Apa yang sesungguhnya kita cari dalam kehidupan ini? Jangkar apa yang telah kita siapkan agar tetap tegak, tidak hanyut oleh arus dan ombak kehidupan yang tak selalu mampu kita kendalikan?
Bersama siapa kita mengarungi kehidupan ini? Yakin kah kita pada diri sendiri? Bersediakah kita tenggelam dalam kebodohan atau terseret badai kehampaan dan kekosongan diri?
Sudahkah kita memiliki pengetahuan yang cukup, ilmu yang presisi, serta kompas hati yang jernih untuk menemukan intan permata kehidupan yang sejati?
Kita memahami bahwa pada akhirnya hidup ini adalah perjalanan pulang kepada-Nya. Adakah kegelisahan dalam diri kita: akankah kita pulang dalam cinta-Nya atau justru dalam murka-Nya?
Di antara kita mungkin ada yang hidup dalam kesederhanaan, ada yang sedang berjuang menuju kesejahteraan, ada pula yang telah berkecukupan. Kita bebas memilih menjadi orang biasa ataupun sakti mandraguna; menjadi rakyat jelata, aparat pemerintah, atau abdi negara. Namun, pada ujung perjalanan, kita semua akan kembali kepada-Nya.
Di tengah kehidupan masyarakat yang beragam, situasi negeri yang kadang menenangkan namun tak jarang menyengsarakan, serta keadaan dunia yang kerap mencekik dan mencekam, masihkah kita mampu menemukan jalan pulang untuk kembali kepada cinta-Nya?
Beruntunglah, Allah memberikan kabar gembira:
لَمَّا قَضَى اللَّهُ الْخَلْقَ، كَتَبَ عِنْدَهُ فَوْقَ عَرْشِهِ: إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي
“Ketika Allah telah selesai menciptakan makhluk, Allah menulis di atas Arsy-Nya: ‘Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku.’” (HR. Bukhari)
Pertanyaannya, akankah kita termasuk golongan yang kalah karena kemurkaan-Nya? Ataukah kita memperoleh kemenangan karena kasih sayang-Nya?
Lalu, bagaimana cara meraih cinta dan kasih sayang-Nya?
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S Al-‘ImrAn : 31)
Sudahkah kita benar-benar mencintai kekasih-Nya, Nabi Muhammad saw., sementara sahabat terdekat beliau sekalipun, Umar bin Khattab, masih memerlukan penegasan sebagai bukti kebenaran cintanya?
عَبْدَ اللَّهِ بْنَ هِشَامٍ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ آخِذٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا مِنْ نَفْسِي. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ. فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: فَإِنَّهُ الْآنَ وَاللَّهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الآنَ يَا عُمَرُ
Artinya: Abdullah bin Hisyam menuturkan, kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau menggandeng tangan Umar bin Khattab. Umar berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu selain diriku sendiri.” Nabi bersabda, “Tidak, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Maka Umar berkata, “Sekarang, demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Nabi pun bersabda, “Sekarang, wahai Umar.”
(HR. Bukhari)
Mencintai dan mengikuti Rasulullah Saw. adalah teman perjalanan sepanjang kehidupan. Barangkali ada saat-saat ketika kita membuat Rasulullah tersenyum karena perilaku kita yang mencintai dan membahagiakan sesama makhluk-Nya. Namun, mungkin pula ada saat ketika kita membuat beliau bersedih karena kita menjauh, kehilangan arah, tersandung batu kebencian dan kesombongan, lalu terperosok ke dalam lubang keserakahan dan kepalsuan.
Mbah Nun dan Kiai Kanjeng mengajak kita mencintai Rasulullah Saw. melalui album shalawat “Cinta Sepanjang Zaman.”
Sebagai anak-cucu jamaah Maiyah yang mencintai dan merindukan beliau, pada bulan kelahiran Mbah Nun ini—bulan Mei—kami, Masyarakat Maiyah Cirrebes, mengajak kita semua untuk kembali meneguhkan cinta kepada Rasulullah saw. melalui tawasulan, shalawatan, dan sinau bareng; menimba pengetahuan, memperdalam ilmu, serta meneguhkan laku hidup agar terus mencintai dan mengikuti kekasih-Nya, Rasulullah Saw.








