya, salah satu kekuatan terbesar adalah roso kepercayaan serta persambungan dunga-dinunga yang tak pernah putus. Sekian bulan ia harus merantau untuk bekerja di Jepang. Sekian bulan berikutnya, ia baru dapat kembali tinggal seatap rumah bersama istri dan anaknya.
Menariknya lagi, Cak Khusnul mengaku bahwa fondasi niat utama menikah dipersembahkan untuk ibunya. “Saya mencari menantu buat ibu saya, bukan sekadar mencari istri. Jujur saja, di awal pernikahan bahkan saya tidak merasakan jatuh cinta sama sekali. Baru ketika sudah berjalan beberapa tahun, rasa cinta itu perlahan bertumbuh.”
Diskusi terus bergulir. Kopi berganti kopi. Topik berganti topik. Namun, benang merahnya tetap sama: bagaimana menjaga rumah tangga agar tetap bertahan di tengah badai sepanjang perjalanan khalidina fiha abada.
Menjelang pukul 02.42 WIB, lantunan Sholawat Tibbil Qulub mengalun. Dulur-dulur Damar Kedhaton mengikuti Cak Fauzi dengan khusyuk, sekaligus menutup rangkaian sinau bareng bulan ini.
Sebelum dipungkasi doa penutup, Cak Fauzi mempersembahkan puisi berjudul “Buah Mata” karya KH Mustofa Bisri (Gus Mus). Dulur-dulur tampak menyimak hingga bait terakhir.
Cerme, 10 Juni 2026








