Sejak kapan Pak Daurin menyukai Maiyahan? Sampai-sampai ia rela menempuh perjalanan jauh ke Jakarta, Yogyakarta, bahkan hingga Jombang, hanya demi menghadiri sebuah forum yang bagi sebagian orang mungkin tampak sederhana: duduk bersama, belajar bersama, berpikir bersama, mendengarkan bersama, dan bershalawat bersama. Sebuah ruang tempat manusia saling bertukar makna, mengolah kegelisahan, menimba ilmu kehidupan, dan menemukan keteduhan batin dalam kebersamaan.
Apa yang sebenarnya sedang ia cari? Dan apa yang telah ia temukan?
Orang tua Pak Daurin tidak pernah banyak bertanya tentang apa manfaat dari keberangkatannya. Pernah suatu kali ibunya bertanya ringan, “Mau ketemu siapa ke sana?”
Dengan jujur Pak Daurin menjawab, “Ketemu Cak Nun.”
Ibunya mengangguk pelan. “Oh, penyanyi lagu Tombo Ati itu? Dulu Ibu juga senang mendengarkan obrolannya di televisi.”
Kalimat sederhana itu justru seperti menjawab pertanyaan yang selama ini belum sempat ia rumuskan sendiri. Ya, mungkin itulah alasan ia tertarik pada Maiyahan: Tombo Ati, obat hati, sekaligus kegembiraan dalam obrolan yang menghidupkan cara belajar memahami kehidupan.
Di lingkungannya, Pak Daurin dikenal sebagai anak muda yang rajin beribadah dan tekun mengaji. Bahkan teman-temannya sering memanggilnya “Pak Kiai”. Namun mereka tidak pernah benar-benar tahu bahwa di balik semua itu, Pak Daurin menyimpan penderitaan yang tak terlihat. Bukan penderitaan ekonomi. Bukan pula perkara cinta. Melainkan penderitaan yang bersumber dari pola pikirnya sendiri.
Pikiran-pikiran itu tumbuh menjadi ketakutan dan kecemasan yang terus-menerus menghantuinya. Ilmu agama yang ia pelajari, karena cara pandangnya yang keliru, justru berubah menjadi ancaman bagi dirinya sendiri.
Ia pernah meyakini bahwa bacaan tertentu dalam salat harus sempurna tanpa cela. Jika salah sedikit saja, salatnya dianggap tidak sah. Jika tidak sah, neraka seolah telah menunggu kedatangannya.
Ketakutan itu tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ia mencemaskan keluarganya, masyarakat sekitarnya, bahkan nasib orang-orang yang tidak ia kenal. Seakan-akan ia sedang memikul beratnya gunung yang bukan miliknya.
Pikirannya lelah.
Dalam kesendiriannya, tatapannya sering kosong. Ia kebingungan menghadapi dirinya sendiri. Berbagai pertanyaan dan tekanan batin datang silih berganti, menyesakkan dada. Untuk meredakan kecemasan itu, ia mencoba mencari jawaban lewat ceramah dan kajian di YouTube. Ia berharap menemukan ketenangan.
Namun yang ia dapat justru sering kali menambah beban pikirannya. Bukan karena ilmu-ilmu itu salah, melainkan karena pola pikirnya masih terjerat oleh bisikan kekhawatiran. Setiap jawaban justru melahirkan pertanyaan baru. Setiap penjelasan melahirkan ketakutan yang lain.
Hingga pada suatu hari, secara tak sengaja muncul sebuah video di beranda YouTube-nya: Sinau Bareng bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng.
Ia tidak mengenal siapa Cak Nun. Ia juga tidak tahu apa itu KiaiKanjeng. Saat itu pikirannya sudah terlalu lelah untuk mencari jawaban. Ia hanya ingin beristirahat. Maka video itu diputar sekadar untuk menemani rebahnya tubuh dan memejamkan mata.
Namun sesuatu yang tak terduga terjadi. Tanpa terasa, ia menonton hingga satu setengah jam penuh. Ketika video itu selesai, Pak Daurin yang semula berbaring tiba-tiba duduk tegak.
Ada sesuatu yang berbeda. Pikirannya terasa lebih ringan. Dadanya lebih lapang. Hatinya lebih damai. Hidup terasa memiliki gairah baru. Seolah-olah video itu membawa bibit obat bagi penyakit kekhawatiran yang selama ini menggerogotinya.
Dalam Sinau Bareng itu, Cak Nun menyodorkan cara berpikir yang ringan namun berakar kuat—cara pandang yang dapat menjangkau banyak dimensi ilmu dan kehidupan tanpa memberatkan jiwa. Suasananya dibungkus kegembiraan, dihiasi ilmu, dan disinari shalawat.
Masalah-masalah yang dibawa ke ruang Maiyah, sadar ataupun tidak, seperti diolah dalam dapur batin yang tidak menakutkan, melainkan menumbuhkan makna. Termasuk penyakit cemas yang selama ini membelenggu Pak Daurin.
