Tidak perlu sampai jauh ke level nasional yang memang sudah bisa terbaca ada sudut ketidak pahaman membaca situasi hingga gagal menetapkan regulasi. Kita di level sekitar saja. Apakah sudah maksimal menjalankan potensi anugerah Allah. Atau jangan-jangan merasa tahu lantas lupa ada yang lebih tahu. Jadi terus berada pada rasa ketahuan hingga sangat mungkin melakukan kesalahan, keteledoran, dan kecerobohan. Rasa tahu yang didominankan terus ada di ruang logika tanpa pernah menyentuh kenyataan.
Di lingkaran kecil kita belajar bersama untuk membuat pengetahuan tidak hanya hadir di ruang ilusi. Harus dipahami sebagai sarana memahami kehidupan. Merawat konsistensi niat baik. Misal begini, ada sepetak lahan kosong di belakang rumah terbengkalai. Karenanya jangan salahkan semak belukar menguasai. Timbul niat baik untuk pengelolaan dengan ilmu perkebunan dasar. Tapi semua itu tidak akan jadi gerakan kalau tidak terpatri di hati untuk bergerak memulai. Nasib lahan kosong tidak berubah hanya dengan pandangan baik dan keilmuaannya.
Kita akan fokus pada belajar bersama bagaimana memulai kebaikan yang nyata. Keluar dari ilusi. Melakukan kebaikan untuk sekitar. Tanaman moral yang langsung bisa dirasakan. Moralitas bukanlah sesuatu yang instan, harus ditanam, diwarat, dipupuk, dan ditumbuhkan dengan konsisten. Bagaimana, darimana, dan kapan memulainya? Melingkar bersama memohon kepada Allah dan berusaha mencari, agar Allah perkenankan jumpa pada jawaban.








