Ba’al dalam kisah lama dipahami sebagai berhala. Tapi mungkin yang perlu dipahami, berhala tidak selalu berbentuk patung atau sesuatu yang disembah secara harfiah. Ia bisa hadir dalam hal-hal yang terlihat biasa saja: kekuasaan, nama besar, kekayaan, pujian, bahkan rasa ingin diakui. Sesuatu yang awalnya hanya kita jadikan alat, perlahan berubah menjadi pusat hidup yang terlalu kita takuti untuk kehilangan.
Masalahnya, semua itu sering datang dengan wajah yang masuk akal. Tidak ada yang salah selama manusia masih memegang kendali atas dirinya. Namun pelan-pelan, arah itu bisa berubah. Kita tidak lagi sekadar mengejar sesuatu, tetapi mulai hidup untuk memenuhi tuntutan dari sesuatu itu. Dari yang awalnya kita pegang, justru balik memegang kita.
Mungkin itu yang membuat Idul Adha terasa seperti perayaan sekaligus teguran. Ada takbir, ada darah kurban, ada tradisi yang terus diulang setiap tahun. Tapi di balik semua itu, jangan-jangan selama ini kita sudah terlalu menggantungkan diri pada sesuatu dan kita anggap wajar hari ini. Dan barangkali, makna menyembelih yang paling sulit adalah ketika manusia diminta rela melepaskan sesuatu yang diam-diam sudah ia tempatkan terlalu tinggi di dalam hidupnya. (Redaksi Suluk Surakartan)








