Background Ambience
Pati Geni
Mukaddimah

Pati Geni

Mukaddimah Paseduluran Maiyah Pasuruan September 2026

MyMaiyah.id
MyMaiyah.id

Penemuan api menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah manusia. Ia memberi hangat, memberi terang, membantu manusia memasak dan menjalani kehidupan. Tetapi ketika membesar dan kehilangan kendali, api yang sama dapat menghabiskan apa saja. Barangkali demikian pula kehidupan manusia. Banyak hal tidak selalu salah sejak awal, kadang hanya tumbuh perlahan, menjadi bara yang diam-diam tersimpan, menunggu angin, rumput yang mengering, dan satu percikan untuk menjadi api. Di dalam diri, kemarahan, keinginan, kekecewaan, bahkan rasa tidak adil pun bisa bermula sebagai bara.

Akhir-akhir ini kita seperti sedang berhadapan dengan banyak jenis api. Ada api yang membakar hutan-hutan dan gunung-gunung, meninggalkan kerusakan yang tidak selesai ketika nyalanya padam. Ada pula api kegelisahan yang membawa saudara sebangsa kita dari Pati menuju Pusat, mengingatkan pemegang amanah kekuasaan janji pemberantasan korupsi yang menggerogoti kehidupan rakyat. Jauh sebelum api-api itu tampak di luar, manusia sebenarnya telah mengenal laku untuk berhadapan dengan api yang paling dekat: Pati Geni. Tirakat memadamkan api di dalam diri, menundukkan nafsu. Barangkali yang tampak sebagai api di luar sana sesekali juga merupakan pantulan bara yang tersimpan di ruang gelap batin manusia.

Dalam salah satu Sinau Bareng, Mbah Nun mengingatkan sifat api yang tidak mengenal batas, tidak mau tunduk, dan membakar apapun yang disentuh. Sedikit api, jika tidak dikelola, dapat membakar banyak hal. Tetapi barangkali kita juga perlu belajar bahwa tidak semua api harus dipadamkan. Ada api yang membakar, ada api yang menerangi, ada bara yang menghanguskan, ada pula bara yang menghangatkan. Maka persoalannya bukan semata bagaimana mematikan api, melainkan bagaimana mengenali api dan mengelolanya agar tidak menguasai hati.

Sebab yang ditunggu Tuhan dari seekor semut yang membawa setetes air ke tengah api yang membakar Ibrahim, bukan semata-mata padamnya api itu, kepada siapa dia berpihak. Maka ketika api menyala, kita selalu memiliki kemungkinan: menjadi air yang memadamkan, angin yang membesarkan, kayu bakar yang ikut terbakar, atau sekadar berdiri jauh membiarkan semua terbakar habis.

Mungkin Pati Geni adalah kesempatan untuk berhenti sebentar, menjernihkan pikiran dan melonggarkan hati, sebelum kembali melihat dunia. Bukan untuk menjadi manusia tanpa api, melainkan untuk mengenali apa yang sedang menyala di dalam diri, apa yang sedang terbakar di sekitar kita, dan apa yang layak kita jaga agar tetap menyala. Mari kita ajak api diri untuk ber-Maiyah.

Apa yang sebenarnya sedang menyala di dalam diri kita?
Apakah yang kita sebut cahaya benar-benar cahaya, atau api yang sedang menguasai hati?
Api mana yang harus kita padamkan, dan api mana yang harus kita jaga?
Mana yang lebih sulit: memadamkan api, atau mengakui bahwa kita ikut menyalakannya?
Dan ketika api menghanguskan banyak hal di hadapan kita, di pihak mana kita memilih untuk meletakkan diri?

Mari Melingkar.

Bagikan:
MyMaiyah.id

MyMaiyah.id

Tulisan Terbaru dari MyMaiyah.id

HOME