Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Gresik kembali digelar pada Sabtu malam, 9 Mei 2026, di Pendopo Makam Siti Fatimah binti Maimun, Leran, Manyar, Gresik. Daur sinau bareng Maiyahan rutin di Gresik yang telah memasuki tahun kesepuluh itu bulan ini memasuki edisi ke-113.
Di tempat yang sejak lama akrab dengan denyut sekaligus atmosfer spiritual masyarakat pesisir Gresik itu, dulur-dulur Damar Kedhaton duduk melingkar dengan gayeng. Sebagian bersandar pada tiang pendopo, sebagian lain duduk lesehan sambil sesekali menyeruput kopi dan menikmati beraneka kudapan ringan.
Sinau bareng selalu memberi ruang bagi dulur-dulur Damar Kedhaton untuk kembali mengendapkan sesuatu yang belakangan terasa makin langka: jeda. Di tengah zaman yang dipenuhi ketergesa-gesaan—ketika apa-apa bergerak serba cepat; informasi, hiburan, pengetahuan, hingga lalu lintas pendapat yang nyaris tak pernah berhenti.
Majelis Ilmu Telulikuran malam itu mengusung tema “Cantrik di Zaman Digital: Menjaga Jeda, Merawat Daur”. Tema yang lahir dari keresahan tentang zaman ketika orang merasa sudah berguru hanya karena menonton potongan video, membaca kutipan pendek, atau rutin melihat reels di media sosial. Kegelisahan itu menjadi titik berangkat sinau bareng malam itu.

Dalam prolog pembuka yang dibacakan sebelum diskusi dimulai, kecantrikan digambarkan bukan sekadar aktivitas hadir di forum atau mengoleksi nasihat. Cantrik dipahami sebagai orang yang memilih tinggal di dalam proses pembelajaran lahir maupun batin kepada sang guru—dalam konteks pewayangan, dalang dimaknai sebagai sosok yang menuntun jalannya lakon kehidupan.
Di tengah zaman digital yang serba cepat, pembicaraan malam itu berfokus pada satu pertanyaan paling fundamental: apakah manusia hari ini benar-benar sedang belajar, atau hanya sibuk mengonsumsi potongan-potongan pengetahuan?
Daur, sebagaimana yang diteladankan Mbah Nun, dipahami bukan sekadar pengulangan forum dari bulan ke bulan. Ia menjadi cara untuk memaknai waktu. Bahwa hidup tidak hanya bergerak lurus ke depan, tetapi juga mengajak manusia pulang: melihat ulang dirinya, memperbaiki cara memahami hidup, serta menyadari bahwa perjalanan manusia pada akhirnya kembali kepada asal-Nya.
Forum kali ini juga menyentuh rasa rindu jamaah kepada Mbah Nun yang hampir tiga tahun tidak membersamai secara langsung. Kerinduan itu tidak bisa dibantah. Tidak pula ditutup-tutupi. Akan tetapi, Majelis Ilmu Telulikuran malam itu dihadirkan sebagai ikhtiar bersama untuk menaikkan kelas kerinduan agar tidak berhenti sebagai romantisme tanpa laku.
Sebab rindu yang berhenti sebagai nostalgia perlahan hanya membuat kita terus menoleh ke belakang. Sedangkan pusaka ilmu, sebagaimana berulang kali muncul dalam pembahasan, bukan untuk disimpan sebagai arsip kenangan atau kumpulan kutipan semata. Ia harus dijaga, diteruskan, dan dihidupi dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pandangan jamaah yang terus belajar nyantrik, Mbah Nun ditempatkan sebagai sang dalang: sosok yang diteladani tak sekadar tutur ilmunya, namun juga laku hidupnya. Maka kecantrikan dalam konteks zaman digital tidak dipahami sebagai status atau sekadar klaim kedekatan, melainkan pekerjaan panjang untuk menata diri: akal, hati, adab, kesabaran, serta kesanggupan menjalani ilmu dalam kehidupan sehari-hari.
Sinau bareng malam itu sekaligus menjadi ruang untuk mengingat kembali hal-hal yang paling berkesan dalam perjalanan masing-masing dulur Damar Kedhaton atas perjumpaannya dengan Maiyah. Ingatan-ingatan lama itu perlahan dipanggil kembali; tentang nasihat, pengalaman, atau fase tertentu dalam hidup yang membuat seseorang tetap bertahan menjalani daur Maiyahan dari waktu ke waktu.
Pusaka kemudian menjadi pintu pengantar untuk memasuki keluasan ilmu-ilmu Maiyah. Bahwa pusaka tidak dimaksudkan sebagai peng-klenik-an, melainkan diarahkan sebagai jalan ilmu dan laku urip. Sebagaimana ungkapan yang akrab di telinga wong Jawa: ilmu kuwi kalakone kanthi laku.

