Dalam bahasa Sunda, misleuk berarti terpeleset. Salah langkah. Meleset dari arah semula. Bukan jatuh dari tebing. Bukan pula sengaja menyimpang. Tetapi langkah yang keliru karena jalan licin, atau karena kurang waspada.
Misleuk itu manusiawi. Yang berjalan pasti berpotensi misleuk. Yang diam saja yang tidak pernah terpeleset. Namun yang sedang dihadapi hari ini bukan sekadar kesalahan kecil. Ada sesuatu yang tampak benar, tetapi hasilnya terasa janggal.
Di Satu Ceramah KH Zainuddin MZ pernah memberi rumus sederhana: ”Dengan IMAN hidup jadi TERARAH. Dengan ILMU hidup jadi MUDAH. Dengan SENI hidup jadi INDAH.”
Rumus ini logis. Masuk akal. Dan memang seharusnya begitu. Namun arah hidup sering kabur. Masalah terasa makin rumit. Keindahan terasa semakin jauh. Kalau rumusnya benar, tetapi hasilnya tidak sesuai. Maka pertanyaannya sederhana:
”Apa yang MISLEUK?”
Iman Ada, Tapi Arah Tidak Jelas. Barangkali bukan imannya yang salah, melainkan relasi antara iman dan tindakan yang terlepas. Iman berubah menjadi identitas, bukan kompas. Orang mengaku beriman, tetapi bingung menentukan prioritas, mudah terombang-ambing oleh keadaan. Yang misleuk bukan imannya, melainkan fungsi iman dalam hidup. Iman tidak lagi menuntun arah, hanya menjadi label.
Ilmu Banyak, Tapi Hidup Tidak Mudah. Ilmu hari ini memang melimpah. Sekolah hingga Perguruan Tinggi menjamur. Informasi berlimpah. Gelar bertambah. Namun hidup terasa makin rumit.
Barangkali yang misleuk bukan ilmunya, melainkan tujuan dan penggunaannya. Ilmu yang seharusnya memudahkan hidup, malah menjadikan hidup semakin ’Ribet’, berubah menjadi alat kompetisi, alat gengsi, atau sekadar tumpukan pengetahuan tanpa arah. Ilmu menjadi berat, karena tidak terhubung dengan kebutuhan hidup.
Seni Bergelora, Tapi Tidak membuat hidup menjadi Indah. Seni hari ini sangat meriah. Produksi karya banyak. Ekspresi bebas. Panggung terbuka. Namun keindahan tidak selalu terasa. Bukan karena seninya mati, melainkan karena rasa dan nilai yang mendasarinya bergeser. Seni kadang hanya mengejar sensasi, popularitas, atau pasar. Padahal seni adalah bahasa jiwa. Jika jiwanya lelah, bingung, atau kosong,keindahannya pun ikut kabur.
Mbah Nun pernah memberi satu perumpamaan yang sangat tajam. Dalam tulisannya “Matematika Nan Suci”, beliau menulis: “6×6 = 36. Selalu konsisten dan istiqamah. Kalau hasilnya berubah, yang salah adalah manipulatornya.” (Emha Ainun Nadjib, Matematika Nan Suci — caknun.com, 2017)
Artinya jelas, nilai itu tidak pernah berubah. Yang berubah adalah manusia yang memainkannya. Nilai tetap benar. Tetapi pelaksanaannya bisa meleset. Dan di zaman ini, kata beliau: “Sungguh tidak mudah mengidentifikasi koordinat nilai-nilai”
Inilah barangkali keadaan kita hari ini. Nilai masih ada. Ajaran masih tersedia. Pedoman di mana-mana. Tetapi arah menjadi kabur. Koordinat menjadi tidak jelas. Nilai tidak pernah keliru. Yang sering meleset adalah pelaksanaannya. Yang benar tetap ada, tetapi arah penggunaannya sering Misleuk.
Dalam kehidupan berbangsa, sangat terlihat ke-Misleuk-an terjadi di mana-mana. Almarhum Gus Dur pernah menyampaikan ini dengan cara yang ringan, tapi sangat dalam. Melalui Candaannya beliau bercerita, “Konon ada empat macam sifat bangsa. Sedikit bicara, sedikit kerja (Angola, Nigeria). Banyak bicara, banyak kerja (Amerika, China). Sedikit bicara, banyak kerja (Jepang, Korea Selatan). Banyak bicara, sedikit kerja (India, Pakistan).”
Lalu seseorang bertanya, “Kalau bangsa Indonesia masuk yang mana, Gus?”
Gus Dur menjawab, “Indonesia tidak bisa dimasukkan ke salah satu. Karena di Indonesia, antara yang dibicarakan dan yang dikerjakan berbeda.”
Semua orang tertawa. Tapi setelah tertawa, semuanya akan diam. Merenung Karena candaan itu terasa benar. Yang dibicarakan A. Yang dikerjakan B. Bukan tidak ada rencana. Bukan tidak ada program. Bukan tidak ada niat. Tetapi ada jarak. antara kata dan laku. Di situlah sering terjadi misleuk.
Maka Pada Nujuhlikuran Edisi April 2026 Kali ini, barangkali yang perlu ditanyakan bukan: Apa yang salah dengan dunia? Apa yang salah dengan bangsa? Apa yang salah dengan orang lain? Tetapi lebih sederhana: Di bagian mana arah sempat meleset? Apakah pada niatnya? Pada langkahnya? Atau pada kesetiaan terhadap nilai yang diyakini?
Karena hidup bukan tentang tidak pernah salah. Melainkan tentang kesediaan untuk memperbaiki arah. Misleuk bukan akhir perjalanan. Ia adalah tanda untuk berhenti sejenak. Menghela nafas. Melihat kembali langkah yang sudah diambil. Merapikan arah yang sempat meleset.
Mari duduk bersama. Melingkar. Bukan untuk menghakimi siapa-siapa. Tetapi untuk saling mengingatkan. karena mungkin, yang dibutuhkan bukan nilai baru,melainkan kembali setia pada nilai yang sudah diketahui. (Redaksi Nujuhlikuran)








