Hidup selalu berputar, itulah daur kehidupan. Ada yang datang, ada yang pergi, ada yang melarikan diri, dan ada yang kembali. Ada yang meminta, ada yang memberi; ada yang menuntut, ada yang pasrah. Ada yang saling menguatkan, dan ada pula yang mencoba melemahkan.
Manusia diasah oleh kehidupan. Ada yang semakin tajam karena berpikir jernih, ada yang semakin tumpul karena membentur-benturkan dirinya sendiri.
Perputaran bukan hanya sebatas perihal ekonomi, status sosial, kekuasaan, dan segala dimensi keduniaan. Namun, yang lebih utama adalah kesejatian dan kesetiaan pada nilai-nilai kehidupan itu sendiri.
Manusia modern sudah terbiasa bangga dengan status—baik individu, keluarga, perusahaan, organisasi, bahkan hingga kelas partai politik. Mereka melakukan pencitraan untuk diakui dan mempertahankan diri, serta memanfaatkan status tersebut demi kebahagiaan duniawi. Bahkan, tak jarang membangun sistem kerakusan sedemikian rupa agar dapat diwariskan kepada anak cucunya.
Anak bangga dengan status sosial dan kekayaan orang tuanya. Para pejabat bangga menjadi bagian dari keluarga partai politik yang besar namanya dan kuat kekuasaannya. Semua merasa berhak memanfaatkannya, bahkan mewarisinya.
Yang dipikirkan bukanlah cara merawat nilai dan menebar manfaat dalam status kemanusiaannya, melainkan merebut kekuasaan dan kekayaan untuk kepentinganya.
Lantas, kita sebagai keluarga Maiyah—yang saling mencintai karena Allah dan Rasulullah (al-mutahabbina fillah wa Rasulillah)—apakah Maiyah memiliki kekayaan dan kekuasaan? Adakah yang harus kita perebutkan? Jika ada, apa yang direbut dan untuk siapa? Jika itu sudah didapatkan, haruskah dipertahankan? Haruskah diwariskan, atau cukup dibiarkan mengalir begitu saja?
Mari kita rumuskan bersama, bertawashulan, mengemis kepada Allah Swt., mengirimkan “kado surat” untuk Rasulullah Saw. Bersinau bereng mencari kesejatian dalam kehidupan.








