Yogyakarta (29/11/2025). Pembukaan acara Maiyah Lingkar Mahasiswa (MLM) Camp Batch 1 yang diselenggarakan oleh Maiyah Lingkar Mahasiswa dimulai pukul 19.30 WIB bertempat di rumah Joglo Bapak Janarko RT 10/RW 3 Padukuhan Ngasemayu, Kalurahan Salam, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul, DIY.
Dengan tema “Masa Depan Dunia Pertanian: Menata Visi Transformatif Ala Gen-Z”, MLM Camp berlangsung selama 6 hari di Padukuhan Ngasemayu, mulai dari 29 Nov 2025 -4 Desember 2025 dan tanggal 5 Desember akan dilanjutkan bergerak ke Jombang untuk menghadiri pengajian Padhangmbulan.
Acara MLM Camp terbuka untuk umum baik pemuda maupun mahasiswa dengan menawarkan konsep belajar langsung kepada petani dan tinggal bersama (live in) di rumah petani (induk semang). Sebagai induk semang, ada Bapak. Sagio, Bapak Suradi dan Ibu Sariti, Bapak Slamet, Bapak Siswanto, Ibu Sakiem, Bapak Supriono, Bapak Mujihajo, Ibu Partinu, dan Bapak Wagimin. Dengan metode camp dan live in ini diharapkan peserta mampu mendapatkan insight baru dan pemahaman yang luas baik teoretis maupun praktis.
Para peserta sendiri berjumlah 24 orang yang datang dari berbagai daerah: Pontianak, Lombok, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DIY.
Pembukaan acara dihadiri para peserta, mahasiswa KKN UNY, karangtaruna, induk semang, tokoh masyarakat, dan pemerintah Kalurahan Salam. Ada Ibu Yeni Pratiwi (Ibu Dukuh ngasemayu), Ibu-ibu PKK, Bapak Subarno, Bapak Sularisto (Kepala RT:10), Bapak Rian (Kepala RW: 3), dan Bapak Asmuni (Lurah Salam). Turut hadir juga jamaah Maiyah, serta Marja’ Maiyah yaitu Mbah Adil Amrullah (Mbah Dil).
Sebelum sesi penyerahan peserta secara simbolik, acara dimulai dengan pembukaan dari MC: Adnan (KKN UNY), dilanjut pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Qussairiy, pengenalan MLM oleh Chaerul Rahman dan sesi sambutan-sambutan. Dalam sambutannya, Ibu Dukuh menyampaikan keprihatinannya terhadap generasi muda yang enggan bertani dan memilih pergi keluar kota untuk bekerja. Ibu Dukuh mengapresiasi kegiatan MLM Camp ini karena baru pertama kali terjadi di Ngasemayu dengan konsep tinggal 1 rumah bersama petani, dan membantu kegiatan petani baik ngarit, nyangkul, berkebun dan lainnya sama-sama simbiosis mutualisme.
Beliau juga berpesan kepada para peserta untuk menjaga dan menyesuaikan dengan nilai dan adat yang ada di masyarakat.
Sementara itu, Bapak Subarno, sebagai tokoh masyarakat, berharap adanya kegiatan ini “bisa memberikan efek domino yang nantinya bisa membawa perubahan baik bagi Ngasemayu”. Beliau juga adalah tokoh yang membersamai Maiyah lingkar mahasiswa dalam mencari induk semang dan membantu bahkan menjadikan rumahnya sendiri sebagai tempat para tamu dan penggiat MLM Camp.
Sambutan berikutnya oleh Bapak Asmuni selaku pejabat pemerintahan. Beliau menyampaikan, “Ojo ngadi-adi” (jangan manja, jangan memilih-milih). Ini merupakan pesan penting bagi peserta mengingat induk semang adalah masyarakat desa bukan orang kota sebagaimana para peserta tinggal. Jadi harus apa adanya, menyesuaikan dengan kondisi induk semang.

Terakhir, sambutan dari Mbah Dil sekaligus penyerahan secara simbolik. Beliau memulai dengan cerita, “Saya dari Malang langsung ke sini (Gunungkidul) menghadiri acara ini, karena bagi saya, yang rugi bukan siapa, tapi saya yang rugi jika tidak hadir. Karena ini tentang sejarah, dan baru pertama kali di dunia. Dan ini “gila”. Tanpa ada motif apapun, dan iming-iming apapun, entah hadir karena apa atau siapa, dan sebagainya, para peserta memilih dan berani mengikuti acara ini. Luar biasa!”. Setelah itu dilanjut dengan penyerahan simbolik dengan “cangkul”.
Suasana berjalan dengan khidmat, sambil lalu perkenalan dari masing-masing peserta. Sekaligus foto bersama di sesi terakhir acara. Dilanjut penunjukan penanggung jawab dari peserta setiap kelompok, saking sayangnya induk semang kepada “anak-anaknya” para induk semang sudah pulang semua, ada satu yang masih menunggu peserta.
Acara ini diharapkan menjadi solusi dari kegelisahan para petani yang bisa dikatakan juga merupakan kegelisahan dunia: para pemuda enggan bertani, lahan banyak kosong dan terbengkalai, dan agro-input yang mahal. Padahal, pertanian adalah pangkal dari ekosistem yang ada dari situlah manusia bisa makan nasi, ubi, kacang, dan sebagainya. Salah satu pertanyaan yang mencuat adalah apakah 10 tahun ke depan petani masih ada. Maka sangat pas jika dimunculkan jargon “Bertani Atau Mati”.
(Redaksi MLM/Qussairiy)








