Seperti biasanya, forum dibuka dengan tawashshulan yang dipimpin oleh Mas Oni, tradisi pembukaan forum Maiyah yang lazimnya diawali dengan doa sebagai bentuk penyambung batin antara jamaah yang hadir dengan para pendahulu, sekaligus sebagai ikhtiar spiritual sebelum memasuki forum diskusi. Mas Inan bertindak sebagai moderator. Mukaddimah disampaikan oleh Mas Alvian, yang mengangkat gagasan dasar bahwa menjadi manusia merupakan proses pembelajaran yang berlangsung terus-menerus dan tidak pernah tuntas pada satu titik pencapaian tertentu.
Tema forum kali ini, “Laku Ajeg”, dipantik oleh Mas Alvian dan dikaitkan dengan momentum hari lahir Mbah Nun. Istilah “ajeg” dalam konteks ini merujuk pada konsistensi menjalani suatu laku atau praktik hidup dari waktu ke waktu, tanpa terputus oleh perubahan situasi maupun tekanan zaman. Konsistensi tersebut dipandang sebagai salah satu nilai yang diteladankan Mbah Nun sejak masa mudanya hingga hari ini, dan menjadi kerangka reflektif bagi kita semua untuk menakar sejauh mana nilai tersebut telah, atau malah justru belum kita jalani dalam kehidupan masing-masing. Mas Inan membuka sesi sekaligus seabagai moderator, berbagi dengan menyampaikan bahwa perjuangan Mbah Nun tetap relevan sebagai sumber inspirasi hingga saat ini. Ia memosisikan Mbah Nun tidak semata sebagai figur guru, melainkan juga sebagai figur orang tua yang memperkenalkan konsep “segitiga cinta” kepada dirinya dan keluarganya sebagai kerangka memahami relasi antara manusia dengan sesama, dengan Rasulullah, dan dengan Allah.
Mas Agung menyampaikan pengalaman pribadinya, tumbuh tanpa figur ayah sejak kecil dan cenderung introvert pada masa mudanya. Perkenalannya dengan pemikiran Mbah Nun, terutama melalui kutipan-kutipan tentang kehidupan, ia sebut sebagai salah satu faktor yang membentuk cara pandangnya dalam menjalani kehidupan.
Dilanjut oleh Mas Humam, memberikan penjelasan konseptual atas tiga istilah yang kerap disalahpahami dalam wacana sosial: mujahadah, ijtihad, dan jihad. Ia menegaskan bahwa jihad, dalam konteks ini, tidak identik dengan peperangan, melainkan merujuk pada tindakan-tindakan kolektif berskala kecil, seperti menggerakkan masyarakat untuk membersihkan lingkungan dan menanam pohon. Mas Inan menambahkan perbedaan antara ranah pemikiran dan ranah pergerakan, dengan mencatat bahwa laku Mbah Nun tidak berhenti pada tataran wacana, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata.
Mas Deny menyampaikan riwayat perjumpaannya dengan Mbah Nun sejak sekitar tahun 1994, saat menghadiri peluncuran album Lir-Ilir bersama ibunya, dan berlanjut ketika ia mengikuti Mocopat Syafaat semasa kuliah di Yogyakarta. Dari pengalaman panjang tersebut, ia menggarisbawahi pelajaran untuk berupaya memahami pihak lain, alih-alih menuntut untuk dipahami. Mbak Tama menyampaikan bahwa laku ajeg tidak selalu berwujud ritual besar; baginya, mengirimkan Al-Fatihah untuk Mbah Nun di sela kesibukan kerja, khususnya pada saat kantor telah sepi, merupakan bentuk konsistensi personal yang ia jaga.
Mas Fahmi mengemukakan bahwa kesan pertamanya terhadap Cak Nun adalah sebagai figur yang mewakili kepentingan masyarakat kecil, termasuk dalam berbagai momen advokasi terhadap kelompok marjinal. Dari refleksi ini muncul pemaknaan atas prinsip inna ma’al-‘usri yusro — bahwa setiap kesulitan disertai kemudahan, dan kemudahan tersebut idealnya dihadapi secara kolektif, bukan ditanggung sendiri setelah masalah terjadi. Mas Zahid menambahkan pengalamannya ketika Mbah Nun berkunjung ke desanya semasa ia masih menempuh pendidikan madrasah. Ia mencatat, sikap Mbah Nun yang selalu mempersilakan siapapun dan dari latar belakang apapun boleh naik keatas panggung, sebagai contoh konkret dari sikap inklusif yang merangkul berbagai kalangan tanpa membedakan status sosial.
Mas Agus merefleksikan perjalanan komunitas yang telah berlangsung hampir sepuluh tahun. Menurutnya, apa yang semula disebut sebagai “laku ajeg” kini telah bertransformasi menjadi jalan hidup (dalan urip) yang sulit dijelaskan secara verbal. Ia mengaitkan forum ini dengan proses “perlambatan” di tengah kecenderungan dunia kontemporer yang serba cepat — sebuah pengamatan yang relevan dengan kondisi kehidupan digital saat ini, di mana ruang untuk refleksi mendalam kerap tergerus oleh laju informasi dan aktivitas. Ia menyebut proses ini sebagai “laku akhirat”, dengan penekanan bahwa nilai suatu perjalanan tidak diukur dari lama atau barunya keikutsertaan seseorang, melainkan dari kesungguhan menjalaninya. Pak Adang memaknai Cak Nun sebagai representasi dari sebuah thoriqoh atau jalan. Ia mengaitkan hal ini dengan konsep Jawa pranoto mongso, yakni keselarasan tindakan dengan ruang dan waktu, serta menyampaikan pengalamannya menjalani laku khidmah selama sembilan tahun ini. Ia menekankan bahwa meskipun komunitas ini tidak terstruktur secara formal, capaian yang dihasilkan (outcome) tetap bermakna. Ia mengutip pesan Cak Nun, “kumpulo rek sak onoke, sholawatan lan sinau bareng”, untuk menegaskan bahwa yang menjadi ukuran bukan kuantitas partisipan, melainkan kualitas cara berpikir yang dibangun secara kolektif.
