Setiap menjelang datangnya bulan kemerdekaan, kita akan kembali dipertemukan dengan ruang permenungan tentang Indonesia. Di berbagai sudut negeri, bendera merah putih akan mulai berkibar, lagu-lagu perjuangan kembali diperdengarkan, kisah para pendiri bangsa kembali diceritakan, dan doa-doa dipanjatkan agar Indonesia menjadi negeri yang damai, adil dan makmur.
Bagi jamaah Maiyah, momentum seperti ini tidak pernah berhenti sebagai seremoni tahunan. Sebab setiap peristiwa kehidupan selalu dapat menjadi pintu masuk untuk sinau bareng, membaca kembali diri sendiri, masyarakat, bangsa, bahkan membaca kehendak Allah yang bekerja di balik seluruh perjalanan sejarah.
Entah berapa banyak pitutur, tulisan, dan rekaman pemikiran Mbah Nun yang membentangkan makna kemerdekaan dalam keluasan dimensi kehidupan. Berbagai pemikiran tersebut kiranya tidak berhenti sebagai pengetahuan atau wacana, melainkan menghadirkan kemerdekaan sebagai amanah kehidupan yang harus terus dirawat agar manusia mampu menata dirinya, menata kehidupannya, serta menjalankan perannya sebagai khalifah di bumi.
Kemerdekaan memang berhasil mengakhiri penjajahan fisik yang berlangsung berabad-abad. Namun, sejarah juga mengajarkan bahwa berakhirnya penjajahan tidak serta-merta menghadirkan manusia-manusia yang merdeka. Sebab penjajahan selalu mampu berganti wajah. Ia tidak lagi datang melalui senapan dan kapal perang, tetapi dapat menjelma menjadi kerakusan, penyembahan terhadap materi, kesombongan ilmu, penyalahgunaan kekuasaan, ketidakadilan, bahkan hawa nafsu manusia sendiri. Pada titik inilah, kemerdekaan tidak lagi cukup dipahami sebagai bebas dari penjajah, melainkan kemampuan manusia menjaga dirinya agar tidak menjadi penjajah bagi sesama maupun bagi dirinya sendiri.
Barangkali karena itulah, setiap menjelang bulan kemerdekaan, pertanyaan yang lebih penting bukanlah berapa usia Indonesia, melainkan ke mana arah perjalanan Indonesia hendak dibawa. Indonesia seperti apa yang sesungguhnya kita cita-citakan? Apakah kita hanya ingin menjadi bangsa yang kaya? Menjadi bangsa yang kuat secara ekonomi? Menjadi bangsa yang unggul dalam teknologi? Menjadi negara yang disegani karena kekuatan militernya? Ataukah kita sedang berikhtiar menjadi bangsa yang baik, berkeadaban, menjaga amanah, memuliakan manusia, serta memperoleh ridha Allah Swt.?
Hari ini ukuran kemajuan sering kali direduksi menjadi angka-angka pertumbuhan ekonomi, tingginya gedung pencakar langit, panjangnya jalan tol, derasnya investasi, atau pesatnya perkembangan teknologi digital. Semua itu tentu penting sebagai bagian dari pembangunan. Islam tidak pernah mengajarkan umatnya hidup dalam kemiskinan atau tertinggal dari perkembangan zaman. Bahkan manusia diperintahkan untuk mengelola bumi dengan sebaik-baiknya sebagai khalifah Allah. Akan tetapi, seluruh kemajuan itu tetap harus ditempatkan sebagai sarana, bukan tujuan. Ketika sarana berubah menjadi tujuan, manusia perlahan kehilangan arah, dan pembangunan yang semula dimaksudkan untuk memuliakan kehidupan justru dapat menjadi sebab lahirnya berbagai bentuk ketimpangan dan kerusakan.
Allah Swt. memberikan arah yang sangat jelas mengenai tata orientasi kehidupan manusia.
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Carilah dengan apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)
Ayat ini tidak mengajarkan manusia untuk meninggalkan dunia, sebagaimana juga tidak membenarkan manusia menjadikan dunia sebagai tujuan akhir. Dunia adalah ladang pengabdian, ruang amanah, dan tempat manusia menunaikan tugas kekhalifahannya. Kemajuan ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, politik, kebudayaan, maupun pembangunan hanyalah perangkat yang mengantarkan manusia menuju tujuan yang lebih besar, yaitu mengabdi kepada Allah dan menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh makhluk. Oleh karena itu, ketika orientasi kehidupan bergeser dari Allah menuju dunia, sesungguhnya manusia sedang kehilangan tata yang paling mendasar dalam hidupnya.
Mungkin di sinilah pentingnya kita kembali memahami makna kemerdekaan dari sudut pandang yang lebih dalam. Sebelum bertanya tentang kemerdekaan sebuah negara, kita perlu bertanya tentang kemerdekaan manusia itu sendiri. Sebab bangsa tidak pernah berdiri sendiri. Bangsa dibentuk oleh manusia-manusia yang hidup di dalamnya. Jika manusianya masih diperbudak oleh keserakahan, kebencian, ketakutan, ego, dan hawa nafsunya, maka sebesar apa pun kemerdekaan yang dimiliki sebuah negara, bangsa itu akan tetap membawa luka penjajahan di dalam dirinya.
Atas kesadaran itulah, marilah kita terus sinau bareng melalui tema Tata Merdeka. Bersama-sama menata hati, pikiran, dan langkah hidup agar kemerdekaan tidak kehilangan arah, melainkan menghadirkan keadilan, kemaslahatan, dan kemuliaan bagi sesama. Semoga ikhtiar kecil ini menjadi bagian dari perjalanan kita mewujudkan Indonesia sebagai بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ (baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr), negeri yang baik, damai, sejahtera, serta senantiasa berada dalam ampunan dan ridha Allah Swt.








