Sabtu, 18 April 2026, bagi sebagian orang bisa disebut dengan hari biasa saja, namun bagi dulur-dulur SabaMaiya adalah hari yang istimewa. Kenapa demikian, pada malam itu adalah hari yang dinanti para jamaah maiyah di Wonosobo untuk menyambut gelaran rutinan yang ternyata memasuki putaran ke 119.
Gelaran ke 119 tersebut ini selaras dengan edisi milad ke 10 SabaMaiya, tentu ada kalimat “tak terasa” sudah satu dasawarsa saja dulur-dulur SM melingkar, bermunajat, berdiskusi, ngobrol apapun saling support menguatkan para mitra SabaMaiya. Namun bagi sebagian mitra SabaMaiya yang mengawal dari lahirnya lingkaran ini sampai sekarang ini tentu terasa, dari dialektikanya dan segala hal yang menyertai hingga kalimat yang kerap kali diwiridkan adalah: mengistiqomahi-ketidakistiqomahan, lha prige ze?
Kalimat ‘mitra” ini pun bagian dari dulur SabaMaiya sebagai ungkapan panggilan jamaah yang kerap kali datang di rutinan, bukan sebagai sapaan ‘pakem’ namun bentuk guyonan(bercanda) setara kalimat panggilan “ndan”, atau bat-dari kata sahabat. Misalnya.
Meski sejak siang menuju sore langit Wonosobo hujan, namun bertepatan kisaran pukul tujuh malam lebih hujan tipis-tipis pun reda, genangan air masih tampak menggenang di sudut bangunan. Bangunan joglo khas Jawa yang menjadi tempat berkumpul dulur SabaMaiya setiap bulannya pun sudah mulai terisi beberapa jamaah yang hadir.

Joglo Lawasan, di Ngadikusuman tepatnya di Kusuma Baru, Kertek, Wonosobo ini menyambut para jemaah yang mulai merapat, silih berdatangan dari teman-teman komunitas, mahasiswa, hingga elemen masyarakat turut serta guyub-mangayubagya milad ke 10 SabaMaiya. Karena pada hari itu menjadi hari yang spesial dari rutinan yang digelar setiap Sabtu di pekan kedua setiap bulannya, dari dulur-dulur penggiat SabaMaiya pun mempersiapkan sudah dari jauh-jauh hari, merancang-meracik untuk ikromuduyuf, memuliakan tamu, sak isa-isane sekadar kemampuan bentuk dari khidmah kepada sebuah lingkaran ilmu.
Sembari merancang rutinan untuk milad ini, juga nyicil sebuah kado berupa buku catatan dan refleksi jamaah SabaMaiya selama 10 tahun berkumpul, berbagi keresahan, saling menguatkan, mengurai-menambah masalah dan diulas bersama. Percayalah bro, mereka melakukannya berkali-kali setiap bulannya tanpa pernah sadari sudah satu dekade ternyata, dan tak kapok, ini menarik bukan?
Apalagi letak wilayah Wonosobo sendiri ini yang di lereng gunung, dan dulur-dulur yang berkumpul ini letak rumahnya pun beragam, dari lereng Bisma hingga meloncat ke wilayah yang berada di lereng Sindoro-Sumbing, kalau bukan karena katresnan atau kalau boleh mengutip satu penggalan nilai Maiyah: al-mutahabbina fillah (saling mencinta, nyedulur karena Gusti Allah) lantas mau disebut apa?

