Background Ambience
Maulud Kebangsaan
Mukaddimah

Maulud Kebangsaan

Mukaddimah CirRebes Agustus 2026

Iib Ubaidillah
Iib Ubaidillah

Bulan ini kita berada dalam dua momentum yang oleh masyarakat Indonesia dimeriahkan secara khidmat bersama-sama. Agustus adalah bulan ketika kita mengenang kemerdekaan Indonesia, tentang sebuah bangsa yang melalui perjalanan panjang akhirnya melahirkan sebuah negara. Pada waktu yang berdekatan, kita juga memasuki bulan Maulid Nabi Muhammad SAW, bulan ketika kita mengenang kelahiran seorang manusia yang membawa risalah dan perubahan besar bagi kehidupan umat manusia. Dua momentum ini tidak harus kita paksa untuk dipertemukan, tetapi dapat kita jadikan kesempatan untuk duduk bersama, melihat keadaan bangsa, dan bertanya lebih dalam tentang manusia yang menjadi pelaku sekaligus penghuni dari kehidupan kebangsaan itu sendiri.

Sebuah bangsa tidak lahir begitu saja. Ia lahir dari manusia-manusia yang hidup bersama, mengalami sejarah, merasakan penderitaan, menyimpan harapan, dan kemudian menemukan kesadaran untuk membangun kehidupan bersama. Dari kesadaran kebangsaan itu lahirlah negara sebagai wadah kehidupan bersama. Negara kemudian melahirkan pemerintahan untuk menjalankan amanah mengatur kehidupan bernegara, sementara pemerintahan hadir untuk mengurus rakyat. Jika kita telusuri sampai ke hulunya, ternyata di balik bangsa, negara, pemerintahan, dan rakyat selalu ada manusia dengan segala kesadaran, akhlak, keinginan, kepentingan, dan nafsunya.

Karena itu, ketika kita melihat keadaan bangsa hari ini, mungkin kita tidak cukup hanya membaca apa yang tampak di permukaan. Kita menyaksikan kegelisahan masyarakat terhadap persoalan korupsi, tuntutan agar RUU Perampasan Aset segera disahkan, bahkan muncul tuntutan agar koruptor mendapatkan hukuman yang sangat berat. Di balik semua itu terdapat keresahan yang lebih dalam, yaitu ketika sesuatu yang seharusnya menjadi amanah justru dikhianati. Jabatan yang diberikan untuk melayani masyarakat dapat berubah menjadi jalan memperkaya diri, sehingga kepercayaan rakyat menjadi terluka.

Barangkali kita sedang berhadapan dengan berbagai keadaan darurat yang satu sama lain saling melahirkan. Darurat moral, darurat keadilan, darurat kepercayaan, darurat kepemimpinan, darurat sosial, dan berbagai macam keadaan darurat lainnya. Tetapi mungkin ada satu keadaan darurat yang jauh lebih mendasar, yaitu darurat hubungan manusia dengan Tuhan. Ketika hubungan manusia dengan Allah mengalami keretakan, maka nilai-nilai yang seharusnya menjadi dasar kehidupan perlahan kehilangan tempatnya.

Ketika manusia benar-benar menyadari bahwa Allah adalah pemilik mutlak kehidupan, maka ia akan memahami bahwa segala sesuatu yang berada di tangannya hanyalah amanah. Harta bukan sepenuhnya miliknya. Jabatan bukan miliknya. Ilmu bukan miliknya. Bahkan hidup yang sedang dijalaninya pun bukan miliknya. Semuanya akan dimintai pertanggungjawaban. Dari kesadaran semacam inilah seharusnya lahir kejujuran, amanah, keadilan, kasih sayang, dan penghormatan terhadap hak orang lain.

Di sinilah Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi sangat penting untuk kita renungkan. Kita tidak hanya mengenang kelahiran beliau sebagai sebuah peristiwa sejarah, tetapi mencoba melihat nilai apa yang lahir bersama risalah beliau. Nabi Muhammad SAW membawa manusia kembali kepada tauhid, tetapi tauhid yang tidak berhenti sebagai pengakuan. Tauhid yang menjelma menjadi akhlak dan cara manusia menjalani kehidupan. Dari tauhid lahir kesadaran bahwa manusia tidak boleh merasa menjadi penguasa mutlak atas manusia lainnya. Dari tauhid lahir amanah, keadilan, kasih sayang, persaudaraan, dan tanggung jawab.

Maka Maulud Kebangsaan bukan sekadar mempertemukan Maulid Nabi dengan persoalan negara. Kita sedang mencoba membaca persoalan kebangsaan dari akar yang lebih dalam. Bangsa melahirkan negara, negara melahirkan pemerintahan, pemerintahan mengurus rakyat, tetapi semuanya dijalankan oleh manusia. Karena itu, kualitas sebuah negara pada akhirnya sangat bergantung pada kualitas manusia yang hidup di dalamnya. Sistem yang baik membutuhkan manusia yang baik untuk menjalankannya. Aturan yang baik membutuhkan manusia yang memiliki kesadaran untuk menaati dan menjaganya. Pemerintahan yang baik membutuhkan orang-orang yang memandang jabatan sebagai amanah, bukan sebagai kesempatan untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri.

Kita sering berharap bangsa ini berubah. Kita ingin korupsi berkurang, keadilan ditegakkan, pemerintahan menjadi lebih baik, para pemegang jabatan semakin amanah, dan rakyat hidup lebih sejahtera. Harapan itu tentu baik dan perjuangan untuk mewujudkannya juga sangat penting. Tetapi Maulid mengajak kita melakukan sesuatu yang lebih sunyi, yaitu memutar pandangan dari luar menuju ke dalam diri sendiri.

Maka pada bulan kemerdekaan dan bulan Maulid ini, barangkali yang perlu kita tanyakan bukan hanya apa yang telah lahir di masa lalu, tetapi apa yang hendak kita lahirkan kembali pada hari ini. Apakah kita mampu melahirkan kesadaran baru, manusia baru yang lebih dekat kepada Allah, lebih jujur, lebih amanah, lebih adil, lebih peduli, dan lebih menghargai sesamanya? Sebab kemerdekaan sebuah bangsa akan menjadi semakin bermakna jika manusia yang merdeka itu juga mampu membebaskan dirinya dari keserakahan, kebencian, kesombongan, dan keinginan untuk mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Kita datang bukan hanya untuk menilai keadaan bangsa, tetapi untuk bertanya apa yang dapat kita ubah dalam diri sendiri, apa yang perlu kita luruskan dalam hubungan dengan Allah, apa yang perlu kita perbaiki dalam hubungan dengan sesama, dan amanah apa yang selama ini belum kita jalankan dengan sebaik-baiknya. Mungkin kita tidak mampu mengubah negara dalam satu malam, tetapi kita selalu mempunyai kesempatan untuk mengubah satu manusia yang paling dekat dengan kita, yaitu diri kita sendiri.

Bagikan:
Iib Ubaidillah

Iib Ubaidillah

Penggiat Simpul Maiyah Cirrebes, tinggal di Cirebon.

Tulisan Terbaru dari Iib Ubaidillah

HOME