Sesi Elaborasi Tema
Mas Nasrul memaknai pusaka sebagaimana padusan—sesuatu yang berfungsi membersihkan dan menyiapkan diri sebelum memasuki ruang batin yang lebih dalam. Ia kemudian menyajikan referensi tulisan Mbah Nun dalam Daur 1 – 10, berjudul “Berzigzag Rally Panjang Motor Nasib” sebagai salah satu cara memahami kehidupan yang tidak berjalan lurus sesuai kehendak manusia.
Dari sana, pusaka yang dimaksud dalam forum malam itu perlahan menemukan bentuknya sendiri. Ia bukan benda, bukan pula kumpulan kutipan yang dihafal berulang-ulang, melainkan sudut pandang dalam menjalani hidup: cara menerima kenyataan, menghadapi perubahan, dan menjaga kejernihan berpikir ketika keadaan tidak sesuai rencana.
Beberapa jamaah menyebut bahwa mereka dipertemukan dengan Maiyah bukan untuk mencari identitas baru, melainkan sebagai ruang untuk belajar dan bertumbuh bersama. Ada kesadaran bahwa yang dijalani selama ini bukan hubungan guru-murid yang kaku, melainkan proses sinau yang terus bergerak dan egaliter.
Karena itu, persoalan “taklid” yang sempat muncul dalam forum tidak berkembang menjadi perdebatan hukum yang keras. Diskusi justru bergerak pada upaya membedakan antara meneladani dengan kehilangan daya kreativitas berpikir.
Cak Huda mengingatkan bahwa Maiyah tidak pernah dimaksudkan menjadi agama baru atau jalan tersendiri di luar Islam. Yang dirawat ialah bagaimana seseorang semakin mudah mencintai Gusti Allah, Kanjeng Nabi, dan sesama manusia. Ia juga menyinggung bahwa banyak hal dalam kehidupan modern memang tidak dicontohkan secara literal oleh Rasulullah. Akan tetapi, yang diwariskan Nabi bukan semata bentuk teknis kehidupan, melainkan nilai kesucian, kelayakan, ketepatan, dan keindahan dalam menjalani hidup—benar, baik, bijaksana, dan indah secara selaras.
Pembicaraan tentang kecantrikan kemudian bergerak semakin dekat dengan realitas digital hari ini.
Cak Fauzi melihat zaman sekarang melahirkan gejala ilusi berguru; seolah-olah orang merasakan kedekatan, padahal sejatinya masih jauh dari nilai-nilai sosok yang diteladani. Orang merasa sudah sangat mengenal seorang guru hanya karena rutin melihat potongan video pendek. Padahal yang cepat sampai di mata belum tentu sempat hinggap ke dada. Ada banyak informasi beredar, tetapi belum tentu benar-benar diendapkan menjadi ilmu.

Kegelisahan serupa disampaikan Robith yang mengenang masa ketika pertama kali mengenal Maiyah lewat majalah pesantren di Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan. Saat itu, proses nyantrik berlangsung lambat. Orang membaca, merenung, lalu memberi waktu kepada dirinya sendiri untuk memaknai.
Kini, menurutnya, orang bisa cepat kagum sekaligus cepat kecewa hanya dari potongan-potongan pendek media sosial. Kekaguman yang lahir tanpa proses mudah berubah menjadi celaan ketika menemukan bagian yang tidak sesuai harapan.
Di situlah istilah “ilusi berguru” terasa beberapa kali mengendap dalam forum malam itu.
Bahwa dunia digital memang memberi banyak pintu, tetapi tidak semua pintu membawa orang masuk ke ruang ilmu. Sebagian justru menyeret manusia berpindah dari satu potongan ke potongan lain tanpa sempat benar-benar tinggal, menyimak, dan mengolah.
Karena itu, kecantrikan dalam pembahasan malam tersebut tidak dimaknai sebagai kedekatan simbolik atau klaim paling memahami guru. Kecantrikan justru dipahami sebagai kesanggupan menjaga proses belajar itu sendiri secara jangkep.
Cak Nanang menyebut bahwa kedekatan dengan guru hari ini tidak selalu harus berbentuk perjumpaan fisik. Tawashshulan, menjaga ketersambungan hati dan pikiran melalui majelis ilmu, serta tetap merawat hubungan batin kepada Kanjeng Nabi menjadi bagian penting dari laku itu.
Sementara Cak Djalil mengaitkan tema malam itu dengan kisah Bambang Ekalaya dalam pewayangan. Ekalaya memang tidak belajar langsung kepada Durna, tetapi ia menjaga adab, kesungguhan, dan penghormatan terhadap ilmu. Yang penting bukan semata kedekatan fisik, melainkan keseriusan menjalani proses belajar.
Pembicaraan tentang konsep kesadaran daur waktu menjadi salah satu bagian yang paling mendalam. Pada bagian ini, Cak Fauzi mengulas sejumlah oleh-oleh dari Silatnas Penggiat Maiyah 2025. Ia meneruskan apa yang dipaparkan Redaktur Maiyah (RedMa), Mas Jamal, seraya mengingat dhawuh Mbah Nun soal kesadaran daur.
Bahwa waktu adalah perulangan. Sifatnya melingkar dari awal sampai akhir. Tidak bergerak linier sebagaimana kecenderungan cara pandang manusia modern era medsos hari ini. Percepatan informasi seolah membuat apa saja hanya dilihat dari ukuran kuantitas, sementara kualitas perlahan terabaikan.
Menjelang penutupan, dulur-dulur bersama-sama membaca Surat An-Nur ayat 35 atas ajakan Kamituwa Damar Kedhaton, Wak Syuaib. Dan dipungkasi do’a oleh Cak Huda.
Cerme, 14 Mei 2026