Bang Zali menyampaikan bahwa dirinya belum sepenuhnya merasa mencapai kondisi ajeg, namun bersyukur atas kesempatan untuk terus berkumpul dalam forum ini. Ia mengungkapkan pengalaman personal mengenai rasa keterasingan, dan menemukan titik temu dengan pengalaman serupa yang pernah dialami Mbah Nun. Ia menilai bahwa praktik bermaiyah, atau sinau bareng, memiliki karakter lintas strata sosial, mulai dari kalangan pejabat hingga masyarakat pekerja informal. Pak Nafis menyampaikan kesan atas perjumpaannya dengan figur berkarisma seperti Mbah Nun, dan mengaitkan konsep mujahadah-ijtihad-jihad dengan gagasan Jawa pranoto mongso, yang menurutnya mencerminkan kesamaan nilai antara tradisi lokal dan ajaran yang disampaikan Mbah Nun — bahwa ilmu yang autentik bersumber dari hati, bukan semata dari nalar kognitif. Diskusi turut menyentuh dimensi skala kegiatan, pola berbagi yang informal, serta persoalan ekonomi keseharian jamaah.
Mas Zay menyampaikan keresahannya bahwa semakin sering menonton rekaman Mbah Nun di media sosial, semakin ia merasa bahwa upaya generasi saat ini belum sebanding dengan apa yang telah diperjuangkan sebelumnya. Ia mengaitkan hal ini dengan prinsip al-mutahabbina fillah — saling mencintai karena Allah — sebagai landasan untuk saling menguatkan dan mendedikasikan kebermanfaatan kepada sesama sebagai bentuk penghormatan kepada guru kita semua, dengan keyakinan bahwa kesungguhan akan selalu dibukakan jalan oleh Allah SWT. Mas Devan, anak muda yang berusia dua belas tahun, turut menyampaikan pandangannya berdasarkan cerita yang ia dengar dari lingkungan pertemanannya mengenai keteladanan Mbah Nun. Mas Salis menekankan pentingnya kesungguhan dalam menjalankan aktivitas apapun, sekecil apapun skalanya. Mas Agus merespon dengan menegaskan kembali kecintaannya terhadap sesama jamaah Maiyah dan pentingnya kebersamaan yang terus kita rawat.
Mas Inan mengajak jamaah untuk melakukan refleksi terhadap kondisi diri dan bangsa secara lebih luas. Ia mencatat bahwa di tengah kebebasan menyampaikan pendapat, termasuk melalui aksi protes, penting untuk diingat bahwa kepemimpinan yang berjalan saat ini merupakan konsekuensi dari pilihan kolektif masyarakat sendiri. Atas dasar itu, ia mengajak jamaah untuk turut mendoakan agar para pemimpin diberikan tuntunan ke arah kebijakan yang lebih baik.
Mas Humam kembali menyampaikan pandangannya, mengapresiasi keberanian Mas Devan yang meski berusia muda turut berpartisipasi aktif dalam forum. Ia kemudian mengaitkan pembahasan dengan kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, khususnya mengenai kedermawanan Nabi Ibrahim yang tercatat pernah menyembelih seribu ekor kambing dan tiga ratus ekor unta, hingga muncul pernyataan yang kelak menjadi ujian besar baginya, yaitu kesediaannya untuk mengorbankan anaknya sendiri bagi Allah SWT apabila diminta. Pernyataan tersebut kemudian benar-benar diuji ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra semata wayangnya. Bertepatan dengan mendekatnya Hari Tarwiyah, Mas Humam menguraikan dialog antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, yang menggambarkan penerimaan Nabi Ismail atas perintah Allah dengan penuh ketabahan, tanpa penolakan, sebagai representasi kepasrahan total kepada kehendak Ilahi. Dari kisah tersebut, diskusi bergeser pada tema pendidikan keluarga. Bahwa lingkungan pendidikan terbaik adalah keluarga, dan bahwa perubahan pada level bangsa bermula dari perubahan pada level unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga. Dialog-dialog kecil antara orang tua dan anak dipandang sebagai fondasi penting yang membentuk karakter anak di kemudian hari, sehingga keluarga dapat disebut sebagai madrasah pertama bagi setiap individu.
Mas Inan sekalgius moderator menutup forum sinau bareng dengan doa “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur”, memohon negeri yang baik dibawah naungan ampunan Allah. Sebagai catatan penutup, ditekankan bahwa laku keris atau laku pusaka bukan terletak pada objek yang disimpan, melainkan pada konsistensi (istiqomah) menjalani prosesnya. Bahwa yang dicari bukanlah kelengkapan simbolik semata, melainkan keutuhan dalam menjalani proses hidup secara benar dan bertanggung jawab.








