Saudara-saudaraku jama’ah maiyah. Di rutinan Maiyah Cirrebes bulan ini, kami ingin mengajak semuanya untuk terlebih dahulu khusyu menjadi “anak-cucu” yang sedang bermanja dengan Mbah-nya. Membenakkan dalam batin, duduk dan bertawashulan bareng bersamanya.
Kemudian, Mbah Nun menceritakan penggalan sebuah kisah “Garuda”, dengan harapan kita anak cucunya, bisa menguraikan muatan esensinya, merumuskan arah tujuanya, dan menginternalisasikan dalam diri dari hikmah kisah didalamnya.
Mari kita dengarkan kisah garuda itu dari bacaan kita sendiri, sebab Mbah Nun sudah menuliskan dan menyimpan kisah garuda tersebut di caknun.com. Sebuah wadah untuk bersilaturrahmi ilmu, melukis rindu, dan menitpkan pesan kepada anak cucunya, untuk belajar memepalajari segala bentuk kasih sayangnya.
Alkisah Garuda itu bukan jenis burung, melainkan nama Burung. Burungnya Ulung, atau Elang atau Rajawali. Ia putra dari seorang Ibu yang menderita hidupnya karena diperbudak oleh Kakak kandungnya. Mereka berdua menempuh sayembara di antara mereka berdua untuk menebak apa warna kuda yang sedang berlari kencang di gigir cakrawala. Sang Kakak mengatakan: “Hitam”. Adiknya yakin “Putih”. Kalau tebakannya salah, maka ia menjadi budak dari yang tebakannya benar. Harus patuh disuruh apa saja.
Ketika saatnya tiba, ternyata memang ekor Kuda itu berwarna putih. Kakaknya tidak mau kalah. Ia punya peliharaan dan bersahabat dengan puluhan Naga. Maka ia minta Naga-Naga itu menyembur atau menyemprotkan ludahnya ke ekor kuda agar hilang warna putihnya. Singkat kata akhirnya ekor kuda itu cenderung hitam dibanding putih. Maka sang Adik kalah dan menjadi budak Kakaknya sendiri.
Sampai suatu hari sang Adik mempunyai anak yang ia namakan Garuda. Bayi ini kekasih para Dewa, di dalam dirinya diisikan berbagai keistimewaan dan kesaktian. Dan Sang Ibu memang tahu bahwa putranya itulah yang kelak akan memerdekakannya dari perbudakan.
Singkat cerita, Garuda bertapa dan mendapatkan petunjuk bahwa untuk membebaskan Ibunya, ia harus menemukan Air Amerta. Melalui perjuangan yang sangat gigih dan benar-benar pantang mundur, akhirnya Garuda diperkenankan oleh Dewa untuk menemukan air itu di sebuah pulau terpencil. Kakaknya panik, karena berarti ia harus membebaskan adiknya.
Sang Kakak secara brutal mencoba merebut kantung Air Amerta, sampai sobek dan airnya tercecer menciprati rerumputan tinggi, yang kemudian diberi nama Alang-alang. Karena dengan ia dibasahi oleh Amerta, maka ia memiliki kekuatan langit untuk menolak bala dan bencana. Itulah sebabnya ia bernama Alang-alang, karena ia mampu menjadi penghalang bencana.
Alang-alang adalah rakyat kecil yang dipandang remeh, diinjak-injak, direndahkan dan dianggap tak berguna. Tetapi sepanjang kurun waktu tidak pernah Alang-alang diberitakan mati. Yang selalu akhirnya mati adalah Penguasa yang menginjak-injaknya.
Jelas juntrung sejarahnya sekarang. Ibu Pertiwi yang disandera dan diperbudak oleh saudaranya sendiri sesama manusia, sedang menantikan perjuangan Garuda untuk membebaskannya dari perbudakan yang bagai tak ada habisnya.
Sebelum mengakiri kisah cerita garuda tersebut, Mbah Nun menyanyikan sebuah puisinya dihadapan kita semua anak cucunya, dengan penuh penghayatan, yang berjudul;
Garuda Sepi
“Sepinya hati Garuda
Dijunjung tanpa jiwa
Menjadi hiasan maya
Oleh hati yang hampa
Dendam tanpa kata
Mendalam luka Garuda
Disayangi tanpa cinta
Dipuja tapi dihina”
Dari kisah dan puisi tersebut, marilah kita sebagai anak-cucunya belajar bersama. Merenungkan, apakah Garuda hari ini hanya menjadi lambang yang kita junjung tinggi, sementara nilai-nilai yang dikandungnya justru kita tinggalkan.
Apakah kisah perjuangan Garuda hanya kita kenang sebagai sebuah mitologi, ataukah kita hadirkan dalam kehidupan melalui keberanian menegakkan kebenaran, membela yang lemah, memerdekakan diri dari belenggu hawa nafsu, serta menjaga Ibu Pertiwi dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Semoga malam nanti, melalui tawasulan, kisah, puisi, dan kebersamaan di Jannatul Maiyah Cirrebes, Allah SWT menggugah batin kita untuk menjadi bagian dari perjuangan Garuda—bukan sekadar menjunjung lambangnya, melainkan menghidupkan nilai, ruh, dan semangat perjuangannya dalam setiap langkah kehidupan.