Kisaran pukul setengah delapan malam, para penggiat mulai membuka munajat Maiyah, tiga orang mengisi lini depan panggung utama, melafazkan hadoroh, sambung alfatihah hingga runtutan wirid-selawat hingga ayat-ayat yang telah disusun di “Tawashulan” bagi dulur-dulur Maiyah Wonosobo sendiri buku panduan tawasulan yang dawam dilakukan dibaca ini kerap disebut dengan ‘proposal’, ya proposal ngemis-ngemis kepada Gusti Allah, bagian dari lantaran pasrah kepada Tuhan melalui kalimah-kalimah toyyibah yang ada di “Tawasshulan’ ini.
Setelah dipungkasi dengan doa sembari masih posisi berdiri, selingan “rabbi faghfilri dzunibi ya allah..” para jemaah yang hadir bersahutan melantunkan kalimat itu berulang, khusyu’ merenungi dosa-dosa sembari meluapkan harapan dan do’a kepada Tuhan. Ada istilah lagi di JM di Wonosobo, ketika tawasshulan dilantunkan pokoknya, “ora iso ora nangis” kalau berkaitan dengan kanjeng Nabi dan Gusti Allah.
Satu dua jamaah mulai tambah berdatangan melangkah ke Joglo Lawasan yang menjadi ‘homebase’ SM ini, merapat duduk di karpet yang telah digelar, di bawah bangunan beratap limasan yang estetik ini, mengisi lini depan, samping dan penuh, ada yang asyik di shof belakang sembari menyimak dan ngobrol dengan temannya, ada yang duduk bersandar di tiang atau “saka” pilar empat yang menopang sebuah rumahan khas satu ini.
Senandung lagu-lagu mulai dilantunkan oleh mas Dana n friend, dikomando oleh Acil, musisi yang merangkap mahasiswi di Yogyakarta ini khusus pulang kampung ke kota asalnya Wonosobo tercinta, merapat di milad SM edisi April ini.
Bisa dibilang milad SabaMaiya ke-10 ini digelar tanpa gegap gempita, tetapi justru di situlah letak rasanya yaitu sederhana, tapi mendalam, serta penuh kejutan, Ya, kejutannya adalah dirawuhi beberapa bapak-bapak Kiai Kanjeng, Pakdhe Yoyok, Pak Jijit, dll, itu kado bagi mitra SM, tentu selain kado berupa launching buku “Jejak SabaMaiya: 10 Tahun Belajar Menjadi Manusia” yang diberi kata pengantar oleh Mas Sabrang dan Kiai Toto Rahardjo, pun juga Mbah Tanto Mendut, Presiden Lima Gunung.

Juga kerawuhan pula, Mas Harianto membersamai gelaran rutinan SabaMaiya edisi bulan April 2026, selain itu ada Sutanto Mendut yang kerap disapa Mbah Tanto, bersama Farid Gaban, seorang jurnalis senior.
Sekitar pukul 20.00 WIB para narasumber telah mengisi sisi depan panggung utama, dengan berlatar belakang banner bertuliskan tema: “Anna-Sthirata” yang bakal didiskusikan malam itu. Sebelum diskusi diwedar oleh moderator mas Yuli dan mas Marwan, mereka mempersilakan 3 narasumber utama ini mengungkapkan dan merespons sebuah karya dari jamaah SabaMaiya berupa buku tersebut.
Mulai dari mas Harianto membuka lembaran, bahwa buku tersebut ia yakin bukan sekadar kumpulan mukaddimah (pengantar diskusi) saja, menurutnya ini adalah ikrar dari teman-teman SabaMaiya sendiri, di setiap prolog diskusi tersebut selalu diakhiri tanda tanya, meski nantinya kerap kali nantinya melekat adalah jawaban subyektif dari jamaah yang hadir namun ini menarik.
“Iki janji lho rek, dudu dokumen biasa,” ungkap mas Harianto sembari menunjuk buku yang tengah di launching malam itu. Janji itu tidak ditagih oleh siapa pun, kecuali oleh waktu yang akan menguji kesetiaan para JM SabaMaiya sendiri untuk tetap hadir, tetap belajar, dan tetap bertumbuh.
Sepuluh tahun kebersamaan tidak dirayakan sebagai capaian buku atau angka semata, tetapi yang dirayakan adalah “kumpulnya panca indera” yaitu perjumpaan utuh antar manusia yang saling menghidupkan. Dari lingkaran sederhana ini, muncul harapan bahwa apa yang dirajut bersama akan menjadi sumbangsih lebih luas.

