Hidup ini laksana universitas. Dalam perjalanannya yang panjang dan berliku, kita menemukan ujian yang kadang menusuk kalbu, serta pelajaran yang seringkali tersembunyi di balik kesunyian malam. Setiap orang memiliki peta perjalanannya masing-masing. Tak jarang kita kehilangan arah dan tersesat di persimpangan yang sunyi, bahkan terperosok dan terjerembab ke dalam lembah kelelahan jiwa.
Pada momen-momen genting itulah, setiap kita membutuhkan pegangan. Bukan sekadar penunjuk jalan, tetapi pembimbing yang memahiri lika-liku hati. Penuntun yang tak hanya tahu arah, tetapi juga tahu kapan harus diam dan kapan berbisik. Bahkan, kita butuh pengasuh, sang pamomong, yang dengan sabar membetulkan letak langkah kita tanpa pernah merendahkan.
Barangkali, itulah rahasia terbesar mengapa kita, jamaah Maiyah, dapat saling bertemu dan terus berkumpul hingga detik ini. Bukan karena kebetulan. Bukan pula karena euforia sesaat. Melainkan karena kepengasuhan. Karena Mbah Nun, dengan segala keterbatasan fisik dan kelapangan hatinya, memilih untuk menjadi ra’iy, gembala yang menggiring kita ke padang rumput makna.
Melalui kepengasuhan itu, kita pelan-pelan menemukan tujuan hidup yang lebih presisi. Kita belajar melewati ujian dengan percaya diri yang lahir dari ketulusan, bukan keangkuhan. Kita digiring untuk menemukan kunci-kunci hidup yang selama ini tersembunyi dari penglihatan mata dan batin kita sendiri.
Pada bulan kelahiran Mbah Nun ini, kita anak cucu Maiyah berhajat untuk meneguhkan kembali ghirah yang mulai menipis dalam dada. Kita ingin mengatur kembali nafas yang kusut oleh kesibukan dunia. Kita ingin menata kembali energi yang tercerai-berai oleh kepentingan semu.
Kita pulang. Bukan ke seorang pribadi, melainkan ke percikan-percikan yang telah ia tebarkan. Ke tetes-tetes kesadaran yang tak pernah berhenti meresap. Ke usapan-usapan cahaya yang tertuang dalam karya-karyanya.
Maka, pada kesempatan ini, kita memilih tema: Sastra Rayya.
Rayya (رايا) — yang berakar dari kata ra’iy, artinya gembala atau pengasuh. Sastra yang tak hanya memanjakan telinga dan imajinasi, tetapi sastra yang mengasuh. Sastra yang menjadi kandang ruhani saat kita lelah menjadi liar. Sastra yang menjadi susu dan madu untuk jiwa-jiwa yang tengah bergolak.
Dengan menapak-tilasi kembali guratan-guratan nilai dan rasa yang tertuang dalam puisi, prosa, dan nyanyian Mbah Nun, kita berharap bisa merasakan kembali hangatnya kepengasuhan yang mungkin mulai kita lupa.
Maka, mari berkumpul. Mari kita rayakan cahaya melalui puisi-puisi. Biarkan kata-kata menjaga kita seperti gembala yang menjaga mimbar-mimbar kesadaran.
Selamat datang di Sastra Rayya.
Selamat berlabuh di pangkuan pengasuhan.








