Setelah selesai melaksanakan tawashshulan, muqaddimah bertema Mudik ke Fitrah Indonesia pun dijabarkan oleh salah satu penggiat masyarakat Maiyah Cirrebes.
Setiap manusia pasti memiliki kerinduan. Namun, mengapa manusia berbondong-bondong begitu bersemangat untuk bertemu keluarga ketika Idul Fitri? Apakah di luar Idul Fitri mereka tidak memiliki semangat yang sama? Lalu, apakah Idul Fitri itu sendiri yang menjadi sebabnya, ataukah karena ledakan nilai-nilai puasa yang menerangi cahaya kerinduan dalam hati?
Pada umumnya, masyarakat mengatakan bahwa Idul Fitri adalah puncak kemenangan. Akan tetapi, jika dilihat dari sudut pandang lain, Idul Fitri justru merupakan awal dari proses pengulangan, bukan puncak pencapaian.
Dalam bahasa Arab, terdapat beberapa lafaz yang bermakna “kembali”, seperti رجع , تاب, dan عاد. Lafaz رجع bermakna kembali ke asal, misalnya kembali ke rumah atau seperti ungkapan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Sementara itu, تاب memiliki makna kembali yang bersifat spiritual, yaitu pengabdian vertikal kepada Allah, yang kemudian melahirkan kata taubat. Adapun kata ‘id dalam Idul Fitri berasal dari عاد, yang berarti pengulangan. Kata ini serumpun dengan i’adah, seperti dalam istilah salat i’adah, yaitu salat yang diulang kembali karena alasan tertentu.
Jika Idul Fitri dianggap sebagai puncak, mengapa ia tidak terjadi sekali saja menjelang akhir kehidupan manusia, misalnya sebelum kiamat? Bukankah Idul Fitri yang dirayakan setiap tahun justru merupakan awal dari proses pengulangan manusia untuk kembali kepada fitrahnya—setelah ditempa, dididik, dan digembleng melalui ibadah puasa selama bulan Ramadan?
Kemudian muncul pertanyaan lain: mengapa setelah Ramadan manusia dianggap kembali fitrah? Jika dilihat dari makna puasa itu sendiri, yaitu menahan, berarti manusia sedang diajarkan untuk memahami batas-batas—mana yang boleh dan mana yang tidak. Ketika manusia telah memahami batas-batas tersebut, mungkin di situlah ia berada dalam keadaan fitrah. Sebab, dari batasan-batasan itulah manusia dapat berkembang dengan baik, benar, dan indah, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap sesama.
Salah satu jamaah kemudian merespons dengan pertanyaan mengenai kondisi masyarakat, khususnya para pemuda di lingkungannya. Ia membandingkan antara zaman dahulu dan sekarang. Pada masa tradisional, pemuda menyambut Idul Fitri dengan menantikan gema takbir. Namun, pada masa modern, banyak pemuda lebih mengedepankan kemegahan—sound system besar, lampu-lampu mewah—hingga menjadi ajang adu gengsi antarkelompok.
Perbedaan antara masyarakat tradisional dan modern pun tampak jelas, baik dari sisi bungkus maupun isi, dari software hingga hardware-nya. Namun, dalam khazanah Maiyah, kita tidak serta-merta memutuskan mana yang lebih baik di antara keduanya. Tradisional maupun modern sama-sama memiliki sisi positif dan negatif. Yang perlu dicari adalah batasannya: memilah mana yang layak dijalankan dan mana yang harus ditahan.
Persoalan kembali muncul ketika banyak batasan yang dilanggar oleh masyarakat. Siapa yang seharusnya menghentikan atau mengendalikannya? Apakah pemerintah, kepolisian, atau ulama? Lalu, bagaimana jika masyarakat sudah tidak lagi menaruh kepercayaan kepada semuanya?
Menanggapi hal tersebut, salah satu penggiat Maiyah Cirrebes mengutarakan pola pikir Mbah Nun dalam konteks pemilu, tentang perbedaan antara pemilih tradisional dan pemilih modern. Pemilih tradisional biasanya terikat pada budaya manut atau setia pada tokoh tertentu secara turun-temurun. Sementara itu, pemilih modern cenderung memilih berdasarkan selera, tanpa melihat secara utuh profil calon. Di antara keduanya, ada pula pemilih yang kebingungan—mereka ingin bersungguh-sungguh memahami calon secara menyeluruh, tetapi tidak memiliki akses informasi yang memadai.
Oleh karena itu, Mbah Nun mengingatkan jamaah Maiyah untuk menjadi manusia yang berdaulat atas dirinya sendiri, dengan kesungguhan dalam menjalani setiap sisi kehidupan. Kedaulatan tersebut hanya dapat dicapai dengan memahami batasan-batasan yang harus dicari, dijaga, dan dipegang teguh dengan penuh kesungguhan. (Redaksi CirRebes)









