Tawashshulan bulan Mei 2026 sedikit berbeda dari biasanya. Malam itu, Jumat (22/5/2026), dulur Damar Kedhaton tidak hanya berkumpul untuk menjalankan rutinan Tawashshulan. Ada satu nikmat yang juga sedang disyukuri bersama.
Fajar Handika, atau yang akrab disapa Fuad, tengah memasuki fase baru dalam hidupnya. Salah satu dulur Damar Kedhaton itu baru saja melepas masa lajang. Maka, rutinan Tawashshulan bulan ini sekaligus dirangkai dengan agenda Sakinahan.
Bagi Jamaah Maiyah, termasuk Damar Kedhaton, Tawashshulan maupun Sakinahan bukan sekadar agenda rutin yang dijalankan karena jadwal. Keduanya merupakan bagian dari ijazah yang dibekalkan Mbah Nun untuk terus dirawat dan diistiqamahi. Sebab, hidup manusia juga berjalan dalam daur. Ada masa sendiri, ada masa dipertemukan, ada masa membersamai, dan ada masa belajar mempertahankan serta mensyukuri apa yang telah dianugerahkan Allah.

Agenda Tawashshulan dan Sakinahan kali ini digelar di kediaman Fuad, Desa Pelemwatu RT 05 RW 03, Menganti, Gresik. Dulur Damar Kedhaton yang hadir bersepakat mengawali malam itu dengan Tawashshulan singkat yang dipandu Kamituwa Damar Kedhaton, Wak Syuaib, secara bergantian bersama Cak Fauzi.
Momen pelantunan Sholawat Indal Qiyam yang biasanya menjadi bagian dari Tawashshulan sengaja disepakati untuk dimasukkan ke dalam sesi Sakinahan.
Selepas Tawashshulan, rangkaian Sakinahan dimulai sesuai urutan yang selama ini dibekalkan Mbah Nun. Diawali dengan doa Rasulullah SAW pada pernikahan Sayyidah Fatimah dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Dulur Damar Kedhaton yang hadir mengikuti dan mengamini doa tersebut bersama-sama.
Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fi khair.

Setelah itu, dilanjutkan dengan melantunkan Sholawat “Pengantin Baru”, karya H. Muhammad Zain yang dipopulerkan Nasida Ria.
Usai sholawat dilantunkan, saya mendapat giliran untuk membacakan Surat Ar-Rum ayat 20 sampai 25. Dimulai dari teks Arab hingga terjemahannya secara berurutan sampai tuntas.
Setelah pembacaan Surat Ar-Rum selesai, seluruh dulur Damar Kedhaton yang hadir dipandu Cak Fauzi membaca Surat Al-Fath lengkap sebanyak 29 ayat. Hanya teks Arabnya saja yang dibaca. Namun, seluruh dulur yang hadir turut melantunkannya bersama-sama hingga selesai.
Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan wirid Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir. Disusul wirid Ya Mannan atau yang akrab disebut Wirid Padhang Mbulan. Setelah itu, ditutup dengan wirid Qothrota Luthfi.

Forum kemudian memasuki sesi sinau bareng tentang nasihat-nasihat dalam pernikahan. Jika pada pelaksanaan Sakinahan sebelumnya seluruh dulur yang hadir biasanya diberi kesempatan menyampaikan pesan, kesan, pengalaman, maupun nasihat sebagai ruang belajar bersama, kali ini forum menyesuaikan kondisi. Mengingat banyak dulur yang tidak memungkinkan pulang terlalu larut, Wak Syuaib dan Cak Fauzi yang mengisi sesi tersebut.
Wak Syuaib mengawali dengan mengingatkan kembali tentang ijtihad Sakinahan yang diwariskan Mbah Nun. “Sakinahan ini seperti mengingat kembali, mengulangi lagi perjalanan kita masing-masing. Ada sebagian yang bilang kegiatan seperti ini tidak penting buat kemanten kawak-kawak atau yang lawasan. Ya Allah…. Cak Nun…., mewarisi kita ijtihad Sakinahan. Semoga kita semua bisa merawat ijtihad beliau, juga mengistiqamahinya,” tuturnya.
Beberapa kali Wak Syuaib mengulang satu kata yang sama: roso. Baginya, salah satu keindahan yang dianugerahkan Allah kepada manusia adalah roso itu sendiri. Ketika seseorang masih sendiri ada rasanya. Ketika mulai tertaut kepada seseorang juga ada rasanya. Ketika memasuki kehidupan rumah tangga pun tetap ada rasanya.
“Coba tanyakan ke Fuad, ketika dia masih sendiri rasane gimana? Terus ketika hatimu tertaut ke calon istri, iki babagan roso. Ana roso khawatir, ana roso liyane, bermacam-macam roso. Di situlah letak keindahan Gusti Allah,” ujarnya.

