Tong-il Qoryah kembali menggelar rutinan Maiyahan yang telah disepakati bersama pada Sabtu malam, 20 Juni 2026. Malam tersebut masih sama hangatnya seperti rutinan yang sudah lampau, ditambah lagi suasana lebih berwarna ketika melihat antusias jamaah untuk menggali ilmu.
Diawali dengan tawashshulan bersama kemudian dilanjut diskusi, bertemakan “Gunungan Jalěr”, Danu selaku moderator telah membuka ruang terlebih dahulu sebagai tanda dimulainya diskusi.

Menurut Danu, Gunungan Jaler secara makna kata: “Gunungan” berarti sesuatu yang menjulang tinggi dan besar, apabila dalam berbagai tradisi Nusantara, Gunungan sering dimaknai sebagai simbol kehidupan, perjalanan atau suatu pengabdian. Sedangkan makna kata “jalěr” yaitu laki-laki yang diambil dari bahasa Jawa.
Maka Gunungan Jalěr bisa dikatakan sebagai simbol amanah yang dititipkan kepada seorang laki-laki selama usianya.
Dari situlah kemudian diskusi mengalir, Gunungan Jaler tidak hanya sekedar sebagai kalimat yang tersirat makna, tetapi sadar bahwa Gunungan Jalěr adalah suatu hal yang memang selalu kita bawa dalam kehidupan sehari-hari, dimanapun dan kapanpun.

Mas Imam, Jamaah Maiyah yang turut hadir malam itu menyampaikan bahwa Gunungan Jalěr merupakan bagian penting dan mungkin kodrat yang harus ada dalam diri kita. Mas Imam berpendapat bahwa gunungan itu dianalogikan sebagai masalah atau perkara yang menggunung, namun tidak hanya berhenti disitu, beliau percaya kalau gunungan itu bisa gugur apabila kita bisa selesai dengan nafsu diri sendiri.
Kemudian Pak Zaki, berpendapat hampir sama dengan jamaah lain, hanya saja gunungan itu dari bentuk kerucutnya maka dianalogikan sebagai perkara manusia yang menggebu-gebu didunia. Kerucut gunungan tersebut digambarkan sebagai puncak perjalanan seorang hamba, bahwa sebesar apapun yang dipikul maka perlu disadari kita harus kembali meng-kerucut keatas, dalam arti lain kita diperintahkan berusaha untuk mengingat kembali kepada Sang Maha dalam kondisi apapun.

Gunungan Jalěr bagian dari hidup yang memang semestinya (ada). Bukan sebagai suatu masalah, bukan pula dimaknai sebagai beban. Tetapi sebagai simbol pengabdian yang semestinya kita jalani dengan penuh hati-hati agar tidak terjerembab, juga sebagai pengingat agar bisa berperilaku presisi(Tepat) dalam hal apapun. Dari diskusi tersebut, semoga kita dianugerahi ke-istiqomahan menjalani kewajaran hidup sebagaimana yang Tuhan kehendaki. (Redaksi Tong-il Qoryah)