Sejak malam itu, ia rutin menonton video-video Maiyahan. Perlahan-lahan, persoalan dalam pola pikirnya mulai terurai. Banyak ilmu yang dapat ia praktikkan dengan rasa ringan dan gembira. Ia sangat bersyukur kepada Allah Swt. karena telah dipertemukan dengan Maiyah. Bahkan jauh di dalam hatinya tumbuh keinginan untuk bertemu langsung dengan Cak Nun dan mengucapkan terima kasih.
Kesempatan itu akhirnya datang. Suatu hari ada acara Maiyahan yang jaraknya sekitar dua jam perjalanan dari rumahnya. Tanpa berpikir panjang, ia memutuskan berangkat sendirian dengan sepeda motor selepas salat Ashar, berharap bisa tiba sebelum Magrib.
Namun ia tersesat. Maklum, ia belum pernah bepergian sejauh itu sendirian. Apalagi lokasi acara berada di atas pegunungan, melintasi dua kabupaten dari rumahnya. Akibatnya, ia baru sampai pukul sembilan malam. Meski lelah, sesampainya di lokasi ia justru merasakan kehangatan yang berbeda. Menyaksikan Maiyah secara langsung terasa jauh lebih mesra daripada sekadar menonton lewat layar.
Acara berlangsung hingga pukul satu dini hari. Setelah itu dilanjutkan sesi bersalaman dengan Cak Nun, diiringi lantunan shalawat KiaiKanjeng hingga pukul dua pagi. Pak Daurin ikut mengantri dengan tertib bersama jamaah lainnya. Inilah kali pertama ia berhadapan langsung dengan sosok yang selama ini hanya ia lihat lewat layar.
Sepanjang antrian, ia terus membaca shalawat sambil menatap wajah Cak Nun dari kejauhan yang semakin lama semakin dekat. Ia ingin memeluknya. Ia ingin mengucapkan terima kasih.
Namun ketika tiba di hadapannya, dadanya berdebar begitu keras. Air matanya hampir tumpah. Tubuhnya seperti kehilangan kendali. Ia hanya mampu menatap kedua telapak tangan Cak Nun, lalu menyalaminya. Tak sepatah kata pun keluar. Setelah itu ia menjauh, menatap lagi dari kejauhan. Hasrat untuk mengucapkan terima kasih belum juga tersampaikan.
Akhirnya ia melepas jaketnya dan kembali mengantri. Ia sengaja berganti penampilan agar tidak dikenali sebagai orang yang tadi sudah bersalaman. Namun hasilnya sama. Ia kembali kelu. Lalu ia mencoba untuk ketiga kalinya.
Kini ia melepas kemejanya, menyisakan kaos yang sejak tadi menempel di tubuh kurusnya. Memang dari rumah ia memakai tiga lapis pakaian untuk menahan dingin perjalanan. Sambil terus bershalawat, ia kembali maju dalam antrian. Kali ini, ketika tiba di hadapan Cak Nun, ia memberanikan diri memeluknya.
Pelukan itu singkat. Tetapi cukup. Meski tetap tak sanggup mengucapkan terima kasih, hatinya terasa telah menyampaikan semuanya. Setelah itu ia duduk dari kejauhan, memandangi wajah Cak Nun dengan dada yang perlahan tenang.
Acara benar-benar usai. Cak Nun dan KiaiKanjeng telah turun panggung. Pak Daurin bingung: pulang atau beristirahat dulu?
Tiba-tiba seseorang menghampirinya. “Dari mana, Mas?”
“Dari Cirebon,” jawab Pak Daurin.
Orang itu terkejut. “Jauh sekali. Istirahat dulu saja di tempat saya.”
Mata Pak Daurin berkaca-kaca. Ia tak mengenal orang itu. Namun sapanya begitu hangat, seperti keluarga sendiri. Dengan haru ia menjawab, “Terima kasih, Mas. Saya cuma mau tanya arah pulang tercepat ke Cirebon. Tadi saya berangkat sempat salah jalan.”
Orang itu pun menunjukkan arah. Ia juga bertanya apakah Pak Daurin sudah makan dan apakah bensinnya cukup. Pak Daurin memeluknya. “Insyaallah cukup. Mohon doanya saja.”
Pukul tiga dini hari, ia pun pulang sendirian menembus jalan pegunungan yang sunyi. Langit masih gelap. Udara menusuk tubuh. Namun hatinya hangat. Ia tiba di rumah tepat pukul lima pagi.
Lelah, tentu. Tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa pulang dengan jiwa yang lebih utuh. Karena malam itu ia memahami satu hal: kadang-kadang, Allah menyembuhkan seseorang bukan dengan jawaban yang rumit, melainkan dengan mempertemukannya pada sebuah kebersamaan yang membuat hati kembali menemukan jalan pulang.[]