Bahkan menyentuh perkembangan zaman, termasuk kecerdasan buatan, sebagaimana disinggung oleh Mbah Tanto.
“Mengucapkan selamat bukan pada bukunya, 10 tahun masih kumpul, kumpulnya panca indera, dari perkumpulan ini, bakal menjadi sumbangsih, terutama pada (kecerdasan buatan) familiar AI.” Tanggapan Mbah Tanto ketika berkomentar perihal buku dari SabaMaiya. Sebuah optimisme yang unik, bahwa dari lingkaran kecil di Wonosobo, lahir gagasan besar untuk jangkauan lebih luas.
Respon pak Farid Gaban tentang buku tersebut, bagian dari mbombong ati para kontributor yang telah menuliskan menjadi satu buku itu, bahwa menurut Farid Gaban di era sekarang ini masih ada yang mau menulis, hingga menjadi sebuah buku apalagi dengan ketebalan 400-an lebih bagian dari istimewa.
Setelah testimoni dalam launching buku karya satu dasawarsa SM tersebut, baru dilanjutkan dengan sesi MBG (Makan Bareng Gayeng), dimulai dengan sesi pemotongan tumpeng secara simbolis mensyukuri 10 tahun maiyah Wonosobo dengan diserahkan oleh para penggiat sepuh kepada 3 narasumber yang hadir, pun juga buku yang diluncurkan.
Nasi tumpeng diedarkan, menyelingi ubo rampe nasi yang dinikmati bersama-sama beberapa nomor tembang lagu disenandungkan kembali, sehingga menambah hangat perjumpaan agung, satu majelis duduk bersama ngobrol, makan bersama ditemani nasi kuning berserta lauk-pauk yang khas.
Duet maut moderator malam itu menambah hidup jalannya diskusi terkait tema yang secara makna berarti ketahanan pangan, yang diharapkan juga berdaulat pangan. Selain mentadabburi sebuah ayat dalam surat Al-Qur’an Al-Quraisy juga belajar dari persitiwa Syiib Abu Tholib sebagai bagian dari pengingat, ada peristiwa semacam itu dalam dakwah kanjeng nabi, hikmah apa yang bisa kita gali.
Merespon terkait tema mas Harianto berangkat dari pembacaan surat Al-Quraisy, ada semacam pertalian menarik dan spirit lebih ketika membahas ayat tersebut.
“Maka yang sering saya sampaikan kepada teman-teman bukan pada kedaulatan pangan kita, namun pada kedaulatan selera kita.” Ungkap mas Harianto mengaitkan dengan tema “Anna-Sthirata”.

Lain halnya, moderator memantik Mbah Tanto Mendut mengungkapkan ide-idenya nyrempet tema hingga sebuah nilai yang disodorkan kepada jamaah yang hadir, sebagai buah pikiran mendobrak opini yang telah terbangun dan melekat dipikiran atau alam bawah sadar.
Nilai yang dibangun pun tidak biasa. Islam di ruang ini tidak berhenti pada simbol atau tempat, tetapi diupayakan melampaui batas geografis. “Islam di sini harus melebihi di Saudi,” menjadi pernyataan yang menggugah, bukan dalam arti perbandingan fisik, melainkan dalam kualitas penghayatan dan pengamalan.
Contoh sederhana datang dari kisah Mas Akbar tentang “teori barokah”. Ia menuturkan bagaimana istiqomah menyuguhkan kopi di forum Maiyah Mocopat Syafaat justru melahirkan energi kebahagiaan dalam dirinya. Wajah yang sumringah saat bekerja menjadi bukti bahwa keberkahan tidak selalu berupa materi, melainkan rasa cukup dan bahagia yang tumbuh dari ketulusan.

Menjelang larut, sekitar pukul 23.00, suasana semakin hangat dengan alunan musik petikan gitar dari personel Kiai Kanjeng yang diiringi oleh pak Yoyok. Lagu “Tuhan Aku Berguru” yang dibawakan Acil menjadi penanda makna pertemuan itu. Dalam pengantarnya, disampaikan bahwa semua yang hadir di SabaMaiya sesungguhnya datang karena satu alasan: berguru pada siapa saja, pada apa saja, dan pada kehidupan itu sendiri. Selain itu ya karena dipertemukan dengan sang guru: Mbah Nun.
Selepas nomor lagu dibawakan, beranjak ke sesi tanya jawab dari para jamaah yang hadir, seorang jamaah bernama Satria melontarkan refleksi sederhana namun mengena, baru kali ini ia menemukan forum yang mampu membuatnya tertawa lepas tanpa beban.
Tidak ada euforia berlebihan, malam itu di Joglo Lawasan yang terasa justru semacam kesadaran bahwa sepuluh tahun ini bukan perjalanan pendek, dan yang bertahan sampai hari ini bukan sekadar forum, melainkan cara hidup yang terus dirawat bersama.[] (Redaksi SabaMaiya)








