Kita telah memasuki bulan Mei yang menjadi bulan Milad-nya Mbah Nun. Salah satu yang masih segar di sanubari kita adalah nasihat Mbah Nun yang dituangkan dalam lirik lagu: Wakafa. Disadari atau tidak, ini adalah pusaka yang seolah diwekaskan kepada anak cucunya yang kian menghadapi kekeruhan dan ketidak-menentuan zaman. Maka, Wakafa bukan hanya sekadar lagu. Ia adalah nasihat sepuh yang menjadi pusaka bagi warga Maiyah, dan mungkin juga bagi siapa saja yang sedang berusaha menjaga dirinya di tengah arus zaman yang semakin deras.
Hari ini manusia hidup bukan lagi di tengah terik padang pasir, melainkan di tengah banjir stimulasi, hiruk pikuk informasi, tekanan ekonomi, perlombaan identitas, dan rasa takut tertinggal. Mata manusia dipenuhi tampilan, telinga dipenuhi kebisingan, sementara batin perlahan kehilangan ruang untuk mendengar dirinya sendiri. Dalam keadaan seperti itu, manusia mudah lelah, mudah cemas, mudah goyah, meski tampak baik-baik saja di permukaan. Belum lagi peta geopolitik dunia yang kian memanas dan menambah ketidakpastian hidup manusia modern.
Di tengah suasana itulah, lirik Wakafa Billahi… terasa hadir sebagai jangkar di tengah hempasan gelombang kenyataan. Ia tidak mengajak manusia meninggalkan dunia, tidak pula melarang orang bekerja, mencari penghidupan, membangun keluarga, atau menata masa depan. Namun ia mengingatkan sesuatu yang lebih mendasar: jangan sampai seluruh sandaran hati berpindah kepada dunia, hingga manusia lupa kepada sumber ketenangan yang sejati.
“Cukuplah Allah…”
Kalimat itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh lapisan terdalam dari kegelisahan manusia. Sebab sering kali yang membuat hidup terasa berat bukan semata-mata karena kurangnya harta atau kesempatan, melainkan karena batin kehilangan tempat bersandar. Manusia modern mampu terhubung dengan banyak orang, tetapi asing terhadap dirinya sendiri. Mampu mengakses banyak informasi, tetapi kehilangan arah. Mampu menampilkan banyak hal, tetapi sulit merasa cukup.
Karena itulah, Wakafa dapat dibaca sebagai ajakan untuk memulangkan kembali pusat ketergantungan manusia. Bahwa kita tetap perlu berikhtiar, tetap bekerja, tetap hadir di tengah kehidupan, namun tidak menyerahkan seluruh makna hidup kepada apa yang fana dan berubah-ubah. Mungkin di situlah letak Himayah dan Kifayah yang tersembunyi di dalam lirik ini: bukan menjauhkan manusia dari zaman, melainkan menjaga manusia agar tidak tenggelam oleh zaman.
Di edisi bulan Mei ini, kita akan mencoba berembug bersama. Bukan sekadar membahas Wakafa sebagai lirik atau konsep batin, melainkan mencoba mendiskusikan langkah-langkah apa saja yang dapat diambil dalam waktu dekat, dengan tetap menjadikan Wakafa sebagai landasan, genggaman, sekaligus perisai dalam menjalani kehidupan.
Marilah bergabung, kehadiran Anda bisa jadi bagian dari keutuhan Himayah dan Kifayah yang dikaruniakan Allah untuk kita semua. Aamiin.