Wak Syuaib kemudian mengingatkan kembali dhawuh Mbah Nun tentang perjuangan litaskunu ilaiha. Bahwa mawaddah dan rahmah memang telah dibekalkan Allah, tetapi ketenteraman tidak datang dengan sendirinya. Ia harus terus diperjuangkan sepanjang perjalanan rumah tangga.
Wak Syuaib tidak hanya mentadabburi ayat tentang pasangan hidup dalam Surat Ar-Rum. Ia mengajak dulur Damar Kedhaton supaya melihat keseluruhan rangkaian ayat yang dibaca malam itu secara jangkep.
Baginya, Mbah Nun seakan mengajak kita semua untuk tidak berhenti pada urusan perjodohan semata. Langit dan bumi, perbedaan bahasa, pergantian siang dan malam, hujan yang menghidupkan bumi, hingga penciptaan manusia, semuanya menjadi ayat yang layak ditadabburi.
“Kalau umumnya di walimahan yang dituangkan seringnya hanya satu tentang perjodohan. Tetapi Mbah Nun juga mengajak mentadabburi seluruh alam sebagai amsal. Langit dan bumi berbeda, tapi punya tujuan. Laki-laki dan perempuan juga begitu,” jelasnya.
Sesi berikutnya dilanjutkan oleh Cak Fauzi. Ia memulai dengan satu penjelasan yang cukup menarik tentang makna dari sakinah. “Sakinah ini menunjukkan situasi tenang yang khusus. Yakni sakwise bergelombang, setelah bergejolak, terus anteng utawa tenang. Danau yang tenang itu bukan sakinah. Sakinah adalah ketenteraman setelah badai,” ungkapnya.

Menurut Cak Fauzi, pencarian pasangan, penantian, hingga perjalanan menuju pernikahan adalah bagian dari gelombang itu sendiri. Namun, setelah akad pun gelombang kehidupan tidak lantas berhenti datang. Karena itu, perjuangan litaskunu ilaiha menjadi pekerjaan yang terus berlangsung.
Penjelasan tersebut kemudian disambungkan dengan Surat Al-Fath yang dibaca bersama-sama malam itu. Cak Fauzi mengajak dulur Damar Kedhaton melihat kembali ayat keempat Surat Al-Fath yang menjelaskan bagaimana Allah menurunkan sakinah ke dalam hati orang-orang beriman.
Menurutnya, surat tersebut turun setelah Perjanjian Hudaibiyah. Sebuah peristiwa yang pada waktu itu justru dianggap merugikan kaum Muslimin. Rasulullah SAW dan para sahabat yang hendak menunaikan umrah harus mengurungkan perjalanan mereka. Bahkan beberapa isi perjanjian tampak lebih menguntungkan kaum Quraisy.
Sebagian sahabat sempat mempertanyakan keputusan tersebut. Namun, Rasulullah SAW tetap menjalankannya. Tidak lama setelah itu, turun Surat Al-Fath yang menyebut peristiwa tersebut sebagai kemenangan yang nyata. Melalui kisah Hudaibiyah, Cak Fauzi mengajak forum melihat bahwa kemenangan tidak selalu hadir dalam bentuk peperangan atau penaklukan lewat pertumpahan darah: gencatan senjata.

Dari peristiwa tersebut sebenarnya sudah bisa kita lihat bahwa mengangkat senjata dan menumpahkan darah tidak bisa serta merta dilekatkan pada sejarah peradaban Islam. Justru kita belajar bahwa kemenangan terbesar bukan diraih melalui peperangan, melainkan melalui perdamaian sehingga tidak ada yang perlu ditumpahkan darahnya.
Selepas sesi nasihat selesai, seluruh dulur Damar Kedhaton membaca Sholawat Indal Qiyam. Sholawat Indal Qiyam yang sejak awal sengaja ditempatkan dalam rangkaian Sakinahan malam itu akhirnya dilantunkan bersama-sama. Setelah doa penutup dilantunkan, forum berlanjut dengan kenduri dan makan bersama.
Sebagian dulur berpamitan pulang selepas tengah malam. Sebagian lainnya masih bertahan di rumah Fuad, melanjutkan obrolan santai yang mengalir ke berbagai arah. Sebagaimana lazimnya pertemuan-pertemuan Damar Kedhaton, terkadang forum resmi selesai lebih dahulu, tetapi percakapan santai masih terus berlanjut.
Sekitar pukul 00.30 WIB, rangkaian Tawashshulan dan Sakinahan Damar Kedhaton edisi Mei 2026 berakhir.
Cerme, 1 Juni 2026








